Jokowi Bolehkan Belajar Tatap Muka, Ketua Komisi X Minta Sekolah Jadi Zona Aman Covid-19

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjanjikan segera membuka sekolah jika proses vaksinasi Covid-19 berjalan lancar. Komisi X DPR pun meminta agar sekolah menjadi zona aman Covid-19.

“Presiden Jokowi memastikan jika sekolah akan segera dibuka jika vaksinasi Covid-19 berjalan lancar. Kami meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek) menjadikan sekolah sebagai zona aman Covid-19 baik dari sisi kesehatan maupun sebagai ujung tombak kampanye hidup dengan kebiasaan baru (New Normal) di era pandemi,” ujar Ketua Komisi X Syaiful Huda, Jumat, (20/8/2021).

Presiden Jokowi sebelumnya mempersilakan sekolah untuk menggelar belajar tatap muka jika vaksinasi Covid-19 berjalan lancar. Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat berdialog dengan sejumlah pelajar, guru, dan kepala sekolah dari berbagai provinsi secara virtual.

Dialog ini dilakukan Jokowi di sela kunjungannya ke SMP Negeri Mejayan, Madiun, Jawa Timur, Kamis 19 Agustus 2021.

Huda menjelaskan pembukaan sekolah layak segera dilakukan mengingat kian banyaknya tingkat vaksinasi guru dan siswa. Selain itu tren penurunan kasus harian maupun kasus aktif juga terus terjadi.

“Kami berharap pembukaan sekolah secara terbatas yang dikombinasikan dengan pembelajaran online bisa mengembalikan ikatan emosional dari peserta didik atas lingkungan sekolah mereka. Pembukaan sekolah ini juga bisa membuat anak-anak terbiasa untuk hidup situasi new normal,” katanya.

Dia mengungkapkan jumlah anak terpapar Covid-19 di Indonesia menjadi salah satu tertinggi di dunia. Menurutnya salah satu faktor pemicu tingginya kasus positif bagi anak Indonesia adalah lemahnya pengawasan dari orang tua.

Dengan sistem pembelajaran jarak jauh ini, banyak ruang dan waktu anak yang terbuang karena tidak optimalnya sistem tersebut.

“Akibatnya anak-anak sering berkumpul dan bermain ke luar rumah tanpa pengawasan ketat termasuk apakah mereka melakukan protokol Kesehatan dengan memakai masker dan menjaga jarak saat bermain di luar rumah,” katanya.

Dia menilai dengan pembukaan sekolah atau penerapan pembelajaran tatap muka maka anak justru terkontrol dengan baik. Mereka di sekolah bisa berinteraksi dan mendapatkan bimbingan langsung dengan guru maupun teman tentang bagaimana harus beradaptasi dengan kebiasaan baru di kala pandemi.

“Para siswa pun bisa mempraktikkan secara langsung bagaimana harus memakai masker dengan benar, bagaimana harus menjaga jarak, bagaimana membiasakan diri untuk cuci tangan dan praktek-praktek baik lainnya,” katanya.

Kemendikbud Buat Terobosan

Suasana kegiatan belajar tatap muka di SDN Pondok Labu 14 Pagi di Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/6/2021). Kegiatan belajar tatap muka masih masih menerapkan pola 50 persen siswa belajar di rumah secara online untuk setiap kelas mengantisipasi penyebaran virus covid-19. (merdeka.com/Arie Basuki)
Suasana kegiatan belajar tatap muka di SDN Pondok Labu 14 Pagi di Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (4/6/2021). Kegiatan belajar tatap muka masih masih menerapkan pola 50 persen siswa belajar di rumah secara online untuk setiap kelas mengantisipasi penyebaran virus covid-19. (merdeka.com/Arie Basuki)

Kendati demikian, kata Huda, upaya mewujudkan sekolah sebagai zona aman Covid-19 bagi anak harus dipersiapkan matang. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek) harus membuat langkah terobosan untuk menyiapkan status zona aman Covid-19 bagi anak.

“Mulai dari skenario berangkat dan pulang sekolah, pembatasan jam sekolah, pembatasan ruang kelas, daftar item sarana-prasana yang harus disiapkan sekolah hingga tuntasnya vaksinasi guru dan tenaga kependidikan,” katanya.

Politisi PKB ini juga menilai sudah saatnya ada perubahan cara pandang terhadap siswa sekolah yang selama ini kerap dipandang sebagai objek dalam program penanganan Covid-19.

Menurutnya, siswa harus harus dipandang sebagai subjek yang berperan aktif dalam penanggulangan wabah Covid-19. Mereka bisa menjadi agen perubahan untuk mengkampanyekan bahaya Covid-19, cara menerapkan protokol Kesehatan, hingga menyosialisasikan manfaat vaksin.

“Apalagi saat ini pemerintah sudah menyatakan remaja usia 12-18 tahun yang ini rata-rata usia sekolah juga bakal menjadi sasaran vaksinasi Covid-19. Tentu para siswa bisa dijadikan sebagai duta kampanyenya,” pungkasnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel