Jokowi: Medsos Tak Jarang Membawa Racun yang Timbulkan Perpecahan

Fikri Halim, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo menyebutkan bahwa tantangan kehidupan beragama makin menantang. Arus informasi lewat hadirnya media sosial tidak bisa lagi dianggap remeh. Menurut Jokowi, media sosial justru terkadang banyak membawa pengaruh buruk bagi umat beragama.

"Kehadiran media sosial dalam mewarnai kehidupan beragama dewasa ini tidak bisa diabaikan. Tidak jarang media sosial membawa toxic, membawa racun seperti hoaks dan ujaran-ujaran kebencian yang justru menimbulkan perpecahan," kata Jokowi saat hadir pada rapat koordinasi nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) secara virtual, Selasa, 3 November 2020.

Jokowi pun menekankan, moderasi beragama sebagai pilihan melawan gelombang kelompok atau paham ekstrimisme yang juga terjadi di berbagai belahan dunia. Di Indonesia sendiri, kata Kepala Negara, bangsa Indonesia tentu saja memahami dan menganut ideologi Pancasila sebagai dasar negara.

Baca juga: Anies: APBDP DKI Jakarta 2020 Disesuaikan Jadi Rp63,23 Triliun

Di sisi lain, lanjut dia, FKUB adalah wadah yang menjadi miniatur kebhinekaan Indonesia. FKUB hendaknya, lanjut Jokowi, menjadi tenda bangsa yang mengayomi semua umat beragama dari beragam kelompok.

“Komitmen ini harus tertanam kuat dalam kesadaran para tokoh dan aktivis FKUB di semua tingkatan. Pemerintah mendukung agar peran-peran FKUB semakin optimal dalam menyemai nilai-nilai moderasi beragama," ujarnya.

Jokowi meyakini, dinamika sosial dan politik yang terjadi di Indonesia tidak membawa antar anak bangsa ke arah perpecahan. Bagi dia, kerukunan adalah menjadi pilihan bersama agar saling menghormati dan tidak memberi ruang bagi tumbuhnya saling curiga.

"Kerukunan antar umat beragama tidak muncul secara tiba-tiba. Kerukunan itu merupakan hasil dari kesadaran bersama bahwa perpecahan dan egoisme golongan akan membawa kehancuran," ujar Jokowi.

Untuk itu, lanjut dia, dibutuhkan figur dan tokoh-tokoh agama yang mempersatukan, merangkul, serta piawai melunakkan perbedaan pilihan dan paham menjadi kekuatan. "Sehingga umat tidak terjebak pada pandangan-pandangan yang ekstrem dan melegalkan kekerasan," kata Jokowi.

Kepala Negara berharap agar pertemuan penting FKUB tersebut dapat melahirkan rumusan-rumusan visioner dan rencana-rencana program strategis, untuk meneguhkan nilai-nilai moderasi dan toleransi beragama. Serta, menjadi ajang dialog atas berbagai permasalahan yang masih mengganjal dan menemukan jalan keluar yang konstruktif bagi kerukunan antarumat beragama di Indonesia.