Juragan 99 Bantah Keputusan Mundur ada Kaitannya dengan Pemeriksaan di Polda Jatim

Bola.com, Malang - Gilang Widya Pramana memutuskan mundur dari jabatan Presiden Klub Arema FC sejak Sabtu (29/10/2022).

Sebuah keputusan yang mengejutkan. Setelah menjalani pemeriksaan di Polda Jatim terkait Tragedi Kanjuruhan, terlihat Gilang mulai merasa kurang nyaman. Sejak itu ada sinyal jika dia ingin mengembalikan mandat sebagai Presiden Arema kepada direksi.

Beberapa pemberitaan menyebutkan jika orang nomor satu di Arema FC bukanlah Gilang. Pemegang saham mayoritas perusahaan yang mengelola Arema, PT Arema Aremania Bersatu Berprestasi Indonesia (AABBI), yakni Iwan Budianto.

Tetap Jalani Pemeriksaan

<p>Presiden klub Arema FC, Gilang Widya Pramana saat konferensi pers Piala Presiden 2022 di Studio Lantai 8 SCTV Tower, Senayan City, Jakarta pada Senin (06/06/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)</p>

Presiden klub Arema FC, Gilang Widya Pramana saat konferensi pers Piala Presiden 2022 di Studio Lantai 8 SCTV Tower, Senayan City, Jakarta pada Senin (06/06/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Namun, saat ditanya apakah keputusan mundur ini ada kaitannya dengan pemeriksaan di Polda Jatim, Gilang membantah.

“Rasa kesedihan, trauma mendalam, saya memutuskan istirahat dari dunia sepak bola. Arema butuh sosok yang lebih baik. Bisa membawa Arema lebih solid dan kuat. Tidak ada kaitannya dengan pemeriksaan di Polda,” terangnya.

Gilang menambahkan dia tetap bersedia menjalani pemeriksaan lebih lanjut oleh Polda Jatim. “Untuk pemeriksaan di Polda, saya tetap siap dan kooperatif,” lanjutnya.

Trauma Berat

Sepasang sepatu kets terinjak-injak di tribun Stadion Kanjuruhan menyusul tragedi mengeneskan usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Indonesia, Minggu (02/10/2022). Setidaknya lebih dari 100 orang tewas ketika penggemar tuan rumah yang marah menyerbu lapangan dan polisi menanggapi dengan gas air mata yang memicu desak-desakan. (AP/Hendra Permana)
Sepasang sepatu kets terinjak-injak di tribun Stadion Kanjuruhan menyusul tragedi mengeneskan usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Indonesia, Minggu (02/10/2022). Setidaknya lebih dari 100 orang tewas ketika penggemar tuan rumah yang marah menyerbu lapangan dan polisi menanggapi dengan gas air mata yang memicu desak-desakan. (AP/Hendra Permana)

Sebenarnya saat pertandingan Arema lawan Persebaya pada 1 Oktober lalu, Gilang tak terlihat di Stadion Kanjuruhan. Dia memang tidak selalu mendampingi tim. Tugasnya sudah diwakil Manajer Tim, Ali Rifki yang mengawal tim di setiap pertandingan.

Namun Gilang ikut turun tangan begitu mendengar tragedi ini. Sehari berselang, dia bersama tim menjenguk korban dan melakukan banyak hal untuk meringankan beban korban. Namun ternyata itu juga membuat trauma tersendiri baginya.

Ini yang membuatnya memilih mundur.

Bukan Desakan Aremania

Syal Arema FC dan Persebaya Surabaya diletakkan di atas tumpukan bunga duka cita di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jumat (7/7/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Syal Arema FC dan Persebaya Surabaya diletakkan di atas tumpukan bunga duka cita di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jumat (7/7/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Lebih lanjut, dia mengaku tidak ada desakan mundur dari pihak suporter, direksi atau lainnya.

“Tidak ada tekanan atau pressure dari pihak manapun. Itu murni karena tanggung jawab moral saya. Murni karena saya merasakan traumatis, dan saya bertanggung jawab,” imbuhnya.