Jubir: 3rd HWG bahas isu resistensi antibiotik

Juru Bicara Indonesia untuk G20, Siti Nadia Tarmizi mengatakan agenda 3rd Health Working Group (HWG) akan dirangkai dengan pembahasan antimicrobial resistance (AMR) atau resistensi antibiotik akibat dampak evolusi mikroba.

"Pada 3rd HWG akan dilakukan agenda pendamping yang membahas AMR, yaitu berbagai upaya terkait pencegahan dan implementasi pengendalian resistensi antibiotik," kata Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers virtual Road to 3rd Health Working Group (HWG) yang diikuti dari Zoom di Jakarta, Kamis.

Dikonfirmasi secara terpisah, Direktur Pasca-Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan resistensi terhadap antimikroba merupakan masalah besar dunia saat ini, bahkan disebut sebagai silent epidemic.

Baca juga: Eijkman fokus pada riset zoonosis dan resistensi antibiotik pada 2022

"Kalau tidak ada upaya memadai, dunia dapat saja masuk ke era dimana antimikroba, termasuk antibiotika, antijamur, antivirus, antiparasit, dan lainnya menjadi tidak mempan lagi untuk mengobati infeksi di dunia," katanya.

Jika hal itu dibiarkan terjadi, kata Tjandra, akan berdampak amat besar bagi kesehatan manusia, karena penyakit menular akan makin merajalela tanpa terkendali, karena tidak bisa disembuhkan.

Sementara itu, agenda 3rd HWG pada 22-24 Agustus 2022 di Bali mengangkat isu pembahasan utama tentang upaya peningkatan produksi vaksin dan jejaring penelitian manufaktur.

Kegiatan tersebut dibagi dalam empat sesi. Pertama, upaya membangun jejaring peneliti dan manufaktur di negara G20 terkait kedaruratan kesehatan masyarakat.

Pada sesi kedua, dibahas tentang upaya penguatan jejaring peneliti dan manufaktur untuk menghadapi pandemi di masa depan. Sesi ketiga, keterlibatan pemerintah dan swasta dalam mendukung jejaring peneliti dan manufaktur.

Baca juga: Jangan sembarangan konsumsi antibiotik demi hindari masalah kesehatan

Baca juga: FAO edukasi mahasiswa cegah resistensi antimikroba

Sesi terakhir, membahas inisiatif G20 dalam memperkuat ekosistem riset dan manufaktur untuk memastikan akses vaksin, obat-obatan dan alat diagnostik yang berkeadilan dalam akses maupun penelitian pengembangan.

Kegiatan itu menghadirkan delegasi dari 19 negara G20 serta non-G20. Selain itu, juga diundang lima negara perwakilan regional, seperti Fiji, Kongo, Kamboja, Rwanda dan Belize, serta 14 organisasi internasional terkait.