Kadang Cinta Seorang Ibu Tak Dapat Dipahami dalam Satu Waktu

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Vicky Destiawan

"Mama egois. Mama selalu maksa untuk jadi seperti yang Mama mau. Udahlah lebih baik aku pergi aja dari rumah." Masih jelas terngiang suasana keributan antara anak dan ibunya. Di saat sang ibu memaksakan kehendaknya bahwa pendapatnya yang terbaik karena dia merasa dirinya sudah banyak makan garam. Namun, sebaliknya sang anak yang mulai beranjak dewasa memiliki cara menyikapinya sendiri dan menganggap cara ibunya sudah tidak relevan.

Hal ini sering ditemukan ketika mereka berada di satu perdebatan tentang kehidupan, misalnya, ketika sang anak memilih jurusan kuliah yang dia inginkan; atau jenjang karir apa yang ingin si anak tempuh; dan bahkan ketika memilih pasangan hidup untuk si anak.

Serupa tapi tak sama. Itulah yang terjadi sebenarnya. Pada dasarnya ibu dan anak sifat yang sama namun perbedaan masa lebih dari 30-40 tahun membuat gap yang cukup besar antara ibu dan anak sehingga membuat mereka memiliki pandangan yang jauh berbeda.

Bagi sang ibu, di saat usianya dulu masih berusia 20 tahun, keputusan "A"-lah yang paling benar, karena pada masanya keputusan itu yang terbaik, sedangkan bagi sang Anak, keputusan "B" adalah yang paling tepat untuk masanya kini. Sebagai contoh, saat memilih jurusan kuliah, bagi sang ibu yang lahir 40 tahun sebelumnya, mengambil jurusan "fashion design" bukan pilihan yang bijak, bagi dia fashion design (tata busana) adalah jurusan lulusan penjahit. Tak perlu sekolah tinggi-tinggi, kursus pun bisa. Sedangkan bagi si anak, tata busana merupakan jurusan yang dia idamkan, melihat betapa cemerlangnya kesempatan yang ada disaat ini, dimana ia bisa menampilkan busananya di panggung runaway, dan jika ada jalannya dia bisa mengenyam panggung kancah internasional seperti Paris Fashion Week, New York Fashion Week, London Fashion Week, dan sebagainya.

Pada akhirnya sulit menentukan satu titik putusan yang mufakat. Tak jarang, sang anak pun harus mengalah terhadap pilihan ibu, meski masih tersimpan ambisi di belakangnya. Mau tak mau, sang anak pun menjalaninya dengan berat hati.

Kehidupan Punya Dinamikanya Sendiri

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Hal ini tentu tidak terjadi sekali atau dua kali. Dalam dinamika kehidupan, hal itu pasti akan terus berulang. Sampai di satu titik, sang anak pun merasa, ibunya adalah orang yang sangat keras, mendidiknya, menjadikan anaknya harus tangguh dan memilih jalan yang dianggapnya "benar". Tentu, usia muda akan membuatnya tidak tahan akan hal tersebut sehingga selalu terjadi pergesekkan.

Sang anak pun tak mengerti, mengapa ibunya begitu keras. Di luar, orang melihat ibunya adalah sosok yang ramah dan lembut, tapi mengapa bagi dirinya ibunya adalah sosok sebaliknya.

Cinta datang terlambat. Ketika di satu masa, sang ibu berpulang. Hancur sudah semua mimpi dan harapan, yaitu untuk membahagiakan sang ibu dengan 'caranya' sendiri. Sesal tentu ada, mengapa hari-harinya dipenuhi perdebatan.

Lambat laun, sang anak pun bangkit dari kesedihan. Ia berjuang seorang diri ditengah kerasnya hidup. Bertahan di tengah hiruk pikuk ibukota. Ia tak pernah menyadari, bahwa ia bisa berhasil mengatasi semuanya karena sesungguhnya ia sudah terlatih.

Sang ibu sudah membentuknya dengan 'keras'. Tanpa disadari kerasnya itu adalah bentuk cinta dan kasih sayang yang tahu bahwa suatu hari nanti, di saat ibunya sudah tiada, anaknya harus bisa berdiri dengan badannya sendiri, berjalan dengan kaki sendiri, dan menggapai dengan tanggannya sendiri.

Satu hal yang paling diingat oleh sang anak adalah senyuman sang ibu. Di balik senyumnya tersimpan rasa letih, rasa cemas, semangat, dukungan, doa, dan cinta untuk sang anak dari sejak ia dilahirkan sampai ia harus pergi meninggalkannya.

"Terima kasih ibu, senyummu akan selalu ku kenang, semangatmu akan menjadi semangatku kini dan selamanya."

#ChangeMaker