Kabelo Naria Kapuna ri Karona Palu

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Palu - Kareba peumba Kapuna ri Karona nipataka BKSDA Sulteng, pepatora ka todea nemo sampe maria kajadia anu ledo niperapita.

Panguli BKSDA, Karona hai belona majadi tampa rajagai ntoto asupaya katuvua nu kapuna no binata ntanina ledo mateganggu nte manusia.

Kaupu nu bula Juni barapia, dopi anu nepatora hai nipatamo BKSDA Sulteng. Pepatora hai najadi bahasa ka todea, tarutamana ka geira nonturo ri bivi nu karona.

"Popataka dopi pepatora hai nasesuaimo nte parenta daki ri KKH, ane tampa Naria binata mbaso harus maria pepatorana asupaya manusia makava ledo makajuru-juru," panguli Balengga BKSDA Sulteng Hasmuni Hasmar, Salasa (7/7/2020).

Pepatora vesia paralu ntoto ane panguli Balengga BKSDA risihi. Apa ponturo manusia nte tampa binata ri Palu nosirapai ntoto.

Tapi, nombatangani binata eva Kapuna ri Karona hi dopa mamala BKSDA pura. Boitumo BKSDA aga nombadekeika pepotara nggo, nariapa pamarenta mombatanganina.

"Karona ri Palu hi dopa nesua tampa konservasi eva tampa nijagai BKSDA, nariapa pamarenta mombatanganina. Mamala BKSDA mombaurusina pura nuanu hi, tapi harus pamarenta ri Palu mombausulkan Karona majadi tampa esensial tampa rajagai BKSDA, vesia pade mamala BKSDA mombatanganina pura," Pangulina.

Bahasa dalam artikel ini adalah bahasa Suku Kaili, suku mayoritas di Sulawesi Tengah.

Simak Terjemahan Bahasa Indonesia Berikut Ini:

Awas Buaya-Buaya di Muara Sungai Palu

Papan peringatan adanya buaya di Sungai Palu yang dipasang BKSDA Sulteng. (Foto; Liputan6.com/ Heri Susanto).
Papan peringatan adanya buaya di Sungai Palu yang dipasang BKSDA Sulteng. (Foto; Liputan6.com/ Heri Susanto).

Informasi peringatan adanya buaya di Sungai Palu dipasang pihak BKSDA Sulteng untuk mencegah konflik satwa liar dan manusia.

BKSDA pun berharap Sungai Palu hingga muara ditetapkan sebagai kawasan esensial demi keberlangsungan hidup buaya-buaya dan menjaga satwa liar lainnya di lokasi itu.

Akhir bulan Juni lalu, sejumlah titik di sepanjang Sungai Palu hingga muara dipasangi papan informasi keberadaan buaya muara. Pemasangan papan itu menjadi penegas bagi masyarakat, khususnya yang bermukim di dekat habitat buaya itu untuk berhati-hati.

"Pemasangan papan informasi itu sesuai dengan protap dan perintah direktur KKH, bahwa kawasan yang ada satwa liar tindakan pertama adalah peringatan untuk masyarakat agar tidak mendekati," Kepala BKSDA Sulteng, Hasmuni Hasmar, Selasa (7/7/2020).

Peringatan semacam itu dinilai Hasmuni penting diberikan, mengingat kawasan Sungai Palu, yang menjadi habitat buaya muara berada dekat permukiman warga yang membuat potensi konflik antara satwa dan manusia bisa timbul.

Hasmuni menekankan, bahwa kewenangan pihaknya dalam penanganan satwa liar berbahaya tersebut di Sungai Palu masih terbatas pada pencegahan, pengawasan, dan evakuasi satwa jika terjadi konflik.

Sedangkan, mengenai tata kelola ekosistem kawasan itu secara keseluruhan masih menjadi kewenangan pemerintah daerah.

"Sungai Palu tidak masuk wilayah konservasi atau masih jadi wewenang Pemda sehingga semua kegiatan berkaitan dengan satwa liar dikoordinasikan ke pemda dan pihak terkait lainnya. Usulan penetapan kawasan esensial jadi kewenangan Wali Kota atau Bupati, sampai hari ini belum ada usulan itu," ujarnya.

Simak video pilihan berikut ini: