Jokowi Minta Pengelolaan Hutan Pakai Teknologi Digital

Raden Jihad Akbar, Cahyo Edi (Yogyakarta)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo memberikan arahan di Rapat Senat Terbuka Fakultas Kehutanan UGM, Jumat 23 Oktober 2020 secara daring atau virtual. Rapat Senat Terbuka ini diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis ke 57, Fakultas Kehutanan UGM.

Dalam arahannya, Jokowi membahas mengenai hubungan antara masyarakat dan hutan dalam era terkini. Jokowi menyebut telah terjadi evolusi peran dan kontribusi antara masyarakat dan hutan.

Jokowi menuturkan, ada 4 evolusi peran dan kontribusi antara masyarakat dan hutan. Evolusi pertama pada masyarakat tradisional, hutan menjadi kebutuhan dasar masyarakat sekitar mulai sebagai makanan dan obat-obatan.

Baca juga: Setahun Selesai Dibangun, Stadion Ikon Papua Akhirnya Diresmikan

"Yang kedua, pada masyarakat agraris hutan menjadi area perluasan untuk pertanian hingga peternakan. Yang ketiga pada masyarakat industri hutan berperan sebagai sumber bahan baku industri," ujar Jokowi.

"Dan yang keempat pada masyarakat pascaindustri hutan berperan sebagai basis pelayanan masyarakat terutama sumber air bersih, oksigen, dan biodiversitas," ujarnya.

Jokowi menuturkan, saat ini Indonesia tengah memasuki era tarik menarik antara hutan dalam konsep agraris, industrial dan pascaindustri.

"Kita saat ini memasuki era tarik-menarik yang berkepanjangan antara hutan dalam konsep agraris, konsep industrial, dan konsep pasca industri," ucap Jokowi.

Jokowi memaparkan agrarisasi dan industrialisasi berbasis hutan merupakan sektor ekonomi yang penting. Mulai dari industri kertas, rayon, minyak sawit, dan lain sebagainya.

"Tetapi konsep agrarisasi dan industrialisasi tersebut sering dikontradiksikan dengan konsep pascaindustri yang cenderung konservasi dan konservatif," ujar alumni Fakultas Kehutanan UGM ini.

Jokowi mengingatkan jika kondisi ini menjadi tugas UGM untuk mempelajari dan mengembangkan konsep baru. Jokowi menyebut salah satu solusi yang patut diperhitungkan adalah pemanfaatan teknologi digital.

"Salah satu solusi yang patut diperhitungkan adalah pemanfaatan teknologi digital dengan mengembangkan precision forestry. Adalah teknologi yang mampu menghitung secara cermat dan tepat dengan penggunaan teknologi digital dan komputasi dengan mengembangkan dan memanfaatkan big data analytics dan pengembangan kecerdasan buatan," ujar Jokowi.

Pengembangan teknologi ini, lanjutnya, adalah semangat gabungan antara penggunaan hutan dalam konsep agraris dan industrial tanpa mengorbankan pascaindustri.

"Saya yakin Fakultas Kehutanan UGM mampu mengembangkan inovasi-inovasi di era disrupsi sekarang ini dan membajak disrupsi untuk lompatan kemajuan perhutanan Indonesia," kata Jokowi.