Jokowi Tunjuk 2 Petinggi TNI untuk Urus Keluarga 53 Awak KRI Nanggala

Rifki Arsilan
·Bacaan 2 menit

VIVA – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pagi tadi berkesempatan untuk bertemu dengan perwakilan keluarga almarhum prajurit TNI yang gugur karena insiden tenggelamnya KRI Nanggala 402 di perairan utara Bali pada hari Rabu, 21 April 2021 lalu.

Presiden Jokowi bersama Ketua DPR RI Puan Maharani, Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, serta sejumlah menteri kabinet Indonesia Maju lainnya bertemu secara langsung dengan perwakilan keluarga 53 awak kapal selam KRI Nanggala di Pangkalan Udara Angkatan Laut (Lanudal) TNI Angkatan Laut, Surabaya, Jawa Timur.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi telah memberikan amanah kepada dua petinggi TNI yang hadir mendampinginya, untuk bertanggungjawab dalam pengurusan kesejahteraan keluarga dari 53 prajurit terbaik bangsa yang gugur dalam latihan penembakan Torpedo di perairan utara Bali itu.

Dua petinggi TNI itu adalah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono.

Apa saja amanah yang diberikan oleh Presiden Jokowi kepada dua petinggi TNI itu?

Iya, dalam agenda silaturahmi bersama perwakilan keluarga di Lanudal TNI Angkatan Laut pagi tadi, Presiden Jokowi telah menyampaikan bahwa negara akan bertanggungjawab untuk membiayai pendidikan putra-putri dari 53 awak KRI Nanggala 402 hingga ke bangku kuliah tingkat Strata Satu atau S1.

"Tadi saya sudah sampaikan kepada Panglima TNI dan Kasal agar pengaturan managemen, mekanismenya diatur agar semuanya rapih," kata Presiden Jokowi di hadapan perwakilan keluarga 53 awak kapal selam KRI Nanggala 402, Kamis, 29 April 2021.

Selain itu, Presiden Jokowi juga berjanji akan membangunkan rumah untuk keluarga 53 awak KRI Nanggala 402 demi menjamin kebutuhan tempat tinggal kepada istri dan anak-anak para pejuang bangsa yang gugur pada saat menjalankan tugas latihan di perairan utara Bali.

Dalam mekanisme pembangunan rumah untuk para keluarga awak KRI Nanggala 402, keluarga para prajurit yang dinyatakan sebagai pahlawan bangsa itu berhak menentukan lokasi atau tempat pembangunan rumah mereka masing-masing.

"Kemudian juga, dari kami nanti ibu-ibu sekalian akan juga dibangunkan rumah yang tempatnya kami mengikuti ibu-ibu semuanya terserah apa di Gresik, Sidoarjo, atau tempat lain. Dan mekanisme ini juga nanti tolong Pak Kasal dan Panglima bisa mengaturnya sesegera mungkin, sehingga sesegera mungkin nanti bisa kita laksanakan," kata Jokowi.

Sebagimana diketahui, pada hari Rabu, 21 April 2021 lalu, kapal selam KRI Nanggala 402 yang tengah melakukan latihan menembak Torpedo hilang di perairan utara Bali. KRI Nanggala 402 dinyatakan Submiss (hilang kontak) sekitar pukul 03.45 waktu setempat setelah mendapatkan ijin untuk melakukan penyelaman dalam rangka latihan menembakkan Torpedo.

Ternyata, KRI Nanggala 402 tidak kunjung muncul ke permukaan. Saluran komunikasi pun terputus dengan kapal di atas permukaan. Hingga pada hari Sabtu, 24 April 2021, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengumumkan secara resmi bahwa KRI Nanggala dalam status Subsunk (tenggelam) pada kedalaman 838 meter di dasar laut dan kondisi 53 awak kapal selam dinyatakan telah gugur sebagai patriot bangsa.