Jumlah korban virus China melonjak lewati 1.500, kasus baru turun

Beijing (AFP) - Korban jiwa dalam epidemi virus corona baru di China melonjak melewati 1.500, Sabtu, tetapi infeksi baru turun setelah lonjakan pertengahan minggu yang disebabkan oleh perubahan cara penghitungan kasus.

Lebih dari 66.000 orang kini telah terinfeksi di China dari virus yang muncul di Provinsi Hubei tengah pada Desember sebelum menyebar ke seluruh negeri sebulan kemudian dan menyebabkan kepanikan global.

Sekitar 1.700 petugas medis telah terinfeksi, dengan enam meninggal akibat penyakit COVID-19, kata para pejabat. Keadaan itu menunjukkan perjuangan negara tersebut untuk mengatasi krisis kesehatan yang semakin dalam.

Presiden China Xi Jinping mengakui bahwa wabah itu mengungkapkan "kekurangan" dalam sistem tanggap darurat kesehatan negara itu.

Memerangi wabah adalah "ujian besar bagi sistem pemerintahan dan kemampuan tata kelola negara," kata Xi saat ia memimpin pertemuan politik tentang reformasi pemerintah minggu ini, menurut media pemerintah.

Pihak berwenang China telah menempatkan sekitar 56 juta orang di Hubei di bawah karantina, hampir menyegel provinsi itu dari bagian lain negara itu dalam upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengendalikan virus tersebut.

Sejumlah kota yang jauh dari pusat penyakit juga telah memberlakukan tindakan keras membatasi jumlah orang yang dapat meninggalkan rumah mereka. Sementara itu, sekolah-sekolah tetap ditutup secara nasional dan banyak perusahaan mendorong karyawan untuk bekerja dari rumah.

Beberapa negara telah melarang kedatangan dari China dan maskapai besar telah membatalkan layanan penerbangan dengan negara tersebut.

Tetapi, wabah itu terus menyebar di China dan ratusan kasus telah muncul di lebih dari 24 negara.

Di Singapura, yang memiliki 67 kasus yang dikonfirmasi, Gereja Katolik Roma mengatakan mereka menangguhkan semua misa tanpa waktu yang ditentukan untuk membantu mencegah penyebaran virus. Gereja tersebut mendesak umat untuk mengikuti layanan di YouTube atau radio.

Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 143 kematian baru pada Sabtu, yang kesemuanya kecuali empat kematian terjadi di Hubei, sehingga meningkatkan jumlah korban menjadi 1.523.

Komisi itu juga melaporkan 2.641 kasus baru orang tertular virus jenis COVID-19, dengan sebagian besar berada di Hubei.

Namun, jumlahnya hampir setengah dari yang dilaporkan pada hari sebelumnya.

Skala epidemi membengkak minggu ini setelah pihak berwenang di Hubei mengubah kriteria mereka untuk menghitung kasus, menambah ribuan pasien baru ke penghitungan mereka.

Sebelumnya, mereka hanya menghitung kasus dengan hasil tes laboratorium positif tetapi sekarang juga termasuk yang "didiagnosis secara klinis" melalui gambar paru.

Para pejabat mengatakan perubahan itu diperlukan untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan dini di tengah laporan soal keterlambatan dalam tes laboratorium.

Pembaruan tersebut menambahkan hampir 15.000 pasien ke penghitungan Hubei pada Kamis. Organisasi Kesehatan Dunia WHO) mencatat bahwa minggu-minggu lalu kasus akan kembali dihitung surut.

"Kami mencari kejelasan lebih lanjut tentang bagaimana diagnosis klinis dibuat untuk memastikan penyakit pernapasan lainnya, termasuk influenza, tidak tercampur dalam data COVID-19," kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, Jumat.

Ada lebih dari 4.800 kasus yang dilaporkan di Hubei padaJumat dan 2.420 pada Sabtu.

Jumlah kasus baru yang dikonfirmasi secara pasti terjadi di luar Hubei, dengan 221 infeksi dilaporkan pada Sabtu.

Seorang ilmuwan China terkemuka telah meramalkan bahwa epidemi bisa memuncak pada akhir bulan ini setelah jumlah kasus baru turun di awal minggu.

WHO memperingatkan bahwa "terlalu dini" untuk membuat prediksi tentang lintasan penyakit.

Pihak berwenang mengatakan, Jumat, 1.716 pekerja medis telah terinfeksi selama wabah, dengan enam orang meninggal karena penyakit itu.

Sebagian besar petugas kesehatan yang tertular ada di Ibu Kota Hubei, Wuhan, tempat banyak yang tidak memiliki masker dan peralatan yang tepat untuk melindungi diri mereka di rumah sakit yang berurusan dengan pasien yang melimpah.

Angka-angka suram itu muncul seminggu setelah kesedihan dan kemarahan publik meletus atas kematian seorang dokter, yang telah memperingatkan tentang virus pada bulan Desember dan telah ditegur dan dibungkam oleh polisi di Wuhan.

lt/jah