Jokowi: "Maju Harus Untuk Menang"

Walikota Solo Joko Widodo. Foto: Yudhi Prasetyo.


Walikota Solo, Joko Widodo, menemui Yahoo! Indonesia Sabtu pagi, 4 Februari 2012 di Hotel Sultan, Jakarta. Malam sebelumnya, Jokowi terjebak macet selama lima jam dari bandara Soekarno menuju hotel. "Di Solo dalam sehari saya bisa pergi ke banyak tempat, di Jakarta cuma bisa ke satu dua tempat saja," kata dia.

Bersediakah Jokowi mencalonkan diri untuk memimpin Jakarta yang semrawut ini? Berikut petikan wawancaranya.

Anda berminat mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI Jakarta?

Saya cerita dulu. Waktu baru 6 bulan jadi walikota, saya memilih ajudan yang secara performa ganteng dan bagus. Eh malah kalau ada tamu, yang disalamin dia dulu. (tertawa) Malah dia yang dikira walikota, saya nggak. Artinya saya nggak punya potongan jadi walikota, apalagi jadi gubernur.

Tapi sudah mengkalkulasi kemungkinan untuk jadi Gubernur?

Ya, dalam setiap keputusan harus ada kalkulasi matang. Semua harus dihitung detil, data harus dikuasai benar, lapangannya dikuasai benar. Sehingga saat memutuskan, "ya, saya maju", saya bukan maju untuk kalah. Kerja harus seperti itu, maju ya untuk menang.

Sampai sekarang perhitungannya bagaimana?

Saya belum menghitung. Mendaftar saja tidak.

Tapi ada banyak dukungan?
Ya anehnya saya nggak pernah daftar tapi diikutkan survey terus. Terakhir saya baca kalau saya di head-to-headkan dengan Pak Gubernur (Foke). Popularitas saya naik, 38,8 persen vs Foke 34 persen. Kaget juga saya.

Tapi ya beda soal kalau nanti saya ditugaskan oleh partai.  Kalau nanti PDIP menugaskan, hmm... Saya akan kalkulasi kemungkinannya, tetap harus ngukur. Maju harus untuk menang.



Baca juga:
Galeri foto - Jawaban Jokowi mengenai permasalahan kota
Konser rock di Solo - Solo jadi woodstock Indonesia

Memuat...