JP Morgan: Penurunan Harga Bitcoin Belum Berakhir

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Reli harga bitcoin yang terjadi baru-baru ini diprediksi JP Morgan tak akan bertahan lama. Seperti dilansir Fox Business, Jumat (11/6/2021), harga bitcoin meningkat hingga 15 persen dari titik terendahnya, USD 33.472 per koin atau sekitar Rp 475,34 juta (asumsi kurs Rp 14.201 per dolar AS) pada Selasa 8 Juni 2021.

Meski demikian, analis JP Morgan mengatakan, pergeseran struktur sinyal pasar merupakan kelemahan lebih lanjut di pasar. Terlebih Cryptocurrency atau uang kripto telah merosot hingga 41 persen dari puncaknya pada April.

"Pergeseran Bitcoin berjangka menjadi mundur adalah sinyal bearish," tulis analis JP Morgan, Nikolaos Panigirtzoglou.

Mereka juga mencatat, penurunan harga sangat signifikan adalah pertama kalinya. Sehingga bisa terjadi Backwardation atau harga spot yang lebih tinggi dari harga futures. Ini berarti investor bersedia membayar mahal untuk memegang bitcoin saat ini. Merupakan sebuah kemunduran, perkembangan lemahnya permintaan Bitcoin saat ini menjadi hal yang perlu dipertimbangkan.

Para analis mencatat, pangsa pasar kripto yang rendah juga mengkhawatirkan. Pangsa pasar Bitcoin turun menjadi sekitar 40 persen. Angka tersebut mengalami perbaikan setelah investor berlomba menjual aset mereka dan tercatat adanya penurunan hingga 70 persen baru-baru ini.

Penurunan seperti ini juga pernah terjadi pada Desember 2017. Kapitalisasi pasar Bitcoin pada Kamis kemarin ialah USD 695 miliar. Angka ini tentu jauh menurun dibandingkan sebelumnya yang mencapai USD 1,6 triliun.

"Kami percaya bahwa pangsa Bitcoin di total pasar kripto harus dinormalisasi dan mungkin naik di atas 50 persen (seperti pada 2018) agar lebih nyaman dalam berargumen bahwa pasar bearish ada di belakang kami,” tulis para analis.

Harga Bitcoin Melambung Berkat El Salvador

Ilustrasi Bitcoin (Ist)
Ilustrasi Bitcoin (Ist)

Sebelumnya, nilai bitcoin melonjak setelah El Salvador menjadi negara pertama di dunia yang menerimanya sebagai alat pembayaran yang sah.

Mata uang kripto tersebut diperdagangkan di kisaran USD 36.849 per koin atau sekitar Rp 525,37 juta (asumsi kurs Rp 14.257 per dolar AS) pada Kamis pagi waktu setempat. Menurut CoinDesk, bitcoin melonjak sekitar 7,9 persen selama 24 jam terakhir.

Anggota Parlemen El Salvador membuat sejarah dengan menyetujui proposal dari Presiden El Salvador Nayib Bukele pada Rabu pekan ini. Proposal tersebut akan memungkinkan bitcoin digunakan sebagai alat pembayaran yang sah di negara tersebut selain dolar Amerika Serikat (AS). Demikian dilansir dari CNN, Kamis (10/6/2021).

Undang-Undang (UU) menyatakan, semua agen ekonomi harus menerima bitcoin sebagai bentuk pembayaran saat ditawarkan oleh pembeli barang dan jasa. Selain itu, pembayaran pajak juga dapat dilakukan dengan memakai bitcoin.

Langkah El Salvador memberikan kemenangan lain untuk mendorong kenaikan uang kripto seiring pemakaiannya menjadi lebih diterima secara luas di seluruh dunia.

Sebelum pemungutan suara di El Salvador, Bukele mengunggah cuitan di twitter yang menyebutkan pemakaian bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah. Hal ini akan mempromosikan inklusi keuangan, pariwisata, inovasi dan pembangunan ekonomi.

El Salvador merupakan negara terkecil di Amerika Tengah, meski cepat menahan pandemi COVID-19, ekonomi negara tersebut juga terpukul keras pada 2020. Hal itu berdasarkan Bank Dunia.

Uang kripto tidak memerlukan rekening bank, dan disimpan di dompet digital. Hal itu dinilai dapat membantu orang-orang komunitas terutama masuk kategori miskin seperti banyak di El Salvador, tetapi juga komunitas minoritas di AS. Hal tersebut dapat meningkatkan akses keuangan di wilayah tersebut.

Gerak Bitcoin

Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay
Bitcoin - Image by Allan Lau from Pixabay

Bitcoin bergerak bak roller coaster akhir-akhir ini. Pada Mei 2021, harga bitcoin turun hampir 40 persen setelah melambung ke rekor tertinggi di atas USD 60.000 pada awal 2021.

Salah satu pemicu utama yaitu mengenai ketidakpastian baru-baru ini berasal dari Elon Musk. CEO Tesla tersebut sering memicu kegemparan di antara investor mengenai pandangannya tentang uang kripto.

Salah satunya bitcoin turun setelah Musk muncul yang mengatakan kalau Tesla mungkin sudah membuang kepemilikan bitcoinnya. Kemudian, ia klarifikasi kalau Tesla tidak menjual bitcoin apa pun sehingga mendorong harga menguat.

Selain itu, China juga telah mengguncang pasar dengan isyaratkan rencana lebih lanjut untuk membatasi industri. Pada Mei 2021, Wakil Perdana Menteri Liu He mengatakan, pemerintah akan menekan aktivitas penambangan dan perdagangan bitcoin sehingga mengguncang investor.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel