Jujur pada Diri Sendiri adalah Langkah Awal untuk Menciptakan Kebahagiaan

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Eryza Jazid Adam

“Happiness is when

what you think, what you say,

and what you do, are in harmony.”

- MAHATMA GANDHI

Sudah seberapa sering kita melupakan cinta terhadap diri kita sendiri? Self-love atau cinta pada diri sendiri haruslah dimaknai sebagai upaya untuk menjaga dan mengembangkan potensi diri kita di jalur yang positif serta produktif. Tujuannya, agar setiap talenta kita bisa menjadi karunia yang berguna bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi berguna juga untuk orang lain.

Kompleksitas kehidupan kerap membuat orang lupa untuk tetap memberikan cinta dan perhatian untuk dirinya sendiri. Banyak dari kita yang setengah mati berusaha “mengamini” standar-standar baku “kesuksesan” yang sudah begitu diyakini masyarakat. Seperti lulus sekolah, kerja bonafide, karier cemerlang, memiliki rumah, mobil, masa depan yang terjamin, intinya hidup secara mapan.

Kita memacu diri kita agar mampu mencapai standar-standar itu. Walau hal-hal itu di luar kemampuan kita dan terkadang harus diwujudkan dengan cara-cara kotor yang tidak seharusnya dilakukan. Stres dan depresi bisa datang dan merusak kesehatan fisik serta mental jika kita gagal memenuhi standar-standar baku kesuksesan itu. Dalam kondisi semacam ini, nampaknya tak ada lagi “ruang khusus” untuk self-love dalam diri kita. Kita kehilangan arah dan tujuan hidup kita sebagai manusia yang sesungguhnya.

Jujur pada Diri Sendiri

ilustrasi./Photo from Pexels

Bagi diri saya, standar seperti di atas yang diyakini sebagai kebenaran tunggal dalam masyarakat, justru mengingkari kenyataan bahwa manusia sebagai individu mempunyai cita-cita dan panggilan hidup yang begitu personal. Tunduk pada standar-standar baku itu menjadikan kita makhluk personal yang impersonal, makhluk pribadi yang tidak lagi bersifat pribadi. Saat berhasil memenuhi standar-standar baku itu ada “kekosongan” yang bisa dialami seseorang. Muncul “titik balik” yang ditandai dengan pertanyaan “Apakah itu saya yang sebenarnya?” dan “Inikah jalan hidup pilihan saya?”

Jujur pada diri sendiri sebagai standar keberhasilan adalah salah satu bentuk self-love. Berusaha untuk tidak berbohong terhadap kemampuan dan keadaan diri sendiri. Berani jujur pada diri sendiri agar bisa meninggalkan standar-standar baku tentang keberhasilan yang mengedepankan jumlah gaji, kekayaan, kedudukan, kekuasaan, dan nama besar.

Tak perlu lagi takut dituduh manusia individualis, hanya karena kita berani dan mampu mengikuti panggilan hidup yang menjadi bagian dari self-love kita. Asosial dan mementingkan diri sendiri tidak bisa didefinisikan sebagai individualisme. Sekarang, hal tersebut didefiniskan sebagai realisasi diri dengan berpartisipasi, bebas melakukan kebaikan, dan membangun untuk masyarakat tanpa mencederai aturan dan norma.

Sudahkah kita melakukan self-love untuk diri kita? Jika belum, sadarlah dan lakukanlah sekarang. Alasannya sederhana, karena kita dan setiap manusia hanya punya detik ini, saat ini, dan di sini.

#ChangeMaker