Kadang Cara Terbaik Menghadapi Pria Pembohong adalah Tak Memberinya Kesempatan Kedua

·Bacaan 5 menit

Fimela.com, Jakarta Tulisan kiriman Sahabat Fimela.

***

Oleh: Oswald Kosfraedi

Malam itu ia kembali memandangi langit dari balik jendela kamarnya. Entah sudah berapa lama ia di sana, membiarkan dirinya berkawan hawa dingin yang merambat di antara celah pintu dan ventilasi kamarnya. Pikirannya berkelana jauh, yang ketika ia lawan malah semakin menggebu dalam kepalanya. Sesekali ia menarik napas panjang, sesekali ia berusaha mengatur irama napasnya agar ia kembali tenang. Gagal. Ia malah semakin tak karuan.

Seandainya sejak awal aku tahu akan berakhir seperti ini. "Mungkin aku tak akan pernah memberi kesempatan Daniel hadir dalam hidupku," batinnya kali ini. Patah hati selalu akan mengubah segalanya. Senyum bahagia yang pernah mekar pada satu masa, pada saatnya akan menjelma sesal berhias air mata pedih yang mengalir tanpa henti. Saat ini pun sama, air matanya menetes tanpa bisa ia tahan lagi.

Ia masih ingat betul bagaimana laki-laki itu hadir dalam hidupnya, berusaha mendapatkan perhatiannya dengan sungguh, mengajaknya mengitari kota pertama kali, hingga mengutarakan perasaannya tepat seminggu sebelum ulang tahunnya dua tahun lalu. Rasa nyaman yang ia rasakan berangsur menumbuhkan rasa sayangnya pada laki-laki itu. Ia hanyut dalam segala kebersamaan mereka, hingga dengan yakin menerima laki-laki yang pernah ia sayangi dengan sungguh itu.

Waktu berjalan cepat, membawa ia pada rasa bahagia yang tak pernah ia dapatkan dari siapa pun, dan itu telah banyak membuatnya melupakan situasi rumah yang tidak baik-baik saja. Pundak laki-laki itu adalah tempat ternyaman untuknya bersandar setiap kali pertengkaran ayah dan ibunya memaksa ia mencari kebahagiannya sendiri. Lalu dengan segala kelembutannya, laki-laki itu menguatkannya dengan berbagai macam cara yang selalu ia kenang hingga detik ini.

"Aku janji akan selalu ada untuk kamu dalam situasi apa pun," kata laki-laki itu pada satu waktu dulu. Kata-kata itu pun masih terngiang dalam kepalanya. Ia memeluk laki-laki itu dengan erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekarang ia membenci dirinya sendiri yang pernah meyakini dengan sungguh bahwa laki-laki itu tidak akan mengkhianatinya, ia lupa bahwa setiap orang bisa berubah seiring perjalanan waktu. Laki-laki itu pula yang membuatnya tersadar akan hal itu.

Ia masih memandangi langit malam itu dengan tatapan sendu. Dalam pikirannya ia membayangkan laki-laki itu sedang bermesraan dengan kekasih barunya, yang dulu diperkenalkan laki-laki itu sebagai teman perempuannya. Ia yang memang tak pernah mencurigai laki-laki itu pun mempercayainya begitu saja. Bahkan memilih untuk berpikir positif setiap kali mendapati laki-laki itu bertukar pesan mesra dengan perempuan yang sekarang menjadi kekasih barunya.

Perlahan ia beranjak dari tempat duduknya, ia menutup gorden kamarnya lalu duduk di atas tempat tidurnya. Sekian bulan berlalu tanpa kabar dari laki-laki itu sedikit membuatnya menjadi terbiasa untuk tidak menghabiskan waktu di depan ponsel menunggu kemungkinan laki-laki itu akan menghubunginya lagi. Hanya saja ia selalu menghabiskan banyak waktu untuk bergulat dengan pikirannya sendiri sebelum ia tertidur. Malam ini pun sama. Entah sudah malam ke berapa ia menjalani situasi seperti itu.

"Terlepas dari segala sakit hati yang kamu alami sampai sekarang, setidaknya kamu perlu bersyukur dengan waktu yang telah menunjukkan kepada kamu semua kebohongan Daniel," ia tersenyum mengingat kembali kata-kata sahabatnya sore tadi. Itu telah membuatnya sedikit lebih baik, meski belum sepenuhnya bisa melupakan laki-laki itu. Ia kembali mengusap air matanya.

Menjalani Hidup yang Baru

Ilustrasi/copyrightshutterstock/interstid
Ilustrasi/copyrightshutterstock/interstid

Segala kenangan dengan laki-laki itu terekam jelas dalam ingatannya. Dulu ia akan selalu diucapkan selamat tidur, yang membuatnya selalu berangkat tidur dengan senang hati. Kini ia hanya terlelap dengan matanya yang sembab, terbangun di pagi hari kembali dengan pikiran yang tak karuan. Semuanya menjelma menjadi repetisi yang tak membahagiakannya sama sekali. Ia lalu melirik jam dinding, mendapati jarumnya yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia memutar lagu kesukaannya, berharap kantuknya akan datang dalam beberapa menit lagi.

Belum saja matanya terpejam, ponsel yang ia letakkan di samping bantal bergetar. Ia meraihnya dengan sedikit kesal. Ia tahu betul, yang meneleponnya di jam seperti ini hanyalah Shella, sahabat dekatnya yang ingin curhat tentang kedekatannya dengan laki-laki yang sangat ia kagumi sejak dulu. Perkiraannya salah. Di layar ponselnya tampak nomor telepon tanpa nama kontak, tapi ia tahu itu nomor Daniel yang telah ia hapus beberapa waktu lalu. Ponsel yang kini ia pegang terus bergetar, namun tak kunjung ia angkat hingga kemudian kembali diam. Sekali lagi panggilan masuk membuat ponsel itu bergetar, pikirannya kosong dan sekali lagi panggilan itu berlalu. Sedetik kemudian pesan whatsapp muncul di layar ponselnya.

"Mei, tolong angkat. Aku mau omong sesuatu sama kamu." Ia masih tak menggubris.

"Mei, tolong."

"Mei, ini penting. Tolong angkat telepon."

Ponselnya kembali bergetar, kali ini mengangkat telepon itu.

"Mei, aku mau minta maaf. Aku sudah salah meninggalkan kamu. Aku dan Lala sudah putus. Kasih aku kesempatan untuk jelaskan semuanya ke kamu," suara laki-laki itu terdengar dari balik telepon.

Air matanya menetes, namun ia belum memberikan jawaban apa pun.

"Mei, bisa kan?" sekali lagi laki-laki itu berbicara.

“Dan…," ia belum menyelesaikan kata-katanya saat pintu kamarnya diketuk tiga kali.

“Mei, kamu belum tidur? Sebentar kamu harus temani mama mempersiapkan acara loh," suara ayahnya terdengar dari balik pintu, segera ia menutup telepon laki-laki itu.

“Iya Pa. Mei baru mau tidur," jawabnya

“Baiklah kalau begitu. Selamat tidur," ayahnya berlalu.

Ia kembali menatap ponselnya, di layar ponselnya pesan whatsapp laki-laki itu masih ia lihat. Ia segera menonaktifkan ponselnya, lalu kembali merebahkan tubuhnya. Ia tersenyum bahagia, ia tersadar situasi rumahnya yang sekarang sudah baik adanya, tanpa pertengkaran ayah dan ibunya lagi. Tak ada yang bisa merebut kebahagiannya lagi, termasuk laki-laki itu.

Dini hari itu, untuk pertama kalinya ia terlelap dengan rasa bahagia yang sekian lama tak pernah ia rasakan.

#ElevateWomen