Jokowi Nekat, Komandan Paspampres Deg-degan

·Bacaan 3 menit

VIVA – Keputusan Presiden Joko Widodo untuk tetap bertolak ke Kabul, Afghanistan walau dengan rentetan bom yang menelan korban jiwa, membuat rombongan pun dihantui ketakutan. Mendarat di Bandara Internasional Hamid Karzai, adalah moment-moment yang mendebarkan.

Jokowi banyak bercerita dalam buku 'Jokowi: Menuju Cahaya' tulisan Alberthiene Endah, bagaimana ketakutan menyelimuti rombonganya setiba di Afghanistan.

"Ada hal menggelikan saat itu. Rombongan saya rupanya dicekam ketegangan hebat. Rasa takut diserang membuat banyak diantara kami menggigil," kata Jokowi dalam buku itu, dikutip VIVA, Selasa 24 Agustus 2021.

Cuaca memang sedang dingin, lantaran di Kabul sedang turun salju. Selain itu, rentetan aksi bom beberapa hari dan beberapa jam sebelum mendarat, mengadu nyali rombongan Presiden Jokowi di negara yang telah berkonflik puluhan tahun tersebut.

Sangat beralasan ketakutan itu menyelimuti rombongan Kepresidenan. Pertama, bom bunuh diri dengan korban tewas 103 orang terjadi delapan hari sebelum Jokowi tiba. Dua hari sebelumnya, bom juga meledak dengan korban tewas 20 orang. Lima orang tewas, dua jam sebelum mendarat.

Sementara keamanan Kepala Negara tentu mutlak diberikan. Tetapi di tengah kondisi Afghanistan seperti itu, Komandan Paspampres Mayjen Suhartono yang ikut dalam rombongan dibuat kelimpungan dengan prosedur keamanan Presiden di Afghanistan.

Utusan pemerintah Afghanistan menyampaikan jika fasilitas keamanan untuk Jokowi selama berada di Afghanistan seperti tank anti peluru dan rudal secara mendadak diubah menjadi kendaraan biasa. Bahkan Jokowi tidak mengenakan rompi anti peluru. Wajar, situasi ini membuat Paspampres yang mengawal Jokowi deg-degan, rombongan dihampiri ketakutan, tapi uniknya ada kejadian lucu.

"Saking tegangnya, Teten Masduki sampai tak sadar bahwa ia masih menyelubungi tubuhnya dengan selimut pesawat yang ia kenakan sejak berada di dalam pesawat," kata Jokowi.

Di tengah bayang-bayang aksi bom, melawan berbagai ketakutan, akhirnya rombongan Presiden Jokowi tiba di Istana Kepresidenan dan disambut Presiden Ashraf Ghani. Jokowi mengutarakan, rasa senang dan bahagianya Ghani melihat kedatangan mereka.

"Begitu bahagianya Ashraf Ghani atas kedatangan saya hingga ia memberikan saya penghargaan, Medal of Ghazi Amanullah,".

Sebuah medali yang diberikan oleh Afghanistan, atas keteguhan hati Presiden Jokowi untuk bertandang ke sana. Terutama dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara, juga menyangkut upaya perdamaian.

Perdamaian di Afghanistan, kata Jokowi, adalah harapan Indonesia termasuk dengan kehadiran ke negara itu. Mengingat sudah banyak korban dan dampak buruk yang didapatkan dari konflik berkepanjangan ini.

"Kepergian saya ke sana menciptakan pemberitaan yang heboh karena saya dianggap nekat. Tapi itu ada alasannya. Saya ingin tunjukkan pada dunia bahwa niat menuju perdamaian jangan dihentikan sungguh pun jalan menuju ke cita-cita itu tidak ringan,".

Berbagai rangkaian acara di Istana Kepresidenan, dilakukan dalam kondisi yang aman. Tidak seperti beberapa hari sebelumnya atau beberapa jam lalu, yang terjadi rentetan aksi bom yang menganggu keselamatan jiwa seorang Kepala Negara, Jokowi.

"Demi perdamaian saya berani mengarungi perjalanan menuju negeri yang sarat dengan risiko serangan. Alhamdulillah kami semua selamat. Saya selalu percaya pada perlindungan Allah di atas niat yang baik," katanya.

Pesawat BBJ Kepresidenan RI akhirnya lepas landas, meninggalkan Afghanistan untuk kembali ke Tanah Air. Sampai kemudian perjalanan udara itu dianggap sudah aman dari ancaman, sujud syukur rombongan di atas pesawat itu, serasa mengakhiri ketegangan selama kunjungan kenegaraan yang penuh risiko tersebut.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung dalam cuitan di akun twitternya @pramonoanung saat itu, memposting Menlu Retno Marsudi dan Komandan Paspampres saat itu Mayjen TNI Suhartono, sujud syukur usai rombongan meninggalkan Afghanistan.

"Bu Menlu & DanPaspampres sujud syukur stlh memasuki pesawat #AlhamdulillahSdhPulang," cuit Pramono pada 30 Januari 2018 itu.

Seperti diketahui, Presiden RI Joko Widodo menjadi Presiden RI kedua yang menginjakkan kakinya di Afghanistan. Setelah sebelumnya Presiden Soekarno sempat ke negara tersebut tahun 1961.

Namun, setelah keputusan Presiden AS Joe Biden untuk menarik pasukannya di Afghanistan, membuat situasi politik di negara itu berubah 180 derajat. Kelompok Taliban, kini telah menguasai Kabul, Ibu Kota Afghanistan termasuk Istana Kepresidenan.

Sementara ribuan masyarakat panik. Berebut keluar negara itu. Hingga nekat untuk menyerbu bandara agar bisa diangkut. Bahkan dalam video yang banyak beredar, terlihat beberapa korban sampai jatuh dari pesawat karena nekat naik. Sejauh ini, 20 orang dilaporkan tewas terkait insiden di Bandara Kabul.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel