Jokowi Sebut PPKM Skala Mikro Lebih Efektif Tekan Kasus Aktif COVID-19

Mohammad Arief Hidayat, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya menurunkan angka kasus positif untuk mengendalikan pandemi COVID-19, melalui sejumlah kebijakan. Antara lain berupa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro sejak 9 Februari 2021.

PPKM skala mikro itu didasari oleh hasil evaluasi pemerintah terhadap kebijakan pembatasan, dengan cakupan wilayah yang sebelumnya lebih luas.

Saat berbincang dengan para pemimpin redaksi media nasional di Istana Merdeka pada Rabu, 17 Februari 2021, Jokowi pun mengungkapkan alasan pemerintah menerapkan pembatasan dengan lingkup yang lebih kecil.

Baca: Pemerintah Putuskan Memperpanjang PPKM Mikro sampai 8 Maret 2021

"Kenapa saya ngomong di awal minggu itu PPKM tidak efektif? Ya, karena memang kurvanya tidak ada yang melandai turun. Tetapi yang kedua kelihatan sekali sudah turun. Yang ketiga ini turun lagi," kata Jokowi dalam keterangan tertulis yang dirilis Sekretariat Presiden, Sabtu 20 Februari 2021.

"Kasus aktif juga, kalau kita ingat, mungkin tiga minggu yang lalu, itu masih di angka-angka 14 ribu bahkan 15 ribu. Sekarang minggu-minggu terakhir kemarin ini, sudah di 8 ribu-9 ribu," ujarnya.

Menurut Presiden, pembatasan dengan lingkup kecil akan lebih efektif dibandingkan dengan lingkup yang luas. Jokowi mencontohkan, jika hanya ada satu orang di satu RT yang terinfeksi COVID-19, maka cukup RT tersebut yang dikarantina.

"Awal-awal sebetulnya juga saya sudah sampaikan, PSBB skala mikro. Karena enggak efektif. Wong yang merah itu satu RT kok, yang di-lockdown, di-PSBB-kan satu kota, ekonominya dong yang kena. Kalau yang kena satu kelurahan, ya sudah satu kelurahan itu saja yang diisolasi, dikarantina, tapi bukan satu kota," kata Jokowi.

Kebijakan serupa PPKM skala mikro juga telah diterapkan di negara lain selain Indonesia, antara lain di India. Jokowi menyebut bahwa India berhasil menekan kasus aktif bukan melalui kebijakan lockdown secara luas, melainkan lockdown dalam skala mikro.

"Meskipun awal-awal India itu lockdown total. Sehingga kok India sekarang ganti ini? Ternyata strateginya sama, PPKM skala mikro," ujar Jokowi.

Presiden memandang bahwa Indonesia memiliki kekuatan untuk menjalankan kebijakan tersebut, yakni perangkat pemerintahan hingga unsur terkecil di tingkat RT/RW, maupun perangkat aparat keamanan dari TNI-Polri melalui Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Hal tersebut diyakini akan sangat membantu pelaksanaan PPKM skala mikro.

"Saya melihat kekuatan kita itu memiliki desa yang ada RT/RW-nya dan di situ ada yang namanya Babinsa dan Bhabinkamtibmas, ini yang semua perangkat itu yang kita pakai sekarang ini. Memang kalau nanti kita di dashboard kita sudah sampai ke level RT, itu memudahkan sekali," ujarnya.