Jokowi Tegaskan Impor Pangan Tak Bisa Diatasi dengan Cara Monoton

Raden Jihad Akbar, Eduward Ambarita
·Bacaan 1 menit

VIVA - Presiden Joko Widodo mengingatkan kembali soal kinerja jajarannya di kabinet. Ia meminta para pembantunya tidak ada lagi kerja yang monoton, sekadar rutinitas dan bergaya konvensional.

Hal ini disampaikan pada saat rapat kerja mengenai pertanian di Istana Negara, Jakarta, Senin, 11 Januari 2021.

"Menurut saya tidak bisa kita melakukan hal-hal yang konvensional, rutinitas, monoton yang kita lakukan bertahun-tahun. Kita harus membangun kawasan yang economic scale, enggak bisa kecil- kecil lagi," kata Jokowi.

Jokowi pun menyebut saat ini komoditas pangan di Indonesia masih kalah bersaing. Impor masih terjadi lantaran harga produksi yang jelas sudah kalah dengan negara lain.

"Ada competitive price-nya. Kalau harga tidak kompetitif akan sulit bersaing, sehingga sekali lagi ini harus dibangun dalam lahan yang sangat luas," kata dia.

Menurut Jokowi, pemerintah saat ini tengah mengembangkan lumbung pangan atau food estate di Kalimantan Tengah dan rencannya akan lanjut di Sumatera Utara. Lagi-lagi, ia menyatakan, luas hamparan tanah yang disiapkan itu demi mengurangi impor salah satunya.

Dia menegaskan, banyak komoditas unggulan bisa dikembangkan. Setidaknya untuk kebutuhan dalam negeri karena jumlah penduduk kurang lebih 270 juta jiwa.

"Karena problem dari dulu sampai sekarang kenapa pertama kedelai yang juga di Indonesia bisa tumbuh baik, kenapa petani kita tidak mau tanam? Karena harganya kalah dengan kedelai impor. Kalau petani disuruh jual dengan yang impor harga pokok produksi, tidak nutup. Jadi hanya dalam jumlah yang besar untuk melawan yang impor," ungkapnya.

"Kenapa dulu kita produksi banyak bawang putih, tapi petani tidak mau tanam lagi bawang putih? Karena harganya kalah dengan harga bawang putih impor. Di Wonosobo, NTB, bawang putihnya banyak kenapa tidak diperluas dalam jumlah besar sehingga bisa lawan bawang putih impor?," tuturnya. (ase)