Kabar Buruk! Temuan Kasus Tuberkulosis RI Menurun Sejak Adanya COVID-19

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr Siti Nadia Tarmizi menyampaikan terkait eliminasi tuberkulosis di masa pandemi COVID-19.

Menurutnya, pada pertengahan Juli 2021, Presiden Joko Widodo melakukan rapat terbatas khusus untuk menguatkan komitmen eliminasi tuberkulosis di tanah air. Berikut tiga arahan yang diberikan Jokowi:

- Pelacakan secara agresif untuk menemukan penderita TBC di masa pandemi COVID-19.

- Ketersediaan obat dan pengobatan tuberkulosis yang harus tuntas.

- Upaya pencegahan tuberkulosis yang harus dilakukan lintas sektor.

“Penemuan kasus baru TBC pada 2019 itu 67 persen, tapi semenjak COVID-19 penemuannya turun menjadi 42 persen. Jadi, PR kita adalah menemukan semua bentuk kasus TBC yang diestimasikan ada 845 ribu,” ujar Siti Nadia dalam Kongres Nasional (KONAS) XVI Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) pada Sabtu, 4 September 2021.

Tantangan yang Dihadapi

Menurut keterangan PDPI, tantangan terkait pengendalian dan pemberantasan masalah kesehatan paru dan kedokteran respirasi masih menjadi masalah utama di Indonesia.

Masalah polusi udara, konsumsi rokok yang tinggi, dan kepatuhan tidak merokok di tempat umum yang rendah, serta penularan penyakit paru masih belum terkendali.

Hal ini kian diperparah oleh kejadian re-emerging disease yang menjadi ancaman seperti COVID-19.

Data terbaru pada 2020 menunjukkan bahwa dari 67 persen kasus TBC yang terjadi, 15-54 persennya ditemukan pada usia produktif. Sedang, sembilan persennya adalah usia anak kurang dari 15 tahun.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia dengan perkiraan jumlah orang yang jatuh sakit akibat TBC mencapai 845.000 dengan angka kematian sebanyak 98.000 atau setara dengan 11 kematian/jam.

Langkah PDPI

Menyambut PP No 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, PDPI menjalankan berbagai langkah seperti:

1. Menyiapkan dan mengimplementasikan catch-up plan melalui:

a. Mapping area yang dilaporkan mengalami penurunan kasus selama pandemi COVID-19.

b. Penemuan kasus secara intensif melalui active case finding pada wilayah dan populasi rentan.

c. Menyediakan nutrisi untuk pasien TBC dan keluarganya.

2. Meningkatkan pemanfaatan teknologi digital yaitu:

a. Teleconsultations untuk meningkatkan akses ke layanan kesehatan.

b. Layanan virtual pada pasien TBC, monitoring dan tatalaksana.

3. Penguatan community-lead:

a. Community capacity building.

b. Community networks.

4. Pemanfaatan latest advances dan penelitian untuk kebaikan pasien:

a. Molecular diagnostics dan DST.

b. Menggunakan shorter all oral regimen untuk TPT sebagaimana TB-MDR.

c. Mempercepat OR pada regimen BPaL.

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar COVID-19 Mati Gaya

Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis Pakai Masker Boleh Gaya, Biar Covid-19 Mati Gaya (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel