Jose Mourinho Tak Sehebat Dulu? Kayaknya Iya Deh, Simak 3 Alasannya

·Bacaan 4 menit

Bola.com, Jakarta - Jose Mourinho menjadi sosok yang amat sentral pada laga Tottenham vs Chelsea. Bukan sekadar sebagai mantan manajer Chelsea, tapi juga apa yang terjadi sebelum hingga sesudah laga.

Tottenham kalah dengan skor 1-0 saat menjamu Chelsea di pekan ke-22 Premier League, Jumat (5/2/2021) dini hari WIB. Gol tunggal Chelsea dicetak lewat penalti Jorginho.

Bagi Spurs, hasil buruk di Tottenham Hotspur Stadium itu membuat mereka makin terpuruk. Eric Dier cs. selalu kalah pada tiga laga terakhirnya di Premier League. Bisa dibilang kans mereka menjadi juara kompetisi melayang.

Jangankan bicara gelar, untuk bisa menutup musim di posisi big four untuk mengamankan tiket ke Liga Champions rasanya berat.

Jose Mourinho selama ini dikenal sebagai manajer papan atas. Saat masih melatih di Chelsea, Real Madrid, Inter Milan, maupun Manchester United, dia punya rekor kandang yang bagus.

Namun, magis itu nampaknya mulai luntur setelah Mourinho menerima pinangan Tottenham. Sebab, untuk pertama kali dalam kariernya Mourinho harus merasakan dua kekalahan kandang secara beruntun.

Ada bebera hal krusial yang membuat pelatih asal Portugal itu kehilangan kesaktiannya. Simak detailnya di bawah ini.

Taktik yang Mononton

Pertengkaran manajer Chelsea Frank Lampard (kanan) dan manajer Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, pada babak keempat Carabao Cup, Rabu (30/9/2020) dini hati WIB. (Neill Hall/Pool via AFP)
Pertengkaran manajer Chelsea Frank Lampard (kanan) dan manajer Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, pada babak keempat Carabao Cup, Rabu (30/9/2020) dini hati WIB. (Neill Hall/Pool via AFP)

Jose Mourinho dikenal dengan mazab sepak bola pragmatis, yang sering diartikan sebagai sepak bola parkir bus bertahan total. Kritikan taktik bermain The Special One menjemukan terasa deras saat ia menukangi Manchester United.

United yang dikenal sebagai tim ofensif diubah total Jose menjadi tim yang bertahan total. Ia dinilai menghilangkan jati diri klub yang bertahan selama puluhan tahun. Ia ditendang dari United karena dinilai gagal menyajikan prestasi maksimal.

Sayangnya, Jose terlihat tidak belajar terhadap kegagalannya di Setan Merah. Di Tottenham taktik yang sama masih juga dipakai. Tottenham bermain sangat defensif, tak hanya saat menghadapi tim-tim besar tapi juga klub kelas semenjana.

Pada masa awal, taktik ini bisa berjalan dengan baik, namun karena terlalu monoton lama-lama tim-tim lawan mulai dengan mudah membacanya. Kekalahan di beberapa laga terakhir terlihat kalau Jose minim kreativitas. Style of play sang manajer relatif sama, bermain dengan patron 4-2-3-1, membiarkan lawan menguasai permainan dan berharap bisa melakukan serangan balik mematikan.

Gagal Memunculkan Kemampuan Terbaik Pemain

Pelatih Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, memberikan arahan kepada Gareth Bale saat melawan West Ham United pada laga Liga Inggris Senin (19/10/2020). Kedua tim bermain imbang 3-3. (AP/Matt Dunham, Pool)
Pelatih Tottenham Hotspur, Jose Mourinho, memberikan arahan kepada Gareth Bale saat melawan West Ham United pada laga Liga Inggris Senin (19/10/2020). Kedua tim bermain imbang 3-3. (AP/Matt Dunham, Pool)

Jose Mourinho dikenal sebagai pelatih gampang memvonis pemain. Ia cenderung kurang sabar menanti potensi seorang pemain. Lihat bagaimana ia menyia-nyiakan bakat seorang Luke Shaw di Manchester United hanya berdasarkan penampilan buruk saat Manchester United kalah dari Manchester City.

Kondisi sama berlanjut di Tottenham. Sejumlah pemain bertalenta begitu cepat tersingkir dari tim utama karena Jose Mourinho tak sabaran. Dele Alli misalnya. Hanya gara-gara tampil jelek di laga pembuka Premier League musim ini menghadapi Everton, ia kemudian jarang dimainkan.

Contoh lainnya Gareth Bale. Sang superstar jadi spesialis cadangan, karena Jose tak pernah berani memberi kesempatan bermain dengan alasan khawatir dengan kondisi kebugaran sang pemain pasca lama tak bermain di Real Madrid. Padahal, Bale bintang dengan nama besar yang hanya butuh banyak kesempatan bermain untuk menemukan bentuk permainan terbaiknya.

Tak Berani Berjudi

Pelatih Tottenham, Jose Mourinho, memperhatikan pemainnya saat menghadapi Ludogorets pada laga lanjutan Grup J Liga Europa di Tottenham Hotspur Stadium, Jumat (27/11/2020) dini hari WIB. Tottenham menang 4-0 atas Ludogorets. (AFP/Ian Kington/pool)
Pelatih Tottenham, Jose Mourinho, memperhatikan pemainnya saat menghadapi Ludogorets pada laga lanjutan Grup J Liga Europa di Tottenham Hotspur Stadium, Jumat (27/11/2020) dini hari WIB. Tottenham menang 4-0 atas Ludogorets. (AFP/Ian Kington/pool)

Berbeda dengan sosok Jurgen Klopp atau Pep Guardiola yang doyan mencoba-coba komposisi tim dengan pemain berbeda, Jose cenderung tak berani berjudi melakukan perombakan skuat.

Tottenham sepanjang musim ini bisa dibilang terlalu sering memainkan pemain yang sama. Trio Son Heung-min, Harry Kane, dan Steven Bergwijn terus dipaksakan bermain walau kadang tidak dalam kondisi terbaik.

Padahal Tottenham punya Carlos Vinicius atau Gareth Bale yang layak mendapat kesempatan bermain di lini depan.

Di tengah, serupa. Trio Tanguy Ndombele, Moussa Sissoko, Pierre-Emile Hojbjerg jadi jangkar lini kedua yang bisa dibilang tak tersentuh.

Tottenham jadi terlihat monoton, minim kreativitas. Seandainya Jose lebih berani berjudi, melakukan sistem rotasi dengan memaksimalkan seluruh pemain yang ada situasinya akan berbeda.

Terlalu Sering Konfrontasi dengan Pemain

Pelatih Tottenham Hotspur,  Jose Mourinho menginstruksikan pemainnya saat bertanding melawan Ludogorets Razgrad pada pertandingan Grup J Liga Europa di stadion Tottenham Hotspur di London, Inggris, Kamis (26/11/2020). Tottenham menang telak atas Ludogorets 4-0. (AP Photo/Ian Kington)
Pelatih Tottenham Hotspur, Jose Mourinho menginstruksikan pemainnya saat bertanding melawan Ludogorets Razgrad pada pertandingan Grup J Liga Europa di stadion Tottenham Hotspur di London, Inggris, Kamis (26/11/2020). Tottenham menang telak atas Ludogorets 4-0. (AP Photo/Ian Kington)

Jose Mourinho punya kebiasaan buruk mengkritik para pemainnya di media. Hal itu sudah dilakukan sejak ia menukangi Chelsea, Real Madrid, Inter Milan, dan Manchester United.

Ia berfikir cara itu efektif untuk membakar motivasi pemain. Ada beberapa pemain yang kinerjanya membaik dengan cara ini, tapi banyak juga yang merasa nyaman dengan cara ini.

Di Tottenham sederet pemain jadi bulan-bulanan kritikan The Special One. Mulai dari Tanguy Ndombele, Dele Alli, hingga terakhir Serge Aurier yang kabarnya sempat ngambek karena dipersalahkan berlebihan dalam laga melawan Liverpool.

Pola ini membuat suasana ruang ganti Tottenham tak pernah benar-benar kondusif. Pemain pun mulai uring-uringan, ogah menyajikan performa terbaik. Selain tak lagi merasa nyaman, mereka juga stres tertekan.

Sumber: Berbagai sumber

Video