Jurus PT Timah Genjot Pendapatan pada 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang 2020, pendapatan PT Timah Tbk (TINS) turun 21,33 persen dari Rp 19,34 triliun pada 2019 menjadi Rp 15,21 triliun pada 2020. Beban pokok pendapatan perseroan merosot 22,53 persen dari Rp 18,19 triliun pada 2019 menjadi Rp 14,09 triliun. Laba bruto susut 2,1 persen dari Rp 1,14 triliun pada 2019 menjadi Rp 1,11 triliun pada 2020.

Melihat hal itu, Sekretaris Perusahaan PT Timah Tbk Muhammad Zulkarnaen mengaku pihaknya berharap kinerja 2021 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

"Strategi timah terhadap kondisi tahun ini, yakni berharap bisa normal kembali karena faktor pandemi dan cuaca," katanya kepada Liputan6.com, Rabu (17/3/2021).

Saat disinggung berapa target pendapatan yang dihendak dicapai PT Timah tahun ini, Zulkarnaen enggan mengungkapkannya secara rinci.

Perusahaan pelat merah ini juga mencatatkan penurunan kerugian sepanjang tahun 2020. Rugi tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk susut 44,28 persen.

PT Timah Tbk mencatat rugi tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 340,59 miliar pada 2020 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 611,28 miliar.

Perseroan mencatat penurunan beban umum dan administrasi dari Rp 1,06 triliun pada 2019 menjadi Rp 832,98 miliar pada 2020. Beban penjualan turun dari Rp 155,13 miliar pada 2019 menjadi Rp 69,44 miliar pada 2020.

Beban keuangan susut dari Rp 781,99 miliar pada 2019 menjadi Rp 607,37 miliar pada 2020. Perseroan mencatat penurunan keuntungan atas revaluasi properti investasi dari Rp 180,90 miliar pada 2019 menjadi Rp 56,60 miliar pada 2020.

Pada penutupan perdagangan saham Rabu, 17 Maret 2021, saham PT Timah Tbk naik 3,11 persen ke posisi Rp 1.825 per saham. Saham TINS dibuka stagnan ke posisi Rp 1.770 per saham. Saham TINS sempat berada di level tertinggi 1.865 dan terendah 1.825 per saham. Total frekuensi perdagangan saham 34.380 kali dengan nilai transaksi Rp 357,8 miliar.

Batal Jual Tanjung Alam Jaya

(Foto: PT Timah)
(Foto: PT Timah)

Sebelumnya, PT Timah Tbk (TINS) resmi membatalkan penjualan PT Tanjung Alam Jaya (TAJ). Sebelumnya, perusahaan telah melakukan perjanjian terkait penjualan TAJ pada 2014.

Namun, hal tersebut akhirnya resmi dibatalkan. Saat dikonfirmasi, Sekretaris Perusahaan Timah Muhammad Zulkarnaen menegaskan, terdapat faktor utama yang membuat pembatalan penjualan TAJ dilakukan.

"Alasan tidak jadi dijual karena potensi cadangan yang cukup ekonomis," katanya kepada Liputan6.com, Rabu, 17 Maret 2021.

Saat disinggung langkah apa yang akan dilakukan perusahaan terkait ekspansi batu bara, Zulkarnaen menyebut pihaknya masih akan fokus pada wilayang yang sudah memiliki izin.

"Sementara masih fokus kepada wilayah IUP, (Izin Usaha Pertambangan) dimaksud," ujarnya.

PT Tanjung Alam Jaya merupakan anak perusahaan PT Timah Tbk yang fokus pada tambang batu bara. Lokasi pertambangan berada di Kalimantan Selatan.

Pada 2014, perusahaan pelat merah ini menjual saham PT Tanjung Alam Jaya kepada PT Duta Perwira Nusantara senilai USD 30 juta.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI), perseroan membatalkan proses penjualan saham TAJ pada Desember 2020 dan melanjutkan aktivitas operasional TAJ.

Sesuai dengan ketentuan PSAK 58, grup mereklasifikasi akun-akun dalam laba rugi untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2019 yang sebelumnya disajikan sebagai operasi yang telah dihentikan menjadi disajikan sebagai operasi yang dilanjutkan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini