Jumlah Saham Syariah Naik 84 Persen dalam 10 Tahun

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Saham syariah yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak 84 persen dalam waktu 10 tahun. Angka ini cukup tinggi jika dibadingkan dengan pertumbuhan saham secara umum.

“jumlah saham syariah meningkat secara pesat yaitu sebesar 84 persen atau artinya lebih tinggi dari tingkat pertumbuhan sejumlah saham secara umum,” jelas Wakil Menteri BUMN I, Pahala N Mansury, dalam Konferensi Internasional KNEKS yang berlangsung secara daring, Kamis (15/7/2021).

Ekosistem pasar modal syariah di indonesia dimulai sejak peluncuran reksa dana syariah pada 1997. Namun di awal perkenalannya pertumbuhan pasar modal syariah masih seret. Baru di 2011 industri pasar modal syariah berkembang pesat.

Secara rinci, Pahala mengatakan, bahwa rata-rata volume transaksi harian saham syariah meningkat sebesar 13,8 persen setiap tahun, yaitu dari 2,7 miliar lembar saham per hari di 2011 menjadi 8,97 miliar saham lembar saham di Maret 2021.

“Rata-rata frekuensi transaksi harian bahkan meningkat mencapai 31 per tahun. Sedangkan, rata-rata nilai transkasi harian meningkat sebesar 14,6 per per tahun, begitu juga dengan nilai kapitalisasi pasar meningkat sebesar 6,4 persen," jelas dia.

Namun, pandemi Covid-19 menekan sektor perekonomian dan juga keuangan secara umum. Hal ini juga berdampak pada saham syariah. Mengingat dari sisi pasar modal syariah tahun 2020 untuk indeks saham syariah Indonesia atau (ISSI) menurun 5,46 persen secara yoy, sedangkan Jakarta Islamic Index (JII) alami penurunan hingga 9,69 persen.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

Pasar Modal Syariah Beri Ruang Investasi Makin Luas kepada Masyarakat

Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Sebuah layar tentang tabel saham dipajang saat Festival Pasar Modal Syariah 2016, Jakarta, Kamis (31/3). Pertumbuhan pangsa pasar saham syariah lebih dominan dibandingkan dengan nonsyariah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai kapitalisasi aset sukuk korporasi dan reksa dana syariah masih rendah. Oleh karena itu, perusahaan diharapkan bisa diversifikasi sumber pendanaan investasi melalui sukuk korporasi dengan fitur inovatif sehingga menarik investor domestik dan asing.

Posisi outstanding sukuk korporasi tercatat senilai Rp 32,54 triliun dengan pangsa pasar 7,44 persen pada Juni 2021. Outstanding nilai reksa dana syariah hanya Rp 39,75 triliun dengan pangsa pasar 7,28 persen.

Oleh karena itu, Sri Mulyani ingin perkembangan kapitalisasi kedua aset itu bisa tumbuh melalui pengembangan pasar modal syariah. Hal ini dengan meningkatkan kedalaman dan likuiditas sektor keuangan syariah.

Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia (BI) terus bekerja sama dan berkomitmen mengembangkan pasar keuangan syariah dan mengupayakan akselerasi kebijakan dan regulasi dalam menciptakan instrumen sehingga pasar modal syariah dapat tumbuh stabil dan berkelanjutan.

"Tentu ini artinya bisa memberikan ruang berinvestasi yang makin luas bagi masyarakat Indonesia," tutur Sri Mulyani dilansir dari Antara, Kamis (15/7/2021).

Sri Mulyani mengatakan, penerbitan surat berharga syariah negara (SBSN) atau sukuk negara menjadi bentuk komitmen pemerintah untuk mengembangkan pasar modal syariah.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel