Juru Bicara Vaksinasi COVID-19: Semua Vaksin Sama Baiknya

·Bacaan 2 menit

VIVA – Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, semua vaksin yang telah mendapatkan uji klinis itu sama baiknya untuk ketahanan tubuh, baik itu vaksin Sinovac maupun vaksin AstraZeneca dan vaksin lainnya.

Untuk itu, ia meminta kepada masyarakat agar tidak usah khawatir dengan vaksin yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Karena, semua vaksin itu bagus untuk digunakan pada saat pandemi COVID-19.

"Jadi selalu kita ingat bahwa WHO sendiri jangan memilih vaksin karena semua vaksin itu sama baiknya. Artinya, vaksin uji lolos tahap ketiga dan WHO sudah me-list sebagai vaksin bisa digunakan ini sama kualitasnya. Sehingga ini tidak kami bedakan apakah vaksin a atau vaksin b," kata dokter Nadia Tarmizi saat acara diskusi secara online di Jakarta, Selasa, 18 Mei 2021.

Menurut Nadia, Indonesia harus bersaing untuk mendapatkan vaksin dengan negara lain. Tidak ada perbedaan tahap satu, tahap dua, dan tahap ketiga. "Tahap pertama, vaksin Sinovac, akhirnya Maret kita kedatangan vaksin AstraZeneca di bulan Juni dan Juli ada vaksin Novavak dan Pfizer kita akan gunakan,” ujarnya.

Nadia menjelaskan, pemberian vaksin COVID-19 itu dibagi ke beberapa prioritas kelompok. Pertama, vaksin untuk petugas kesehatan yang berisiko tinggi. "Karena kita tahu akan sangat mudah terpapar dapat menularkan virus ke keluarganya pasien yang dirawatnya dan lingkungan sekitarnya," katanya.

Kedua, vaksin untuk kelompok yang dengan kelompok risiko atau lansia. Ketiga, vaksin untuk kelompok pekerja sosial yang memiliki risiko atau disebut pemberi pelayanan publik.

"Sasaran vaksinasi kita kan 181,5 juta (dosis). Artinya kita membutuhkan 426 juta dosis. Ketersediaan vaksin tidak datang sekali," katanya.

Selanjutnya, kata dia, vaksinasi itu diberikan kepada masyarakat umum. Kurang lebih 140 juta sasaran orang yang akan divaksin.

Lalu, siapa masyarakat umum yang akan mendapatkan vaksinasi COVID-19 tersebut?

Pertama, masyarakat yang dilihat dari aspek geospasial artinya mereka yang tinggal secara geografis memiliki angka kejadian COVID-19 yang tinggi atau terus menerus terjadi cenderung tidak terjadi penurunan.

"Kedua, masyarakat rentan dari aspek ekonomi. Artinya ekonomi ke bawah secara sosial kurang beruntung. Termasuk tadi kelompok dengan disabilitas gangguan jiwa kita dahulukan dulu pada proses vaksinasi," ujarnya.

Ia menambahkan, vaksinasi untuk masyarakat umum yang sudah dilakukan ialah Provinsi DKI Jakarta. Sebab, DKI Jakarta kasus corona terus mengalami peningkatan karena ini daerah urban. "Kemarin DKI sudah memulai, ini jadi pilot project," katanya.