Jose Mourinho dan Mulut Pedasnya soal Puasa Ramadhan

Luzman Rifqi Karami

VIVA – Jose Mourinho adalah sosok pelatih yang disukai dan dibenci. Tangan dingin pelatih asal Portugal ini kerap mengantarkan gelar bergengsi untuk klub yang diasuhnya.

Inter Milan menjadi salah satu klub paling beruntung karena pernah dilatih Mourinho. Pencapaian treble di musim 2009/10 adalah sesuatu yang spesial, yang sampai saat ini tak bisa terulang.

Meskipun demikian, bukan Mourinho namanya jika tak memicu kontroversi. Hal itu pernah dilakukannya saat membesut La Beneamata.

Sulley Muntari

Mourinho mengkritik pemainnya, Sulley Muntari yang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, pada Agustus 2009. The Special One menganggap berpuasa membuat Muntari tak bermain maksimal, dan membuat Inter harus puas bermain imbang 1-1 melawan Bari di Serie A.

(Baca juga: Inilah Tim Terbaik Eropa yang Pernah Ditangani Jose Mourinho)

"Muntari memiliki masalah terkait dengan Ramadhan. Mungkin saat cuaca panas seperti ini tak bagus baginya untuk menjalankan puasa. Ramadhan datang di saat yang tidak ideal di saat pemain bertanding sepakbola," kata Mourinho dilansir Daily Mail.

jose mourinho

Komentar Mourinho tersebut menyulut reaksi keras dari Presiden Persatuan Islam Italia, Mohamed Nour Dachan. Menurutnya, puasa tak membuat pemain bola kehilangan stamina.

"Saya rasa Mourinho harus lebih sedikit bicara. Seorang muslim yang taat tak akan melemah karena kita tahu berdasarkan Institusi Kesehatan bahwa mental dan stabilitas psikologi bisa membuat olahragawan memiliki energi ekstra di lapangan," kata Dachan.

"Seorang pemain yang beragama Kristen, Yahudi, ataupun Muslim tentu saja secara psikologis lebih tenang dan itu meningkatkan permainan," tegasnya.

(Baca juga: Cerita 3 Pemain Bintang Gagal Penalti Bikin Jose Mourinho Menangis)

Bahkan orang dalam Inter sendiri tak sependapat dengan komentar Mourinho. Pelatih pribadi Muntari, Stefano Tirelli punya anggapan berbeda.

"Tidak semua orang memiliki reaksi yang sama terhadap perubahan kebiasaan di bulan Ramadhan," kata Tirelli.

"Beberapa atlet sangat menderita karena kekurangan energi saat latihan dan pertandingan. Namun, pemain lain yang punya karakter, emosi, dan genetik bisa memiliki performa yang sama. Muntari adalah salah satunya," jelasnya.