Jurus Taiwan Siasati Harga Masker Tak Meroket Saat Pandemi Virus Corona COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Setelah Presiden Jokowi pada 2 Maret 2020 mengumumkan dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) positif Virus Corona COVID-19, timbul reaksi besar dari berbagai kalangan di Tanah Air terhadap wabah yang kini telah menjadi epidemi ini. Banyak orang mulai membeli masker. Namun, masyarakat mengalami kesulitan mendapatkannya, karena harga melonjak naik lebih dari 10 kali lipat.

Menurut informasi dari pihak Taiwan di Jakarta,  Taipei Economic and Trade Office (TETO), semua orang dapat membeli masker medis dengan harga normal (satu lembar masker setara Rp 2.000). Tak ada kenaikan meski di tengah wabah Virus Corona COVID-19.

Bagaimana Taiwan melakukannya? Berikut ini jurus Negeri Formosa seperti dikutip dari keterangan tertulis pihak TETO yang dikutip Kamis (12/3/2020):

Pertama: Pemerintah Taiwan telah mengambil tidakan lebih awal untuk pencegahan epidemi. 

Pemerintah Taiwan telah memulai pencegahan epidemi sejak dini, mendahului Jepang, Korea Selatan, dan Eropa. 

Taiwan secara tegas mengadopsi langkah-langkah pencegahan radang paru-paru Wuhan pada 31 Desember tahun lalu. Setelah epidemi di China berangsur-angsur semakin merebak, Taiwan mendirikan pusat komando epidemi pada tanggal 20 Januari untuk menangani upaya pencegahan epidemi nasional.

Pemerintah Taiwan telah lama mengakui bahayanya virus corona, dan mengupayakan berbagai langkah anti-epidemi sejak awal. Ini merupakan kunci penting keberhasilan pencegahan epidemi di Taiwan.

Kedua: Kebijakan masker pemerintah Taiwan yakni "Membuka Arus Masuk dan Menghemat Arus Keluar.

Dengan pengalaman memerangi SARS pada tahun 2003, pemerintah Taiwan menyadari bahwa masker akan menjadi salah satu benda anti-epidemi yang diincar oleh masyarakat. Apalagi ditambah dengan masker yang diproduksi oleh Taiwan yang jumlahnya sangat terbatas.

Di mana lebih dari 80% masker di impor dari luar negeri setiap tahun.  Untuk "menghemat arus keluar ", pada 24 Januari pemerintah Taiwan mengumumkan untuk sementara waktu melarang masker medis di ekspor ke luar negeri.

Ketiga: Keputusan pemerintah Taiwan untuk membeli masker medis di seluruh negeri, dan mendistribusikan serta menjualnya secara nasional. 

Menyikapi kebutuhan masker yang sangat tinggi dari masyarakat, bahkan terjadi antrian pembelian dan peningkatan harga masker. Demi meyakinkan publik, pemerintah Taiwan memutuskan untuk membeli masker medis yang diproduksi di seluruh negeri pada awal 31 Januari, dan serentak menugaskan Pusat Komando Epidemi Center untuk distribusikan ke unit medis, serta ke minimarket dan apotek nasional untuk dijual dengan harga yang sama kepada warga di seluruh negeri.

Sejak itu, harga masker medis di Taiwan ditetapkan dengan harga yang sama oleh pemerintah, dan tidak akan ada kenaikan harga. Keberhasilan dari kebijakan masker pemerintah Taiwan ini telah mulai diterapkan oleh negara lainnya, misalnya, Prancis pada tanggal 3 Maret mengumumkan bahwa mereka akan membeli dan mengumpulkan masker untuk mendistribusikannya secara nasional.

Keempat : Taiwan membentuk "Tim Nasional Masker" dan secara aktif "Membuka Arus Masuk"  masker. 

Karena produksi masker di Taiwan sangat terbatas, untuk memenuhi permintaan domestik, pemerintah Taiwan memutuskan untuk berinvestasi sekitar NT $ 200 juta (sekitar Rp 95 miliar) pada tanggal 31 Januari, berharap dapat menambah 60 jalur produksi masker dalam waktu yang singkat. Akibatnya, lusinan produsen mesin dan teknologi besar Taiwan secara aktif merespons kebijakan pemerintah, dan menyediakan sumber daya manusia secara sukarela dan material secara gratis untuk membentuk tim masker nasional untuk bersama-sama membangun jalur produksi masker tambahan.

Berkat upaya semua orang, yang semula untuk membangun 60 jalur produksi masker diperlukan waktu enam bulan, bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari sebulan, yang memungkinkan produksi masker medis Taiwan meningkat jadi 10 juta lembar per hari pada awal Maret.

Selain ini, Pemerintah Taiwan telah menginvestasikan tambahan 30 jalur produksi yang baru lagi, dan diharapkan akan selesai secara bertahap pada akhir Maret untuk meningkatkan produksi masker. Pada saat itu, Taiwan akan menjadi produsen masker terbesar kedua di dunia.

Kelima: Pemerintah Taiwan mendahului negara-negara lain dalam penerapan "Sistem Identitas Asli untuk Pembelian Masker". 

Untuk memungkinkan semua orang bisa membeli masker dan mencegah orang menimbun masker, pemerintah Taiwan telah menerapkan "Sistem Identitas Asli untuk Pembelian Masker" sejak tanggal 6 Februari. Dengan kata lain, setiap orang harus pergi ke apotek dan klinik kesehatan di seluruh negeri untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional, dan setiap orang dibatasi jumlah pembeliannya per minggu di hari tertentu.

Warga harus berdasarkan nomor terakhir dari nomor kartu identitas. Misalnya yang bernomor ganjil, dapat membeli masker di hari Senin, Rabu dan Jumat setiap minggunya, sedangkan yang bernomor genap dapat membeli di hari Selasa, Kamis dan Sabtu setiap minggunya, dan hanya di hari Minggu saja semua orang (tidak berlaku nomor ganjil dan genap) dapat membeli masker.

Saat ini, orang dewasa dapat membeli 3 lembar masker, dan anak-anak dapat membeli 5 lembar masker per minggu di hari tertentu. Harga per lembar masker masih dipertahankan di nilai NT $ 5 (sekitar Rp 2.000).

Di masa depan, tergantung pada produksi masker di Taiwan, jumlah pembelian per orang per minggu akan ditingkatkan. Taiwan menjadi pioner dalam penerapan sistem identitas asli untuk masker pada 6 Februari, dan kemudian diikuti negara lainnya. Sebagai contoh, Korea Selatan mulai menerapkan sistem identitas asli yang serupa pada 9 Maret.

Keenam: Taiwan menggunakan teknologi informasi untuk memfasilitasi distribusi oleh pemerintah dan pembelian masker oleh masyarakat. 

Keberhasilan sistem identitas asli untuk masker di Taiwan bergantung pada sistem asuransi kesehatan nasional yang komprehensif dan data besar di cloud. Jumlah penjualan masker setiap hari di berbagai tempat dapat dilaporkan secara online melalui internet setiap saat. Sehingga pemerintah dapat mengetahui apotik mana saja yang kekurangan stok masker atau kelebihan stok, dan bisa segera memperbaharui pembagian jumlah masker di tiap apotik.

Selain itu, pemerintah Taiwan dan sektor swasta juga telah mengembangkan banyak aplikasi untuk pembelian masker. Selama orang menggunakan ponsel mereka, mereka dapat memeriksa persediaan masker di semua tempat apotek melalui ponsel terlebih dahulu sebelum membeli.

Pemerintah Taiwan saat ini sedang menjajaki peluncuran "Sistem Identitas Asli 2.0 untuk Pembelian Masker", yang menggunakan analisis data besar yang lebih akurat dalam menghitung distribusi masker di berbagai tempat. Di masa depan, beberapa masker akan dijual melalui Internet untuk memfasilitasi beberapa karyawan yang tidak dapat mengambil cuti untuk pergi ke apotek beli karena pekerjaan.

Masker: Bahan Preventif yang Diperlukan Cegah Virus Corona

(Courtesy of Taiwan's Presidential Office)

Masker adalah benda kecil, tetapi merupakan bahan preventif yang sangat diperlukan bagi publik dalam menghadapi epidemi Virus Corona.

Pemerintah Taiwan telah mengambil langkah-langkah seperti "Membuka Arus Masuk dan Menghemat Arus Keluar" untuk memberikan rasa aman kepada rakyatnya. 300.000 orang Indonesia dan orang asing lainnya yang tinggal secara legal di sana, juga dapat menikmati hak yang sama seperti warga lokal untuk membeli masker dengan menggunakan kartu asuransi kesehatan nasional dan kartu izin tinggal mereka.

Melalui keunggulan medis dan kekuatan teknologi yang dimiliki Taiwan ini, pemerintah Negeri Formosa bersedia berbagi pengalaman pencegahan epidemi yang berharga dengan seluruh negara di dunia.

Saksikan video pilihan di bawah ini: