JoMan: Menteri Jeblok di Luar Harapan Salah Satunya Nadiem Makarim

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Isu Presiden Joko Widodo akan melakukan perombakan atau reshuffle kabinet kembali mencuat di tengah bulan Ramadhan. Salah satu pihak yang gencar menyuarakan reshuffle adalah Ketua Relawan Jokowi Mania atau JoMan, Immanuel Ebenezer.

Noel, sapaan akrab Immanuel itu menyebut ada enam sampai tujuh menteri yang layak dicopot karena kinerjanya tak sesuai harapan. Namun, ia mengatakan reshuffle adalah hak prerogatif Jokowi selaku presiden.

"Tapi, sebagai pendukung presiden, kita juga punya hak memberikan masukan kepada presiden berkaitan dengan beberapa kinerja menteri menurut kita jeblok di luar harapan. Salah satunya Nadiem Makarim," ujar Noel dalam Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA, Kamis, 15 April 2021.

Dia pun menyebut nama menteri lain seperti Menteri Pertanuan Syahrul Yasin Limpo, Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G. Plate, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR/BPN) Sofyan Djalil, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Abdul Halim Iskandar, dan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi.

Terkait Nadiem, ia menyoroti tak ada terobosan yang dilakukan eks Bos Gojek itu sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal, saat nama Nadiem diumumkan masuk kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024, ada harapan publik soal terobosan berbasis digital di dunia pendidikan.

"Yang ada Nadiem mencoba menyampaikan ke publik banyak keluhan guru. Kan aneh seharusnya dia membuat sistem, problem-problem mendasar di dunia pendidikan, Bukan mendengar soal keluhan guru. Soal keluhan guru, bisa siapa saja yang mengerjakan," jelas Noel.

Pun, ia menyinggung soal kinerja Sofyan Djalil yang masuk periode kedua ini justru marak isu mafia tanah. Kata dia, persoalan mafia tanah ini ada di mana-mana. "Kita lihat ada indikasi keterlibatan pejabat di kementerian itu sendiri," sebut Noel.

Kemudian, ia menyebut pernyataan Muhammad Luthfi soal impor beras justru membuat dampak negatif ke petani. Salah satunya harga gabah di petani yang anjlok.

Cara Lutfi itu tak didukung dengan kebijakan positif oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurut dia, Syahrul Yasin Limpo seharusnya bisa melakukan gebrakan pro pertani karena langkanya pupuk subsidi di Pulau Jawa.

"Kementerian Pertanian dan Perdagangan ini saling menyandera. Dampaknya ke petani. Yang satu impor, satu persoalan pupuk. Akhirya tersandera nasib rakyat ya nasib petani. Makanya kami sampaikan dua orang ini layak di-reshuffle," ujarnya.

Sebelumnya, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin menyampaikan peluang reshuffle menteri yang dilakukan Jokowi dalam waktu dekat ini. Salah satu alasan reshuffle karena peleburan dua kementerian menjadi satu.

Ngabalin menyebut reshuffle kemungkinan segera dilakukan lantaran Surat Presiden ke parlemen belum lama ini perihal pembentukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Pun, dalam paripurna DPR sudah disepakati adanya nomenklatur baru mengenai Kementerian Investasi.