Jubir Nadia Sebut 3 Kendala Vaksinasi COVID-19 di Daerah

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menyebutkan kendala-kendala dalam pelaksanaan program vaksinasi di daerah.

Menurutnya, kendala pertama adalah suplai vaksin. Di 2021, Indonesia masih sangat tergantung pada produsen vaksin. Dari total kebutuhan 426 juta dosis, 200 juta dosisnya baru akan diterima di akhir triwulan 2021.

“Jadi di Oktober, November, Desember, kita akan menerima 200 juta dosis sebagai sisa dari kebutuhan kita,” ujar Nadia dalam Virtual Class Liputan6.com (31/8/2021).

Saat ini total 218 juta dosis telah diterima, lanjutnya, tapi 140 jutanya dalam bentuk bulk. Artinya, jika dijadikan vaksin jadi maka jumlahnya akan jauh lebih kecil.

“Dari 218 juta dosis yang kita terima maka kurang lebih perhitungannya kita akan punya vaksin jadi sekitar 190 juta dosis.”

Kendala Jumlah Vaksinator

Selain suplai vaksin, kendala kedua yang dihadapi dalam proses akselerasi vaksinasi adalah jumlah vaksinator.

“Kita memang memperbanyak sentra atau pos-pos vaksinasi, di sisi lain keterbatasan dari tenaga vaksinator harus segera kita imbangi dengan melatih dan melibatkan tenaga kesehatan.”

Sejauh ini, Indonesia baru memiliki 175 ribu tenaga vaksinator yang tersedia. Artinya, untuk mengejar program vaksinasi di bulan September hingga Desember maka penambahan tenaga vaksinator sangat diperlukan.

Proses Distribusi

Selanjutnya, target vaksinasi yang besar juga menjadi tantangan tersendiri dalam program vaksinasi nasional.

Lebih khusus lagi, tantangan di tingkat daerah adalah proses distribusi. Menurut Nadia, tidak semua proses distribusi dapat berjalan dengan baik.

“Apalagi di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan dalam segi transportasi maupun geografis. Jadi proses distribusi dari dinas kesehatan provinsi ke kabupaten/kota, bahkan ke fasilitas layanan kesehatan itu luar biasa.”

Ditambah, jarak dari vaksinator yang ada di fasyankes ke rumah sasaran vaksinasi tidak seperti di kota-kota. Di daerah terpencil, jarak dari satu rumah ke rumah lain cenderung jauh begitu pula ke fasyankes terdekat.

“Ini menjadi tantangan bagaimana kita menyelesaikan vaksinasi ke daerah-daerah. Nanti saat vaksinasi lebih banyak kita memang harus melakukan vaksinasi dengan metode vaksin bayi dan balita, artinya melalui kegiatan posyandu dan door to door dari tempat satu ke tempat lainnya,” pungkas Nadia.

Infografis Sudah Vaksinasi COVID-19? Jangan Kendor 5M!

Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M! (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Sudah Vaksinasi Covid-19? Jangan Kendor 5M! (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel