JSOI: Industri daging sapi masih tertekan selama pandemi

·Bacaan 2 menit

Laporan terbaru dari Industri Bersama Indonesia dan Australia atau Joint State of the Industry (JSOI) menyebutkan industri daging sapi maupun sapi hidup masih tertekan akibat pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai dan menyebabkan melemahnya daya beli masyarakat.

Berdasarkan Laporan JSOI pertengahan tahun 2021 yang dikutip di Jakarta, Kamis, Pandemi COVID-19 terus menekan permintaan sapi dan daging sapi di Indonesia karena berkurangnya daya beli konsumen dan diterapkannya peraturan pembatasan kegiatan, terutama selama perayaan hari besar keagamaan.

Laporan itu menyebutkan pandemi telah berdampak signifikan pada pedagang kaki lima yang menjual bakso dengan harga murah, restoran dan hotel yang menjual potongan daging berkualitas tinggi, serta pasar tradisional dan hari raya keagamaan yang membutuhkan sapi hidup.

Lonjakan kasus COVID-19 varian Delta pada pertengahan 2021 yang disusul dengan diberlakukannya kebijakan PPKM selama bulan Ramadhan dan setelah Idul Adha di seluruh Indonesia turut andil dalam menurunnya permintaan akan sapi dan daging sapi. Pembatasan pembukaan tempat kerja dan pertemuan termasuk kewajiban ibadah dan acara pernikahan secara signifikan menurunkan permintaan sapi dan daging sapi.

Sektor restoran, katering, hotel dan sektor pedagang kaki lima yang biasanya merupakan pembeli daging jumlah besar turut terdampak PPKM dan mengurangi permintaan. Importir daging sapi Indonesia melaporkan kondisi freezer yang penuh dengan stok yang tidak terjual, serta permintaan yang menurun secara signifikan.

Asosiasi Importir Daging Indonesia (ASPIDI) memprediksi impor daging sapi untuk tahun 2021 akan turun 30 persen dibandingkan volume tahun 2020.

Selain itu, masuknya impor daging kerbau dari India juga turut menurunkan permintaan daging sapi di Indonesia. Hingga akhir Juni 2021, Indonesia telah melakukan impor daging kerbau India (IBM) sebanyak 31.440 ton, jumlah yang jauh di bawah kuota pemerintah sehingga menyebabkan kekurangan pasokan IBM di banyak pasar Indonesia.

Pembeli daging merah yang sadar harga seperti pelaku usaha makanan mikro dan kecil menengah (UMKM) memilih daging kerbau untuk menu dengan proses memasak yang lama dan untuk membuat bakso.

Laporan itu menyebutkan, semakin diterimanya IBM kemungkinan akan menurunkan pangsa pasar daging sapi, meskipun daging sapi segar tetap menjadi pilihan utama untuk perayaan hari besar utama
Baca juga: Pemkab Penajam kembangkan sapi potong penuhi kebutuhan daging
Baca juga: Harga daging sapi di Jakarta turun Rp2.353 per kilogram
Baca juga: Satgas BUMN serahkan 160 kaleng daging bagi korban erupsi Sinabung

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel