Junta Myanmar akan Pertimbangkan Saran ASEAN untuk Akhiri Kekerasan

Daurina Lestari
·Bacaan 2 menit

VIVA – Junta militer Myanmar menyatakan akan memberikan "pertimbangan hati-hati terhadap saran-saran konstruktif" dari ASEAN tentang cara-cara untuk menyelesaikan gejolak kekerasan yang dipicu oleh kudeta 1 Februari.

"Saran tersebut akan dipertimbangkan secara positif jika, itu melayani kepentingan negara dan didasarkan pada tujuan dan prinsip yang diabadikan di ASEAN," katan Junta Myanmar dalam sebuah pernyataan yang dirilis, Selasa 27 April 2021, seperti dilansir dari CNA.

Pemimpin Junta, Min Aung Hlaing, menghadiri pertemuan ASEAN di Indonesia akhir pekan lalu. Para pemimpin ASEAN mengeluarkan pernyataan yang disebut konsensus lima poin tentang langkah-langkah untuk mengakhiri kekerasan, dan mempromosikan dialog antara pihak Myanmar yang bersaing.

Myanmar saat ini menghadapi gelombang kekerasan sejak kudeta militer yang menggulingkan pemimpin terpilih, Aung San Suu Kyi, 1 Februari lalu. Rakyat Myanmar melakukan demonstrasi menentang kudeta yang direspons dengan tindakan represif junta.

Asosiasi Pendamping untuk Tahanan Politik (AAPP) melaporkan total 753 orang yang tewas dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Myanmar selama 1 Februari-25 April 2021. Sebanyak 3.441 orang ditahan.

Rakyat Myanmar pada Minggu mengkritik kesepakatan antara kepala junta dan para pemimpin Asia Tenggara untuk mengakhiri krisis negara yang dilanda kekerasan tersebut. Sejumlah aktivis mengatakan kesepakatan itu gagal memulihkan demokrasi, dan meminta pertanggungjawaban tentara atas ratusan kematian warga sipil.

Tidak ada protes langsung di kota-kota besar Myanmar sehari setelah pertemuan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dengan Jenderal Senior Min Aung Hlaing di Jakarta, Indonesia, yang setuju untuk mengakhiri kekerasan, namun tidak memberikan peta jalan tentang bagaimana hal ini akan terjadi.

Beberapa warga Myanmar menulis di media sosial untuk mengkritik kesepakatan itu.

"Pernyataan ASEAN adalah tamparan di wajah orang-orang yang dianiaya, dibunuh dan diteror oleh militer. Kami tidak membutuhkan bantuan Anda dengan pola pikir dan pendekatan itu," kata seorang pengguna Facebook bernama Mawchi Tun.

Aaron Htwe, pengguna Facebook lainnya, menulis: "Siapa yang akan membayar harga untuk lebih dari 700 nyawa tak berdosa."

Menurut pernyataan Ketua ASEAN, Brunei, sebuah konsensus dicapai pada lima poin, mengakhiri kekerasan, dialog konstruktif di antara semua pihak, utusan khusus ASEAN untuk memfasilitasi dialog, penerimaan bantuan dan kunjungan utusan ke Myanmar.

Konsensus lima poin tidak menyebutkan tahanan politik, meskipun pernyataan ketua mengatakan pertemuan itu "mendengar seruan" untuk pembebasan mereka. Para pemimpin ASEAN menginginkan komitmen dari Min Aung Hlaing untuk menahan pasukan keamanannya.

Militer telah mempertahankan kudeta tersebut dengan menuduh bahwa kemenangan telak oleh partai Suu Kyi pada pemilihan November adalah penipuan, meskipun komisi pemilihan menolak keberatan tersebut.