Jokowi: Saya Biasa Disebut Gubernur Ndeso  

TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memiliki konsep sendiri tentang pemimpin Indonesia masa depan. Menurut dia, selain adil, seorang pemimpin harus memiliki rekam jejak yang jelas dan bisa memposisikan serta membuat perbedaan dengan negara-negara lain. »Di luar syarat-syarat itu, pemimpin zaman sekarang harus tahan banting,” kata Jokowi dalam ceramah di Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Kamis, 11 April 2013.

Jokowi mengaku sudah biasa dikritik oleh orang-orang di media sosial, seperti Twitter dan Facebook. Di era keterbukaan dan sangat demokratis, kata dia, pemimpin dituntut untuk bisa menerima segala macam kritikan. "Saya biasa disebut gubernur ndeso, kurus, tapi biarkan saja. Memang seperti itu," ujarnya. (Baca: Jokowi: Saya Sudah Biasa Di-bully di Twitter)  

Jokowi sempat terkejut ketika diminta menjelaskan ihwal pemimpin Indonesia. Dalam setiap kesempatan di sebuah acara, Jokowi hanya menjelaskan tentang "Jakarta Baru", slogan yang diusungnya saat kampanye lalu bersama pasangannya, Basuki Tjahaja Purnama, tahun lalu.

Jokowi hadir di UPH memberikan kuliah umum kepada ribuan pelajar dan mahasiswa. Di sebuah aula terpampang dua buah spanduk berukuran besar yang bertuliskan »Jakarta Baru, Indonesia Baru.” Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Maruarar Sirait yang juga hadir dalam acara tersebut menolak mengaitkan kuliah umum Jokowi ini dengan pemilihan presiden 2014. Sejumlah lembaga survei menempatkan Jokowi sebagai calon presiden urutan teratas. (Baca juga ini: Populer Jadi Capres, Jokowi Beradegan Sinetron)  

ADITYA BUDIMAN

Topik terpopuler:

Sprindik KPK | Partai Demokrat | Serangan Penjara Sleman | Harta Djoko Susilo |Nasib Anas

Berita lainnya:

Kronologi Penangkapan Penyidik Pajak Pargono  

Kisah 'Memalukan' Persibo Bojonegoro di Hong Kong  

Pembalap Asep Hendro Pekerjakan Pemuda Garut  

Video 'Damai' di Bea Cukai Bali Muncul di YouTube  

Buat Akun Twitter, SBY Belum Targetkan Followers

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.