Jokowi Yakin Inflasi Masih di Bawah 5 Persen

Merdeka.com - Merdeka.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengingatkan bahwa situasi semua negara saat ini sedang tidak baik-baik saja. Sebab, setelah dua tahun pandemi kemudian dilanjutkan dengan adanya perang antara Ukraina dan Rusia yang mengakibatkan krisis pangan, energi hingga keuangan pun terjadi.

Di beberapa negara harga bahan bakar minyak (BBM) sudah berada di angka Rp 17.000 hingga Rp 30.000 per liter. Bahkan gas di Eropa sudah mengalami kenaikan sebanyak 6 kali hingga 7 kali. Sehingga menurutnya apa yang sudah ditahan pemerintah oleh subsidi BBM untuk tidak membengkak tidak bisa dilakukan lagi.

"Kita tahan-tahan saat itu subsidi BBM kita agar tidak membengkak lagi ternyata tidak bisa kita lakukan," ujar Jokowi, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (12/9).

Dia membeberkan sebelumnya subsidi energi sebesar Rp152 triliun kemudian naik 3 kali lebih menjadi Rp502,4 triliun. Namun demikian diperkirakan subsidi BBM akan habis di bulan Oktober.

"Setelah kita lihat lebih detail itu kuota subsidinya hanya untuk 23 juta kl pertalite dan 15,1 juta kl untuk solar dan setelah dikalkulasi ini hanya bisa sampai pada awal Oktober. Kalau sampai akhir tahun sampai akhir Desember kebutuhan kita menjadi 29,1 juta kl untuk Pertalite da 17,4 kl untuk Solar ini estimasi akan kuran," jelas dia.

Oleh karena itu ada penyesuaian harga BBM, Jokowi meminta kepada jajarannya yakni provinsi kabupaten dan kota untuk ikut serta secara detail bersama pemerintah pusat membantu masyarakat yang terdampak karena kenaikan harga BBM ini.

"Saya kira bapak ibu sudah tahu semuanya, dan untuk membantu adanya kenaikan BBM ini saya minta bersama pemerintah pusat membantu yang terdampak," kata dia.

Sementara itu, dirinya melihat akan adanya dampak terhadap inflasi yang diperkirakan akan tambah 1,8 persen. Akan tetapi dia berharap inflasi akan terkendali di bawah 5 persen.

"Oleh sebab itu saya minta gubernur, bupati, walikota agar daerah bersama pemerintah pusat kerja bersama-sama seperti saat kita bekerja secara serentak dalam mengatasi Covid-19. Saya yakin Insya Allah bisa kita lakukan sehingga inflasi tahun ini kita harapkan bisa dikendalikan dibawa 5 persen," tutur Kepala Negara.

Dengan catatan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil sebanyak 2 persen digunakan untuk subsidi dalam rangka menyelesaikan akibat dari penyesuaian harga BBM.

"2 persen bentuknya bisa Bansos, terutama pada rakyat yang sangat membutuhkan, nelayan misalnya harian menggunakan solar, ini bisa dibantu dengan mensubsidi mereka. Ojek misalnya ini juga menggunakan BB, bisa dibantu dari subsidi ini. Juga UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) bis ajuga dibantu dalam pembelian bahan baku yang naik karena kemarin ada penyesuaian harga BBM," kata dia.

"Transportasi umum juga bisa dibantu kenaikan tarifnya berapa aja dibantu, bukan total dibantu tetapi kenaikan tarif yang terjadi bisa dibantu lewat subsidi," tambahnya. [azz]