Jokowi Minta BMKG Tingkatkan Manajemen Penanggulangan dan Adaptasi Bencana

·Bacaan 1 menit
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan keterangan pers tentang pengembangan dan pembuatan vaksin COVID-19 harus ikuti prosedur dan kaidah ilmiah di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat (12/3/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meningkatkan manajemen penanggulangan dan adaptasi bencana. Pasalnya, kata dia, jumlah bencana hidrometeorologi di Indonesia meningkat setiap tahunnya.

"Tingkatkan terus kapasitas manajemen penanggulangan dan adaptasi bencana terutama di tingkat daerah. Dari tingkat kelurahan desa hingga provinsi, harus ada desain manajemen yang jelas yang melibatkan pemerintah, swasta dan masyarakat," jelas Jokowi dalam acara Rakorbangnas BMKG, Kamis (29/7/2021).

Dia ingin pemerintah, swasta, dan masyarakat turut dilibatkan dalam menajemen sejak fase pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana. Hal ini agar mereka siap apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.

"Manajemen ini juga perlu disimulasi dan dilatih sehingga ketika terjadi bencana kita sudah sangat siap langsung bekerja dengan cepat," katanya.

Selain itu, Jokowi meminta BMKG melakukan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat, khususya di wilayah rawan bencana. Dia menilai kesiagaan dan ketangguhan masyarakat atas ancaman bencana perlu terus ditingkatkan.

"Budaya kesiagaan harus melembaga dalam keseharian masyarakat. Manfaatkan juga kearifan lokal yang sudah ada di masyarakat untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana," tutur Jokowi.

Risiko Bencana

Sebelumnya, Jokowi mengakui bahwa Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana geohidrometeorologi tinggi. Bahkan, kata dia, Indonesia juga mengalami multibencana dalam waktu bersamaan.

Dia mencatat gemba bumi terjadi 5.000 sampai 6.000 kali dalam satu tahun pada kurun waktu 2008-2016. Pada 2017, jumlah gempa bumi meningkat menjadi 7.169 kali dalam dan naik signifikan lebih dari 11.500 kali di 2019.

Hal yang sama juga terjadi pada cuaca ekstrem dan siklon tropis. Jokowi menyebut frekuensi, durasi, dan intensitas cuaca ekstrem dan siklon tropis mengalami peningkatan.

"Periode ulang terjadinya El Nino atau El Nino pada periode 1981-2020 cenderung semakin cepat 2 sampai dengan 3 tahunan, dibandingkan periode 1950-1980 yang berkisar lima sampai dengan tujuh tahunan," ujar Jokowi.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel