Jualan Telur Bebek lewat 'Live Streaming' Bisa Beli Mobil Tesla

Lazuardhi Utama
·Bacaan 2 menit

VIVA – Wu Xian Sheng dulunya hidup miskin. Tapi sekarang putra petani itu mengemudikan mobil Tesla terbaru. Produk yang dijualnya adalah telur bebek. Kunci kesuksesannya, ia terus-menerus berhubungan dengan kliennya lewat layanan 'live-streaming'.

Lewat aplikasi TikTok ia menunjukkan pekerjaan sehari-harinya secara langsung. Misalnya bagaimana para pekerja di pabrik miliknya mengepak telur-telur bebek. "Kanal untuk penjualan ini sangat bagus. Jauh lebih baik dari cara tradisional dengan agen dan perantara yang juga mau dapat komisi," ungkap Wu.

Baca: 5 Daratan Ini Belum Tersentuh Manusia

Telur bebek asin yang dikukus jadi makanan selingan yang sangat disukai di China. Sekarang Wu Xian Sheng sudah meningkatkan produksinya empat kali lipat. "Sekarang kami mengolah 200 ribu telur per hari," kata dia, seperti dikutip dari situs Deutsche Welle, Minggu, 25 April 2021.

Di China saat ini juga ditawarkan pelatihan bagi petani ternak atau peternak secara live streaming. Bukan hanya TikTok yang terjun ke sini. Alibaba dan JD, yaitu toko online China serupa Amazon, juga ikut serta. Mereka menawarkan penyuluhan dalam hal penjualan langsung bagi petani muda.

Para petani bisa berlatih di sejumlah studio yang sudah dipersiapkan. Antara lain petani Song Denfang yang menjual ubi manis. Ia merasa sangat sulit untuk berbicara berjam-jam di depan kamera. Oleh sebab itu, ia mendapat dukungan dari sejumlah pelatih perempuan.

"Saya bercakap-cakap dengan para 'influencer' saat menjual produk. Mereka membantu membuat suasana lebih santai. Pertama kali melakukannya, saya sangat gugup. Tapi lama-kelamaan sudah lebih santai," ujarnya.

Song kini menjual lebih dari 50 persen ubi manisnya secara online. Platform online mendapat komisi 1 persen dari penjualan. Tapi mereka juga mengorganisir transportasi.

"Logistik JD bagi kami sangat praktis. Jika ada orang memesan 'online', JD yang menyelesaikan seluruh proses. Kalau harus melakukan sendiri, sangat rumit," tutur Song Denfang.

Selama pandemi COVID-19, transportasi jadi masalah besar. Hal itu tidak mungkin diselesaikan setiap petani. Di seluruh China, berton-ton hasil panen tertumpuk tidak terjual.

Inisiatif penjualan 'live streaming' seperti yang digagas Sang Junfus, datang pada waktu yang tepat. Sekarang, petani Song Denfang, yang biasanya pendiam, sudah terbiasa dengan kamera yang terus mengikutinya di rumah kaca tempat budidaya.

Di masa krisis pandemi, Februari-Maret 2020, tidak ada yang boleh pergi ke pasar atau toko-toko. Jadi orang berbelanja online. Demikian cerita Song Denfang. "Mereka mendapat buah dan sayuran yang segar. Bahkan lebih segar daripada di supermarket. Itu bahkan diantar langsung ke rumah," tegasnya.

Wu Xiang Sheng yang berdagang telur bebek dulu tidak bisa membayangkan tinggal di kawasan pedesaan China. Sekarang, sejak mulai melakukan 'live streaming', pandangannya berubah. "Lewat platform, kita juga bisa berkomunikasi dengan dunia. Kita pun menyebarkan kuliner dan kebudayaan China. Saya sangat antusias," ujar dia.