Jokowi Minta Perguruan Tinggi Tinggalkan Kurikulum yang Kaku

Bayu Nugraha, Eduward Ambarita
·Bacaan 1 menit

VIVA – Presiden Jokowi menekankan pentingnya relaksasi di dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi. Menurut dia, era kekinian telah banyak memunculkan paradigma baru sehingga kurikulum belajar pun perlu adaptasi, tidak monoton.

"Perguruan tinggi perlu merelaksasi kurikulum dari yang kaku menjadi fleksibel. Membuka diri terhadap paradigma-paradigma baru, terhadap cara-cara yang lebih responsif dari mono menjadi multi, dari mono menjadi inter, bahkan transdisipliner," kata Jokowi saat peluncuran Kebijakan Merdeka Belajar Episode 6, Selasa, 3 November 2020.

Khusus di masa pandemi, kata Kepala Negara, harusnya menjadi momentum memperbaiki ekosistem pendidikan nasional Indonesia. Jokowi menyebut, sejumlah program mengenai KPI (Key Performance Indicator) alat ukur penilaian kinerja tenaga pengajar, program prioritas pendidikan tinggi, kebijakan alokasi anggaran, infrastruktur dan SOP perlu segera dirumuskan.

“Dari berorientasi theory building menjadi problem solving bahkan impact making. Kita harus siap menjalani standar normalitas baru,” kata dia.

“Perguruan tinggi yang baik adalah yang membangun ekosistem merdeka belajar dan memanfaatkan materi dan media belajar yang terbuka luas. Standar normalitas baru tersebut harus dirumuskan melalui berbagai kebijakan,” sambungnya.

Di abad serba digital ini, menurut Jokowi, berbagai riset dan pengembangan teknologi di bidang semestinya mendapat prioritas. Kemajuan teknologi seperti big data analytic, dan artifical intelligence dapat diaplikasikan di berbagai aspek kehidupan. Perguruan tinggi harus berlomba mengembangkan inovasi digital yang tujuan akhirnya bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa.

"Misal dimanfaatkan untuk pengembangan kemandirian pangan, kemandirian energi, dan pengembangan kewirausahaan UMKM di berbagai sektor," ucap Jokowi. (ase)

Baca juga: Jokowi: Medsos Tak Jarang Membawa Racun yang Timbulkan Perpecahan