Joseph Stalin Minta Gotabaya Rajapaksa Diadili Setelah Kabur dari Sri Lanka

Merdeka.com - Merdeka.com - Mantan presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa terancam ditangkap setelah kembali ke negaranya. Gotabaya kabur ke luar negeri pada Juli lalu setelah para demonstran menyerbu istananya karena krisis berkepanjangan di negara tersebut.

Gotabaya kabur ke Maladewa kemudian menuju Singapura. Dia mengumumkan pengunduran dirinya dari Singapura. Dia kini telah kembali ke Sri Lanka setelah melobi penggantinya, Presiden Ranil Wickremesinghe agar mengizinkan dia kembali.

"Gotabaya kembali karena tidak ada negara yang mau menerimanya, dia tidak punya tempat untuk bersembunyi," kata Joseph Stalin, pemimpin demonstransi massal Juli lalu, kepada AFP.

"Dia harus ditangkap segera karena menyebabkan penderitaan bagi 22 juta rakyat Sri Lanka. Dia harus diadili untuk kejahatan-kejahatannya," lanjutnya, dikutip dari laman TRT World, Minggu (9/4).

Pemerintahan Gotabaya dituding salah kelola perekonomian, yang menyebabkan negara itu jatuh ke dalam krisis terburuk selama 70 tahun terakhir. Krisis menyebabkan pasokan makanan berkurang, pemadaman listrik berhari-hari, dan antrean panjang di pom bensin karena langkanya bahan bakar setelah negara itu kehabisan cadangan devisa untuk membayar barang impor.

"Dia tidak bisa hidup bebas seolah-olah tidak ada yang terjadi," kata Stalin, yang namanya diambil dari mantan pemimpin Soviet oleh ayahnya yang berhaluan kiri.

Gotabaya tiba di bandara internasional di Kolombo dan disambut dengan untaian bunga oleh para menteri dan politikus senior.

Dia dibawa ke rumah dinas barunya yang disiapkan Presiden Wickremesinghe dan diiringi pasukan pengamanan.

Gotabaya dilaporkan atas sejumlah kasus korupsi sejak dia terpilih menjadi presiden pada 2019. Dia juga menghadapi dakwaan di pengadilan Amerika Serikat terkait pembunuhan editor koran ternama, Lasantha Wickrematunge dan penyiksaan para tahanan Tamil saat berakhirnya perang sipil pada 2009. [pan]