Journal: Membersihkan Stigma Panti Jompo, Menemukan Rumah untuk Lansia

·Bacaan 12 menit

Liputan6.com, Jakarta - Trimah (65) mengaku tak tahu saat ketiga anaknya membawa dia untuk tinggal di Griya Lansia Husnul Khatimah, sebuah panti jompo di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kendati kecewa, ia memilih mengikuti kehendak anak-anaknya.

Ketika masuk ke panti jompo, Trimah dalam kondisi tidak dapat berjalan akibat penyakit di bagian persendian, sehingga ia mesti memakai kursi roda untuk beraktivitas.

Kisah Trimah viral. Berdasarkan penjelasan Ketua Yayasan Griya Lansia, Nur Hadi Rahmat, ketiga anak Trimah menyatakan tidak mampu merawat ibu mereka karena sibuk bekerja dan menyerahkan perawatannya ke panti jompo.

Namun, anak sulung Trimah langsung mengklarifikasi terkait keputusan ia dan adik-adiknya mengirim sang ibu ke panti jompo. Dalam rekaman suara, sang putri sulung mengaku hanya menitipkan Trimah ke panti jompo, karena anak-anaknya sudah lelah dengan perilaku ibunya yang kerap berulah dan memicu pertengkaran.

Melihat peristiwa ini, sebagian masyarakat menyayangkan sikap anak-anak Trimah, bahkan tidak sedikit yang menuding mereka begitu tega "membuang" orang tua sendiri.

Cerita berbeda dialami Dea, yang mengungkapkan bahwa sang ibu sempat ingin tinggal di panti jompo, karena tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Namun, anak-anaknya tidak setuju dan bersikeras merawat ibunya, yang kini telah lanjut usia (lansia), karena telah berusia 65 tahun.

Apalagi sang ayah telah lebih dulu meninggal dunia, sehingga menurut Dea, ibunya tentu membutuhkan support system dari anak-anaknya. Dea khawatir sang ibu akan merasa kesepian, terlebih dengan penyakit hipertensi yang diderita, sehingga perlu perhatian lebih.

Namun, Dea mengakui merawat lansia bukan perkara mudah, terutama untuk yang memiliki kondisi medis tertentu. Orang yang merawat lansia, kata Dea, perlu dibekali pengetahuan yang cukup sehingga asupan gizi dan makanannya tepat.

"Kultur di Asia, terutama di Indonesia, lazimnya anak yang merawat orang tua. Mengirim orang tua lansia ke panti jompo dianggap cukup tabu bagi sebagian masyarakat. Dalam Islam kan salah satu amal terbaik ya menjaga orang tua di masa tuanya mereka. Jadi, enggak terpikir lah untuk mengirim ke panti jompo, walaupun mungkin ibu sendiri tidak masalah untuk itu," tutur Dea.

Balas Budi ke Orang Tua

Dalam pandangan norma hidup masyarakat Indonesia yang memiliki adat ketimuran, konsep yang dianut adalah anak merawat orang tua hingga akhir hayatnya. Hal itu sebagai salah satu bentuk balas budi kepada orang tua yang telah membesarkan anak-anaknya. Saat orang tua sudah memasuki tahap lansia, anak berganti yang mengurus mereka.

Maka, ketika kisah Trimah viral, yang banyak muncul adalah tudingan kepada anak-anaknya yang dianggap melanggar norma dan mengabaikan orang tua.

Seorang lansia mengikuti latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Seorang lansia mengikuti latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pakar Psikologi Anak dan Keluarga, Astrid WEN, menekankan, keputusan membawa orang tua ke panti jompo sebetulnya perlu konsensual atau persetujuan setiap pihak yakni orang tua itu sendiri dan anak-anaknya, bukan keputusan sepihak.

Menurut Astrid, memang ada orang tua lansia yang ingin tinggal di panti jompo, bahkan malah anaknya yang tidak rela dan bersikeras merawat ibu dan bapaknya. Dalam situasi ini, Astrid menuturkan, anak dan orang tua perlu menyadari dan memahami perasaan masing-masing agar keputusan yang diambil adalah yang terbaik.

"Para anak bisa bicara tentang kekhawatiran kepada orang tua mereka, bahwa karena kesibukan, mereka tidak bisa menemani atau merawat dengan maksimal. Para anak juga perlu bertanya, bagaimana perasan orang tuanya apabila tinggal di panti jompo," kata Astrid kepada Liputan6.com.

Ada pula orang tua lansia yang lebih nyaman tinggal di rumah saudaranya sesama lansia. Berdiskusi dengan keluarga besar mengenai perawatan orang tua lansia juga diperlukan, sebab keputusan yang nanti diambil pasti tidak akan mudah dan bukan mustahil ada jalan keluar lain. "Panti jompo itu, walaupun sebenarnya baik ya, tapi sebenarnya itu last option," ujarnya.

Jika nanti ternyata keputusannya tetap ke panti jompo, kata Astrid, perlu diatur jadwal kunjungan keluarga bergantian dan rutin, sehingga orang tua lansia tetap merasa dekat. Dia menambahkan, anak-anak juga dapat membuat acara-acara selebrasi di panti jompo pada waktu-waktu tertentu atau mengajak orang tua keluar untuk jalan-jalan dan liburan, bila kondisinya memungkinkan.

Cerita dari Panti

Suasana saat para lansia latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Suasana saat para lansia latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Anggraeni, wanita berusia 83 tahun, masih menjalani hari-hari pertamanaya di Sasana Tresna Werda RIA Pembangunan ketika tim Liputan6.com menemuinya. Dia bersikukuh ingin tinggal di panti werdha, karena merasa butuh bersilaturahmi dengan orang lain dan ingin menemukan teman yang cocok.

Situasi pandemi membuat Anggraeni tidak bisa pergi ke mana-mana dan merasa kesepian. Sementara anak-anaknya tetap harus mencari nafkah dengan bekerja di luar rumah. Diskusi panjang pun mesti dilalui Anggraeni sebelum anak-anak akhirnya merelakan sang ibu tinggal di panti werdha.

Sebelum memutuskan tinggal, perempuan beranak tiga ini telah mencari informasi tentang Sasana Tresna Werda RIA Pembangunan di Cibubur, Jakarta. "Awalnya, anakku tidak mengizinkan, tapi aku minta diizinin. Aku mau cobain dulu, syukur-syukur kalau betah, aku terus. Kalau enggak betah, pasti balik ke rumah anakku," tutur Anggraeni.

"Sampai sekarang pun sebenarnya enggak boleh, tapi karena mereka mengingat kehendak ibunya, jadi ya mereka juga ingin kemauan ibunya itu dituruti, biar senang. Sebenarnya mereka enggak yakin, tapi aku yang nekat," sambungnya.

Kepala Badan Pelaksana, Sasana Tresna Werdha RIA Pembangunan, Ibnu Abbas, menekankan, konsep perekrutan pihaknya adalah atas dasar keinginan dari lansia itu sendiri untuk berada di panti. Dia menilai, lansia memiliki hak menentukan di mana mereka tinggal, termasuk menjalani kehidupan mereka.

Ibnu menjelaskan, tidak sedikit lansia yang ditolak masuk ke STW RIA Pembangunan, karena dianggap bukan keinginannya sendiri untuk berada di tempat yang didirikan pada 14 Maret 1984 itu. Bagi Ibnu, keluarga yang mendatangi panti werdha atau panti jompo sebetulnya sedang mencari pertolongan. Jadi, pihaknya selalu berusaha menawarkan solusi lain kepada pihak keluarga walaupun tidak bisa dirawat di STW RIA Pembangunan.

Orang tua lansia kerap memiliki masalah kesehatan maupun sosial. Semakin tua, terjadi kemunduran-kemunduran sehingga perilakunya menjadi lebih curiga dan lebih sensitif sampai terjadi konflik dengan anak, cucu, dan lingkungan.

Solusi yang diberikan di antaranya, lansia tetap di rumah bersama keluarga tapi diberikan pendampingan dari tenaga caregiver atau perawat profesional. Kemudian, terdapat program menginap beberapa malam di panti, ketika anaknya mesti dinas ke luar kota atau perjalanan ibadah sehingga orang tua lansia tidak sendiri di rumah dan tetap dalam pengawasan.

Program Daycare

Namun, opsi yang menarik juga ditawarkan STW RIA Pembangunan kepada keluarga yakni program model daycare, seperti penitipan anak-anak. "Kalau penitipan anak ada daycare, kita juga buka daycare untuk lansia. Jadi pagi diajak ke sini untuk ikut kegiatan sampai si anak pulang kerja, lalu dijemput lagi diajak pulang. Jadi, tidak keluar dari rumah, tapi punya kegiatan di luar rumah di saat anak tidak ada di rumah," beber Ibnu kepada Liputan6.com.

Sampai Oktober 2021, total penghuni STW RIA Pembangunan mencapai 53 orang lansia, terdiri dari 19 pria dan 34 wanita. STW RIA Pembangunan melakukan pelayanan dengan pendekatan keilmuan yakni kesehatan dan sosial. Di sana juga terdapat kegiatan sosialisasi, pengembangan hobi, keterampilan, kesenian, bimbingan mental spiritual keagamaan, dan rekreasi berkala. Sementara pelayanan kesehatan meliputi cek kesehatan, screening kesehatan, senam, konsultasi dokter, dan rujukan rumah sakit.

Pria bergelar magister keperawatan ini menyadari, di mata masyarakat panti jompo sudah kadung memiliki stigma negatif seakan sebagai tempat buangan lansia. Maka sejak awal, STW RIA Pembangunan menolak disebut panti jompo, demi memiliki kesan nama yang baik dan memberikan penghargaan kepada lansia. Sebutan panti jompo bisa menurunkan jati diri seorang lansia.

"Ada istilah yang sedang dipopulerkan kan Senior Living, Rusun, atau ada juga menyebutnya Griya atau menyebutnya Graha, yang semuanya berkonsep hunian, bukan panti. Jadi, banyak lah sebetulnya solusi. Ketika misalnya si lansia akhirnya masuk ke institusi seperti kita, jangan juga kita memberikan penilaian negatif kepada keluarga, tentu setiap orang beda-beda masalahnya," katanya.

Nasib Lansia di Indonesia

Sejumlah lansia mengikuti latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sejumlah lansia mengikuti latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Mengirim orang tua lansia ke panti jompo atau sejenisnya merupakan sesuatu yang lazim di negara-negara barat. Seringkali para lansia yang menghendakinya, karena ingin berada di lingkungan sesama lansia dan tidak ingin merepotkan anak-anaknya.

Seperti dilansir US News, lebih dari 40 persen lansia di Amerika Serikat (AS) berada di panti jompo. Setidaknya ada sekitar 16 ribu panti jompo di Negeri Paman Sam tersebut. Bahkan, tidak sedikit panti jompo berbintang lima di AS, yang mengenakan tarif sangat mahal bagi penghuninya.

Sementara di seluruh Indonesia, hanya terdapat tidak lebih dari 270 panti jompo/werdha. Bila dihitung, kapasitas daya tampung seluruh panti jompo itu cuma mencapai 202.000 orang. Di sisi lain, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020, penduduk usia lansia atau di atas 65 tahun sebanyak 16 juta jiwa. Jumlah ini sebesar 5,95% dari total penduduk Indonesia, yang tercatat sebanyak 270,2 juta jiwa.

Kementerian Sosial memprediksi jumlah lansia di Indonesia bakal mencapai 40 juta-an orang pada 2025. Jumlah itu bahkan bisa menjadi 71,6 juta orang dari perkiraan 310 juta penduduk Indonesia pada 2050. Sayangnya, tidak diketahui pasti berapa jumlah lansia Indonesia yang tinggal di panti jompo. Namun, sebagian besar lansia di Indonesia masih bergantung kepada anak atau keluarga dan tinggal satu atap.

Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), yang diadakan Indonesian Geriatrics Society (IGS) pada Maret 2019, menunjukkan 40,46 persen lansia tinggal bersama tiga generasi atau keluarga besar, dari nenek ke cucu. 27,3 persen lansia lain tinggal bersama keluarga. Sisanya, mereka tinggal dengan pasangan dan lainnya.

Pilihan memasukkan orang tua lansia ke panti jompo termasuk yang tidak populer di Indonesia. Tidak sedikit anak yang memilih menyewa jasa pengasuh lansia untuk orang tua mereka, supaya tetap tinggal bersama. Tapi ada pula orang tua lansia yang memang benar-benar dirawat oleh anak mereka

Seorang lansia berjalan saat latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Seorang lansia berjalan saat latihan angklung di Rumah Rehabilitasi Psikososial Dinas Sosial Kota Tangerang, Banten, Rabu (19/5/2021). Kegiatan berlatih angklung bagi lansia tersebut guna mengisi waktu luang sekaligus melatih motorik, auditori, dan sensorik para lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Psikolog Anak dan Keluarga, Astrid WEN, memiliki tips untuk para anak yang merawat orang tua yang memasuki tahap lansia. Bagi lansia, keberdayaan sangat penting, sehingga mereka perlu diberi kebebasan melakukan kegiatan yang mereka gemari dan sanggup menjalaninya.

Dia meminta agar lansia tidak dibatasi aktivitasnya, termasuk apabila ingin membersihkan rumah, berkebun, mengasuh cucu, memasak, hingga menyetir mobil sendiri. Wanita yang meraih gelar Magister Psikologi di Universitas Indonesia ini menilai, kegiatan-kegiatan itu membantu lansia terus berdaya.

"Kalau mereka masih terus berdaya, bergerak, berpikir, berarti itu kan masih ada rasa kebergunaan dalam diri. Itu membuat semangat hidup biasanya tinggi. Tapi, kalau apa-apa dibatasi anak, kasihan," tutur Astrid.

Menjaga keharmonisan hubungan anak dan orang tua lansia dalam satu rumah sangat penting. Ketika ada perbedaan pandangan dalam sejumlah hal, Astrid menyarankan untuk para anak untuk mengelola ekspektasi setelah mengingatkan atau memberi saran kepada orang tua lansia.

Mengubah sifat orang tua yang lansia sangat sulit, karena sisi karakter mereka sudah jadi. Yang paling penting adalah interaksi anak dengan orang tua, tanpa tujuan mengubah karakternya. "Yang kita bisa syukuri, orang tua masih ada. Mama dan Papa dekat, karena tinggal sama kita. Mereka juga masih ketemu cucu dan masih bisa melihat pertumbuhan kita dan anak-anak," ujar praktisi Theraplay ini.

Panti Jompo yang Layak

Sejumlah lansia penghuni Panti Jompo Tresna Werdha Budi Mulia 1 di Cipayung, Jakarta Timur.  (Liputan6.com/Immanuel Antonius)
Sejumlah lansia penghuni Panti Jompo Tresna Werdha Budi Mulia 1 di Cipayung, Jakarta Timur. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Di Amerika Serikat, ada standar yang harus dipenuhi sebuah panti jompo. Panti jompo yang baik harus menyediakan pelayanan perawatan, keselamatan, inspeksi kesehatan, pekerja ahli yang profesional, serta data dan informasi mengenai penghuninya, termasuk kondisi kesehatannya.

Panti jompo juga harus terintegrasi dengan rumah sakit dan mengadakan kunjungan rutin dokter yang terjadwal. Panti jompo yang ideal mesti menawarkan aktivitas harian yang teratur kepada para penghuni lansia. Fasilitas dan sarana yang ada pun mesti ramah dengan lansia, sehingga mereka nyaman dan tidak depresi.

Di Indonesia, belum banyak panti jompo yang memiliki standar seperti di AS. Pakar Gerontologi Universitas Indonesia, Prof. Siti Setiati, SpPD-KGer, M.Epid, mengakui tentang kondisi ini. Gerontologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari penuaan dan orang tua.

Siti Setiati menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia (PERGEMI). Ia juga merupakan dokter Spesialis Penyakit Dalam-Kepakaran: Geriatri. Seperti diketahui, geriatri yakni salah satu cabang ilmu kedokteran, yang mempelajari keadaan-keadaan fisiologis dan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan orang-orang lanjut usia dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana penyakit terkait usia lanjut.

Menurut perempuan kelahiran Bandung ini, pelayanan panti jompo di Indonesia masih berkembang, kendati sudah ada beberapa panti jompo yang sangat memadai. Setiati memberi contoh beberapa panti jompo yang mewah dan nyaman seperti Senior Living D'Khayangan, Rukun Senior Living, dan Senior Club Indonesia.

Sederet panti jompo di atas memberikan layanan dan kegiatan untuk lansia seperti yoga, daycare, hingga terapi. Caregiver dan terapis yang dimiliki mereka juga dinilai bagus, baik untuk lansia yang sehat maupun yang membutuhkan terapi. Panti-panti jompo itu juga menawarkan aktivitas harian untuk lansia.

"Panti jompo-panti jompo tersebut masih dikelola oleh swasta, sehingga lansia atau keluarganya yang harus membayar sendiri untuk segala perawatan dan aktivitas di sana," jelas Siti Setiati kepada Liputan6.com.

Biayanya pun tergolong tidak murah. Di sisi lain, Kementerian Sosial juga telah memberikan layanan panti jompo dan masih akan mengembangkannya di Yogyakarta dan Bali dengan biaya yang lebih terjangkau. Setiati menyarankan kepada pemerintah untuk ketersediaan panti jompo, setidaknya terdapat di kota-kota besar. Dia juga meminta dukungan dari masyarakat, keluarga, tenaga kesehatan, dan pemerintah agar panti jompo atau werdha bisa menjadi tempat nyaman bagi lansia yang sehat maupun yang sakit. Selain itu, dukungan finansial untuk panti jompo diharapkan semakin meningkat.

Hak Istimewa

Psikolog Anak dan Keluarga, Astrid WEN, mengatakan, tidak semua orang memiliki privilege atau hak istimewa ketika bisa mengasuh orang tuanya. Saat panti jompo menjadi salah satu pilihan, maka panti jompo harus dibersihkan dulu dari stigma-stigmanya.

Jika ada anak mengirim orang tua ke panti jompo, harus dipastikan dulu panti yang seperti apa. Karena sekarang sudah ada panti jompo yang humanis dan sangat bagus fasilitas serta layanannya. Biasanya, lansia yang berminat masuk panti jompo, karena ada kesempatan berteman dengan sesama lansia dan dapat merasa lebih berdaya.

Menitipkan orang tua lansia di panti jompo jelas memerlukan anggaran biaya ekstra. Sebab, panti jompo pun membutuhkan dana operasional agar tetap bisa memberikan pelayanan dan fasilitasnya. Lansia bisa dipulangkan dari panti jompo apabila biaya perawatan tidak dipenuhi.

Panti jompo yang gratis sebenarnya juga ada, tapi jumlahnya masih sangat terbatas. Itu pun hanya untuk keluarga yang tidak mampu dan mesti memenuhi persyaratan tertentu.

Berikut gambaran tipe panti jompo dan perkiraan biaya per bulan yang harus dikeluarkan, jika memilih mengirim orang tua ke sana.

1. Panti Werdha Wisma Mulia (Jakarta Barat)

Panti jompo yang berada di bawah binaan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Biaya perawatan di panti ini ditaksir tak lebih dari Rp2 juta per bulan.

2. Sasana Tresna Werdha RIA Pembangunan (Jakarta Timur)

Panti jompo ini merupakan peninggalan mendiang Ibu Tien, istri dari presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto. Terdapat enam wisma yang disediakan di panti ini dan tarif per bulannya mencapai Rp3 juta.

3. Graha Alumnarum Ursulae Sanctae Societas Internasionalis (Depok, Jawa Barat)

Panti jompo ini terhitung bagus dan mewah. Kendati demikian, biayanya per bulan juga masih terjangkau yaitu sekitar Rp3 juta.

4. Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia (Jakarta Timur)

Panti jompo ini milik pemerintah DKI Jakarta. Penghuninya adalah para lanjut usia, yang tidak lagi mampu menerima perawatan keluarganya di rumah. Biayanya di sini bisa gratis, asalkan memenuhi syarat.

5. Senior Living D’Khayangan (Cikarang, Jawa Barat)

Jika ingin menitipkan orang tua di panti jompo ini, Anda mesti menyiapkan dana fantastis yakni Rp2 miliar. Hal itu dikarenakan semua sarana dan fasilitas di sana tergolong mewah dan berkelas, begitu juga perawatannya. Jumlah biaya sebesar itu untuk keanggotaan seumur hidup.

INFOGRAFIS

INFOGRAFIS: Lansia dan Panti Jompo di Indonesia (Ilustrasi: Tri Yasni/Liputan6.com)
INFOGRAFIS: Lansia dan Panti Jompo di Indonesia (Ilustrasi: Tri Yasni/Liputan6.com)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel