Jokowi Minta Ekspor Makin Ditingkatkan, Bukan Cuma Seremonial

Syahrul Ansyari, Eduward Ambarita
·Bacaan 1 menit

VIVA - Presiden Jokowi menekankan ekspor perdagangan perlu terus didorong untuk meningkatkan ekonomi Indonesia. Menurut Jokowi, acara pelepasan ekspor ke pasar global secara virtual yang baru saja disaksikannya tidak sekadar seremonial.

"Saya mengingatkan kegiatan pelepasan ekspor tidak hanya seremonial tapi jadi momentum berkelanjutan menghasilkan nilai ekspor yang terus meningkat," kata Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat 4 Desember 2020.

Jokowi mengingatkan, peningkatan nilai ekspor tidak hanya membuka lapangan kerja. Tapi jauh dari itu, mampu menghasilkan devisa dan mengurangi defisit transaksi berjalan yang selama ini masih menjadi persoalan.

Baca juga: Jokowi: Kita Dihadapkan pada Besarnya Jumlah Pengangguran

Di sisi lain, masa pandemi COVID-19 saat ini, Kepala Negara menyadari nilai ekspor mengalami penurunan. Peringatan Jokowi juga termasuk produksi ekspor Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara lain.

"Namun kita tidak boleh menyerah. Kita harus melihat lebih jeli, melihat peluang pasar ekspor yang masih terbuka lebar di negara-negara yang juga sekarang ini sedang mengalami pandemi," kata Presiden.

"Potensi kita masih sangat besar dari sisi keragaman produk, komoditi, dari sisi kreativitas dan kualitas, dari sisi volume dan tujuan negara ekspor. Kuncinya proaktif dan jangan pasif," sambung Jokowi.

Pada kesempatan itu, Jokowi pun cukup senang mendapatkan laporan bahwa ekspor Indonesia periode Januari-Oktober 2020 surplus di angka US$17,07 miliar. Nilai itu dinilainya masih belum memuaskan, banyak ditopang oleh komoditas garmen, kopi, furnitur, perikanan, dan sektor makanan-minuman.

"Kita tidak boleh cepat puas pada capaian saat ini. Karena potensi pasar ekspor yang belum tergarap masih banyak, masih sangat besar," tutur Jokowi.

Sekadar informasi, acara pelepasan produk eskpor kali ini diikuti 133 perusahaan. Nilainya mencapai US$1,64 miliar atau setara Rp23,75 triliun dengan tujuan berbagai negara seperti Jepang, Hong Kong, dan India. (art)