Kacamata Peninggalan Kekaisaran India Mughal Dilelang, Diperkirakan Bernilai Jutaan Dolar

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta Kacamata milik bangsawan Kekaisaran Mughal akan dilelang mulai bulan depan. Dua pasang kacamata bertahtakan permata abad ke-17 ini diperkirakan akan terjual hingga jutaan dolar.

Tidak hanya bertahtakan permata, kacamata yang diyakini milik bangsawan yang pernah memerintah di Benua India itu memiliki lensa yang terbuat dari berlian dan zamrud, bukan dari kaca.

Kabarnya sepasang kacamata tersebut akan dijual dengan harga USD 2,1 juta hingga USD 3,5 juta.

Kacamata tersebut dirancang khusus untuk membantu pemakainya memperoleh pencerahan hingga menangkal kejahatan. Karena itulah untuk pertama kalinya, barang tersebut akan dipamerkan di depan umum tepatnya di New York, Hong Kong, dan London menjelang penjualannya bulan Oktober mendatang.

“Sejauh yang kami tahu, tidak ada yang lain seperti barang itu,” tutur ketua Sotheby Timur Tengah dan India Edward Gibbs, seperti dikutip dari CNN, Jumat (17/9/2021).

Sementara itu menurut ahli perhiasan Mughal, kacamata itu adalah barang yang sangat langka. Kelangkaannya dapat terukur dari ukuran lensa batu permatanya.

Lensa yang terdapat pada pasang pertama dikenal dengan “Halo of Light”. Lensa tersebut diyakini berasal dari 200 karat berlian tunggal yang ditemukan di Golconda, sebuah wilayah di negara bagian Andhra Pradesh dan Telangana di India.

Sementara untuk lensa kedua, dijuluki sebagai “Gate of Paradise”. Lensa berwarna hijau ini diyakini berasal dari zamrud Kolombia dengan berat lebih dari 300 karat.

Di samping itu, Gibbs beropini bahwa kacamata tersebut memang hanya dimiliki oleh seorang kaisar. Sebab, terlihat dari ukuran batu asli yang menandakan identitas pemilik pertama dari kacatama tersebut.

Tanda tersebut bisa berupa dirinya yang berada dalam lingkaran atau seorang punggawa berpangkat tinggi.

Gibbs mengatakan, “Batu permata apa pun dengan ukuran, besaran, atau nilai ini akan dibawa langsung ke istana Mughal.”

Mengapa demikian? Sebab, batu permata begitu sangat dihargai dalam tradisi Islam dan India. Di sana ada asosiasi yang kuat dan ini menyangkut spiritualitas.

Menurut Gibbs, berlian diasosiasikan dengan “calestial light” dan “enlightenment” di masyarakat India. Sebab, batu tersebut diyakini sebagai “vehicles fot astral forces” yang dapat menyalurkan niat baik alam semesta.

Sedangkan pemberian warna hijau, ini merupakan warna yang berkaitan dengan surga, keselamatan, dan kehidupan abadi dalam Islam, agama yang dipraktikkan oleh penguasa Mughal.

Sekilas Kekaisaran Mughal dan Kacamata

Kekaisaran Mughal terkenal karena telah berjasa dalam memajukan keahlian perhiasan di Asia Selatan. Kacamata ini adalah salah satu peninggalannya. Pada abad ke-17, wilayah dari bagian India ini adalah satu-satunya sumber berlian di dunia, kata Gibbs.

Oleh sebab itu, wilayah ini menjadi pelopor beberapa teknik paling canggih pada zamannya. Khususnya membuat lensa kacamata ini, butuh keterampilan teknis yang luar biasa serta penguasaan ilmiah, kata Gibbs. Sebab, hanya pemotong batu permata Mughal yang bisa mengukirnya dengan tangan, tanpa ada kesalahan.

“Ada risiko besar untuk memotong batu dan ukurannya. Jika salah, Anda kehilangan batu tersebut,” kata Gibbs.

Menurut Gibbs, ahli permata dari Eropa yang berkunjung ke Istana Mughal kemungkinan besar memengaruhi desain kacamata tersebut. Kedatangan misionaris Jesuit yang mengenakan kacamata pince-nez mungkin yang memengaruhi bingkai asli kacamata ini.

Namun, pada akhir abad ke-19, kedua bingkai ini diganti dengan yang seperti sekarang. Dengan menampilkan banyak berlian di sepanjang bingkai dan penghubung kedua lensa.

Sementara itu untuk lensa berwarna, orang-orang seperti Kaisar Nero menyukai kacamata ini. Konon, dia mengenakan kacamata tersebut untuk menghindari matanya agar tidak melihat darah.

Menurut Sotheby, cerita serupa pun dirasakan oleh Kaisar Mughal Shah Jahan yang dikatakan menggunakan lensa zamrud untuk menutupi matanya setelah menangis berhari-hari akibat kematian istrinya Mumtaz Mahal.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel