Jokowi Sebut Kartu Prakerja Kembangkan Ketrampilan, Peminat Membeludak

Lis Yuliawati, Eduward Ambarita
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo mengaku bangga dengan program yang dulu dicanangkannya saat musim Pemilu lalu, yakni kartu prakerja. Program yang memberi keterampilan bagi masyarakat usia produktif itu ternyata sejak masa pandemi COVID-19 menarik minat banyak orang.

Jokowi mengatakan, berdasarkan laporan yang diterimanya, jumlah pendaftar membeludak sampai 55 juta orang. Sementara yang diterima hanya kurang lebih 5,6 juta peserta.

"Tetapi yang ikut di tahun 2020, 5,6 juta dan tahun ini baru 1,8 juta orang. Artinya peminatnya sangat banyak sekali. Artinya apa? Memang belum tertampung semuanya," kata Jokowi saat memberikan arahan kepada penerima kartu prakerja di Istana Negara, Rabu, 17 Maret 2021.

Menurut Jokowi, sebanyak 1.700 pelatihan yang bisa dipilih peserta mengembangkan keterampilan mereka. Pelatihan itu diberikan oleh lembaga pelatihan yang tersertifikasi.

"Tadi saya bertanya kepada bu Deni (Denni Puspa Purbasari) Direktur Eksekutif apa sih yang paling diminati, apa yang paling diminati? Pelatihan apa yang paling disenangi? Lima besarnya adalah yang pertama pemasaran online. Ini memang harus sekarang ini memang banyak dibutuhkan. Pemasaran online yang pertama," kata Jokowi.

Pemasaran daring, lanjut Kepala Negara, paling diminati juga sejalan dengan kebutuhan industri. Misalkan perbankan yang bakal menyerap para tenaga kerja dari keterampilan tersebut. Kemudian selanjutnya adalah keterampilan di bidang Food and Beverage (F&B).

"Yang ingin jadi wirausahawan juga menghendaki itu karena memang zamannya adalah zaman digital," ujarnya.

Sementara itu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pelatihan ini laiknya program semi bantuan sosial kepada masyarakat.

Kata Airlangga, merujuk data dari Badan Pusat Statistin bahwa Kartu Prakerja berhasil sebagai semi bansos sebesar 88,9 persen, dan penerima menyatakan keterampilan mereka meningkat. Kemudian, 81 persen berdasarkan survei, para penerima terbantu karena insentif tersebut telah membantu kebutuhan sehari-hari.

"Program ini mengakselerasi inklusi keuangan sebanyak 25 persen penerima, belum pernah punya rekening atau juga belum punya e- wallet. Dan ini tentu program pembelajaran yang dibutuhkan di era digital yaitu secara daring dan mandiri," kata Airlangga.