Jurus Kino Indonesia Genjot Pendapatan pada 2022

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Kino Indonesia Tbk (KINO) optimistis ada peningkatan kinerja keuangan pada 2022. PT Kino Indonesia Tbk telah menyiapkan sejumlah strategi untuk dongkrak pendapatan.

"Saat ini salah satu produk yang paling banyak turun itu hand sanitizer. Memang sebelum pandemi kita sudah memiliki hand sanitizer jadi itu menjadi salah satu produk penunjang kita," ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Kino Indonesia Tbk, Rabu (10/11/2021).

Budi menjelaskan, sejak awal COVID-19 menyerang China, pihaknya sudah menyiapkan bahan pembuatan hand sanitizer. Oleh karena itu, pendapatan pada 2020 tidak mengalami penurunan drastis meski sejumlah segmen merosot.

"Jadi beberapa bulan pandemi itu naik signifikan. Tapi ada beberapa pabrikan juga yang survive dan merambah bisnis hand sanitizer sehingga penjualan kita di bisnis ini mengalami penurunan saat ini," ujarnya.

Pada 2022, KINO menegaskan bila pihaknya telah memiliki hand sanitizer food grade sehingga kenaikan penjualan di produk ini diharapkan mampu kembali terjadi.

"Hand sanitizer sudah menjadi habit di masyarakat saat ini. Kita juga sudah mendapatkan food grade dengan itu kita bisa untuk sendok dan garpu untuk bertahan. Selain itu kita yakin perawatan tubuh juga akan ada recovery tahun depan," tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Kinerja Keuangan hingga Kuartal III 2021

Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel
Ilustrasi Laporan Keuangan. Unsplash/Austin Distel

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kino Indonesia Tbk mencatat penjualan Rp 2,93 triliun hingga kuartal III 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,11 triliun. Beban pokok penjualan turun menjadi Rp 1,55 triliun hingga September 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,59 triliun.

Sementara itu, laba kotor susut menjadi Rp 1,37 triliun hingga September 2021. Pada periode sama tahun sebelumnya, laba kotor tercatat Rp 1,51 triliun. Perseroan mencatat kenaikan sejumlah beban antara lain beban umum dan admistrasi naik menjadi Rp 302,91 miliar hingga kuartal III 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 288,38 miliar.

Beban bunga bertambah menjadi Rp 116,82 miliar hingga kuartal III 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 88,70 miliar. Selain itu, laba kurs turun dari Rp 2,25 miliar hingga September 2020 menjadi Rp 1,01 miliar hingga September 2021.

Sementara itu, laba penjualan aset tetap naik menjadi Rp 9,14 miliar hingga September 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 869,02 juta.

Perseroan mencatat laba bersih Rp 81,83 miliar hingga September 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 160,7 miliar hingga September 2020. Dengan demikian, laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun menjadi Rp 58 hingga kuartal III 2021 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 113.

Total ekuitas naik menjadi Rp 2,63 triliun hingga September 2021 dari Desember 2020 sebesar Rp 2,57 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp 2,68 triliun hingga September 2021 dari Desember 2020 sebesar Rp 2,67 triliun.

Sementara itu, total aset naik menjadi Rp 5,31 triliun hingga September 2021 dari Desember 2020 sebesar Rp 5,25 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas Rp 176,84 miliar hingga 30 September 2021 dari Desember 2020 sebesar Rp 183,99 miliar.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel