Juventus Gagas Liga Super Eropa? Lawan Atalanta Aja Enggak Bisa Menang

Zaky Al-Yamani
·Bacaan 2 menit

VIVA – Legenda Juventus, Zibi Boniek mengkritik keras mantan klubnya atas keterlibatan mereka dalam pembentukan Liga Super Eropa. Boniel yang kini menjabat sebagai Presiden FA Polandia mengejek Juventus dalam polemik ini.

"Sepakbola adalah milik semua orang. Kami orang Eropa, kami tidak memiliki mentalitas Amerika. Kami tidak pernah berpikir bahwa hanya klub kaya yang bisa bersenang-senang," kata Boniek dilansir SkySports, Selasa 20 April 2021.

"Kami semua yakin bahwa tidak perlu 'mengunci' hanya ada 12-15 tim elite di dunia, terutama jika klub-klub ini bahkan ada yang tidak bisa menang melawan apa yang disebut klub kecil seperti Atalanta," sindir Boniek.

Seperti diketahui, Juventus yang merupakan satu dari 12 penggagas Liga Super Eropa, tidak pernah bisa menang atas Atalanta di Serie A musim ini. Juventus kalah 0-1 di markas Atalanta pada 18 April 2021.

Sebelumnya, Juventus pun hanya mampu bermain imbang 1-1 saat menjamu Atalanta pada 17 Desember 2020 lalu. Selain kepada Juventus, Atalanta juga jadi momok buat AC Milan dan Inter yang turut terlibat dalam Liga Super Eropa.

Gagasan Liga Super Eropa memang dikecam banyak pihak. Baik dari level federasi, klub, pemain, hingga suporter. Apalagi pakar keuangan olahraga DBRS Morningstar, Michael Goldberg meyakini Liga Super Eropa akan merugikan klub-klub kecil.

Menurut Goldberg, kerangka Liga Super Eropa akan melebarkan kesenjangan antarklub dan klub-klub elit akan semakin kaya, mudah menggaet pemain yang lebih baik dan semakin gampang memenangi kompetisi domestik dibandingkan yang sudah terjadi saat ini.

"Dari sudut pandang finansial, klub-klub Liga Super mungkin akan lebih baik, tetapi saya rasa mereka akan menyusutkan produk yang mereka sajikan saat tampil di liga domestik," kata Goldberg sebagaimana dilansir Reuters, Selasa 20 April 2021.

"Lantas klub-klub yang tidak terlibat Liga Super akan semakin berada dalam posisi kurang diuntungkan dari yang sudah terjadi sekarang," ujarnya menambahkan.

Pada Minggu lalu, 12 klub Eropa secara serempak mengumumkan peluncuran kompetisi tengah pekan tandingan Liga Super Eropa, yang menjadi sasaran kritik otoritas sepak bola, suporter hingga politisi, yang menyebutnya sebagai pelanggengan kekuatan dan kekayaan segelintir klub elit.