Jokowi Sebaiknya Gelar Pertemuan Umum untuk Bahas 6 Ruas Jalan Tol




Kemarin Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengungkapkan persetujuannya terhadap rencana pembangunan enam ruas jalan tol dalam kota.

Setelah pertemuan dengan Menteri Pekerjaan Umum dan wakilnya, Jokowi mengatakan sudah mengerti bahwa enam ruas jalan tol tersebut akan berguna dalam mengurangi macet.

Persetujuan Jokowi terhadap pembangunan enam ruas jalan tol ini bertolak belakang dengan janji kampanyenya saat pemilihan gubernur, juga pernyataannya sesudah dilantik.

Apakah berarti selama ini penolakan Jokowi terhadap enam ruas jalan tol didasarkan atas ketidaktahuannya terhadap masalah? Karena Jokowi belum mengerti benar, maka dia menolak?

Apa-apan ini?

Melihat ke belakang sedikit, akhir tahun lalu Jokowi membuat pertemuan umum (terbuka bagi umum) untuk membahas MRT. Dalam pertemuan itu dia meminta pihak manajemen MRT dan jajaran birokrat pemerintah untuk berbicara dan menjelaskan soal MRT.

Ketika itu terjadi perdebatan yang panas, namun tetap penting karena banyak hal penting yang terungkap dan dibahas. Video pertemuan juga diunggah di YouTube.

Nah, mengapa kasus 6 ruas jalan tol dalam kota ini tidak diperlakukan sama? Jokowi sebaiknya menggelar suatu pertemuan umum dan meminta Kementerian Pekerjaan Umum untuk memaparkan kegunaan enam ruas jalan tol dalam kota itu. Hadirkan pula para pemikir dan undanglah warga yang tidak setuju.

Dengarkan pendapat semua pihak.

Kita semua tahu, ada perbedaan-perbedaan paradigmatik dalam hal memandang jalan raya. Di New York pada tahun 1950-an kita ketahui ada perdebatan besar antara Rober Moses dan Jane Jacobs, yang akhirnya bahkan menulis beberapa buku untuk memaparkan gagasannya. Jane Jacobs menjadi pahlawan warga. Dia bukan ahli kota sama sekali ketika itu.

Justru karena kedalaman paradigmatik itu, tidak bisa Gubernur Joko Widodo berubah pikiran, mengingkari janji, hanya dengan mengatakan kini ia telah mengerti kegunaan enam ruas jalan tol itu.

Jokowi sudah memulai teladan bagus dengan membahas MRT secara terbuka dalam pertemuan umum yang terbuka. Mengapa tidak melaksanakan diskusi serupa untuk masalah jalan tol? Apa artinya retorika pro-rakyat kalau keputusan dibuat hanya didasarkan pada pertemuan tertutup dengan elit?

Baca juga:
Gambar rencana pembangunan jalan tol.
90 persen pembaca Yahoo tak setuju pembangunan 6 ruas jalan tol.
Jalan tol bukan solusi.

Memuat...
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.