Jumhur: TKI Ruyati Membunuh Istri Majikannya

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Moh Jumhur Hidayat menyatakan seorang TKI Ruyati binti Satubi dihukum mati karena membunuh istri majikannya, Khoiriyah Omar Moh Omar Hilwani.

"Dalam persidangan, Ruyati dengan gamblang mengakui membunuh setelah bertengkar karena keinginannya untuk pulang tidak dikabulkan," kata Jumhur di Jakarta, Minggu.

Ruyati, TKI asal Kampung Ceger RT 03/01 Kecamatan Sukatani, Bekasi, Jawa Barat, menjalani hukuman mati dengan cara dipancung di Mekkah, Arab Saudi, pada Sabtu (18/6).

Jumhur mendapat laporan bahwa Ruyati yang dikirim untuk bekerja di Arab Saudi oleh pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) PT Dasa Graha Utama membunuh Khoiriyah pada 12 Januari 2010 dengan cara membacok beberapa kali kepala korban dengan parang dan menusuk leher korban dengan pisau dapur.

Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, katanya, telah meminta akses seluas-luasnya kepada Kementerian Luar Negeri Arab Saudi dan fasilitas pendampingan terhadap Ruyati melalui dua buah nota diplomatik.

Pihak KJRI mendampingi Ruyati dalam dua kali persidangan di Mahkamah Am (tingkat I) pada 3 dan 10 Mei 2010.

Namun Mahkamah Tamyiz mengesahkan putusan hukuman mati dengan cara dipancung (qishas) pada 14 Juli 2010 dan Mahkamah Agung Arab Saudi menguatkan putusan itu, katanya.

Pihak KJRI, katanya, juga telah mengupayakan pemaafan dari ahli waris korban melalui Lembaga Pemaafan agar Ruyati tidak dihukum mati namun gagal.

Terakhir Kerajaan Saudi memerintahkan pelaksanaan hukuman pancung atas permohonan ahli waris korban.


Sangat berduka


Atas eksekusi itu, Kepala BNP2TKI sangat berduka cita.

"Kami menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga atas hukuman mati terhadap almarhumah," kata Jumhur.

Ia mengaku sangat prihatin dan menyesalkan pelaksanaan hukuman mati tersebut.


"Kami sudah berusaha tetapi belum mampu menembus rigiditas (kakunya, red)sistem hukuman mati di Saudi," kata Jumhur.

Kepala BNP2TKI mengingatkan bagi para calon TKI yang ingin bekerja ke Arab Saudi sebaiknya jangan memaksakan diri kalau memang belum siap segala-galanya, baik fisik, keterampilan, bahasa, budaya bahkan mental.

Persiapan yang matang sebelum bekerja di Arab Saudi, katanya, bisa menghindari dari berbagai masalah di sana.

Jumhur meminta masyarakat jangan mengaitkan peristiwa tersebut dengan pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Konferensi Organisasi Buruh Sedunia (ILO) di Jenewa, Swiss, baru-baru ini yang menekankan arti pentingnya perlindungan terhadap TKI.

Karena, kata Jumhur, perbaikan atas masalah ketenagakerjaan terus dilakukan termasuk dengan Arab Saudi yang bersama RI telah menandatangani pernyataan kehendak bersama akhir Mei lalu termasuk rencana penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada tahun ini.


"Hukuman mati atas Ruyati lebih pada peristiwa pidana dibanding peristiwa perselisihan perburuhan," katanya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.