Juvenoia, Sindiran Orang Tua terhadap Perilaku Anak Muda

·Bacaan 3 menit

VIVA – Fenomena yang saat ini seringkali kita saksikan adalah anggapan kesenjangan antar generasi. Sebuah penilaian bahwa generasi tua lebih baik dari generasi muda.

Fenomena tersebut muncul seiring dengan anggapan bahwa generasi muda lebih banyak mengeluh, suka menghabiskan waktunya di dunia maya, memilih jalan-jalan dibandingkan belajar, kaum rebahan, mengandalkan orang tua dibandingkan bekerja, tidak memiliki kemauan untuk maju, dan masih banyak lainnya.

Hal tersebut muncul sebagai protes generasi yang lebih tua kepada generasi yang lebih muda. Meskipun hal tersebut tidak seluruhnya dapat dibenarkan. Karena tidak sedikit anak muda yang mampu sukses di dunia bisnis dan berprestasi internasional.

Berbagai anggapan tentang anak muda tersebut bisa dirasakan tidak hanya di lingkungan masyarakat tetapi juga di lingkungan kerja. Pernah gak kalian ketika menjadi pegawai baru kemudian memperoleh sindiran dari senior begini; “Ehmmm, dasar anak muda. Masih jadi pegawai baru saja sudah kebanyakan gaya. Suka mengeluh dan gak mau bekerja keras.”

Fenomena menyindir terhadap generasi muda tersebut memang sudah menjadi kebiasaan orang yang lebih tua atau memang sesuai dengan kondisi anak muda saat ini? Mari kita coba kaji ulasan tersebut.

Mari kita coba samakan persepsi bahwa kata generasi merujuk pada generasi sosial. Sehingga kita dapat artikan bahwa generasi adalah suatu ekosistem manusia yang hidup pada masa yang sama.

Agar dapat membedakan kehidupan ekosistem manusia hidup pada generasi yang sama yaitu (1) mempunyai rentang usia yang berdekatan dan melewati masa sejarah yang sama, (2) memiliki kesamaan pola perilaku sosial, dan (3) saling sadar memiliki pengalaman hidup pada tatanan sosial yang tidak jauh berbeda.

Suatu kebiasaan yang menganggap bahwa generasi muda lebih buruk dari generasi sebelumnya, baik secara perilaku, sikap, maupun tutur kata. Ternyata itu tidak hanya muncul pada saat ini.

Hal tersebut bukan hal baru yang kehadirannya disebabkan karena globalisasi, teknologi informasi dan komunikasi. Namun ternyata hal tersebut sudah muncul sejak zaman dahulu.

Bahwa orangtua mempunyai kecemasan terhadap generasi selanjutnya. Kecemasan yang berlebihan sehingga orang tua seolah memiliki tangguh jawab bahwa anak muda saat ini juga harus mempunyai sikap, perilaku, kebiasaan dan tutur kata sebagaimana yang dimiliki oleh orang tua tersebut.

Padahal jika kita merujuk perkembangan statistik anak muda dari segi pendidikan, ekonomi, dan sosial relatif meningkat dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Bahkan tidak sedikit yang mampu sukses di usia yang sangat muda.

Anak muda saat ini jika diperhatikan mempunyai tingkat kepedulian sosial dan kesehatan yang baik, kemauan belajar yang tinggi, responsif terhadap perkembangan teknologi informasi dan teknologi, mampu beradaptasi dengan berbagai lingkungan, memiliki karakter dan kepribadian yang baik, sangat mencintai Indonesia dan budayanya, tidak kehilangan jati diri bangsa, dan bahkan anak muda saat ini sangat peduli dengan pekerjaan serta bertanggung jawab terhadap keberlanjutan karier mereka.

Jika melihat kondisi anak muda sebagaimana pada ulasan di atas memang seharusnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh generasi sebelumnya. Namun kekhawatiran orang tua tidak bisa disalahkan. Karena memang dimungkinkan ada individu anak muda yang sangat memerlukan perhatian dan pembinaan dari orang tua agar mereka dapat berkembang sebagaimana anak muda pada umumnya.

Kecemasan orangtua yang menyebabkan paranoid, disebabkan beberapa hal; pertama, evolusi biologis. Suatu sikap was-was dan sensitif terhadap ancaman yang memungkinkan akan dihadapi oleh keturunannya atau generasi selanjutnya.

Kecemasan akan keberlangsungan hidup generasi selanjutnya. Ketakutan apakah generasi selanjutnya dapat hidup survive di lingkungan mereka atau akan tergerus dengan ancaman perubahan sosial Kedua, globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini ditakutkan oleh orang tua akan mengubah perilaku dan pola pikir anak muda ke arah yang negatif.

Perbedaan sikap, perilaku dan kebiasaan menjadi salah satu penyebab orangtua akan selalu membandingkan berbagai hal masa lalunya dengan baik buruknya di masa saat ini. Selain itu, globalisasi dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mengubah persepsi orangtua dan anak muda.

Judgment antar generasi tersebut diharapkan dapat diperbaiki dengan memperbaiki hubungan antar generasi.

Salah satunya yaitu developmental stake hypothesis. Suatu sikap terbuka yang dilakukan oleh orang yang lebih tua dalam memahami perilaku dan sikap anak muda. (Penulis: Wardani, M.Pd., Dosen IAIN Metro Lampung, Alumni Bakrie Graduate Fellowship Tahun 2013)