Ada Penemuan Organ Baru dalam Tubuh Bermanfaat untuk Pasien Kanker

Rochimawati, Sumiyati
·Bacaan 2 menit

VIVA – Para ilmuwan Belanda telah menemukan organ baru dalam tubuh manusia, yang tidak diketahui oleh para ahli di bidang ilmu kedokteran, selama berabad-abad.

Ya, ilmuwan dari Belanda diyakini telah menemukan sepasang kelenjar ludah yang tersembunyi di tengkorak manusia, tempat rongga hidung dan tenggorokan bertemu. Penemuan organ yang sebelumnya terlewatkan ini, ditemukan secara tidak sengaja selama pemindaian yang dirancang untuk mencari pertumbuhan tumor.

Para peneliti dari Institut Kanker Belanda, menamakan organ tersebut sebagai 'kelenjar ludah tubarial' dan menyatakan penemuan ini dapat membantu mengurangi efek samping terapi radiasi pada pasien kanker.

Baca juga: Biar Langsing, Ahli Sarankan Minum Air Putih 30 Menit Sebelum Makan

Kelenjar yang baru ditemukan itu, memiliki panjang sekitar 1,5 inci dan diyakini bisa melumasi dan melembapkan tenggorokan bagian atas, di belakang hidung dan mulut.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Radiotherapy and Oncology, para peneliti memeriksa setidaknya 100 pasien kanker prostat, bahkan mereka membedah dua mayat sebelum memastikan keberadaan kelenjar tersebut.

"Alasan potensial mengapa kelenjar tersebut tidak ditemukan sampai sekarang, mungkin karena organ ini tidak dapat dilihat dengan metode pencitraan medis konvensional, seperti USG, CT scan atau MRI," kata salah satu peneliti, dilansir Times of India, Jumat 23 Oktober 2020.

Organ ini baru diketahui, ketika para dokter telah menggunakan jenis pemindaian lanjutan yang disebut PSMA PET/CT, jenis pemindaian baru yang membantu mendeteksi penyebaran kanker prostat. Mengapa penemuan ini bisa bermanfaat bagi pasien kanker?

Baca juga: Hati-hati, 6 Permukaan Benda Ini Berisiko Tinggi Tularkan Virus Corona

Penemuan ini diyakini penting untuk merawat pasien kanker. Hingga saat ini, hanya ada tiga kelenjar ludah besar yang diketahui pada manusia, yaitu satu di bawah lidah, satu di bawah rahang dan satu di belakang rahang di belakang pipi.

Selain itu, beberapa kelenjar ludah mikroskopis tersebar di seluruh tenggorokan dan mulut. Adanya kelenjar ludah mayor di belakang daerah nasofaring tidak diketahui.

Selama terapi radiasi untuk mengobati kanker di kepala dan leher, para dokter berusaha menghindari kelenjar ludah utama karena jika rusak dapat menyulitkan pasien untuk berbicara, menelan, dan makan.

Dalam kasus seperti ini, penemuan kelenjar baru bisa sangat membantu untuk mengobati kanker karena dokter sebelumnya tidak menyadari keberadaannya.

Penemuan organ ini tentu saja menjadi terobosan baru dan akan berguna bagi ilmu kedokteran dalam berbagai cara. Namun, apakah kelenjar tubaria akan dianggap sebagai organ baru atau hanya menjadi bagian dari sistem organ kelenjar ludah, hal ini masih diperdebatkan.