Kadar Karbondioksida Bumi Capai Level Tertinggi dalam Sejarah, Ini Dampaknya

Merdeka.com - Merdeka.com - Kandungan karbondioksida (CO2) di atmosfer Bumi pada Mei lalu mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, sekitar 50 persen lebih tinggi dari zaman pra-industri. Angka itu artinya belum pernah terjadi di Bumi selama empat juta tahun, kata badan iklim Amerika Serikat Jumat lalu.

Kadar karbondioksida di atmosfer sudah melewati ambang batas 420 pertikel per satu juta (ppm), kata Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA). PPM adalah satuan ukuran untuk mengukur jumlah polusi di atmosfer.

Mei lalu angkanya mencapai 419 ppm dan pada 2020 417 ppm.

Pemanasan global disebabkan oleh ulah manusia, terutama produksi listrik yang menggunakan bahan bakar fosil, transportasi, produksi semen, dan bahkan penggundulan hutan. Semua itu menjadi penyebab utama meningkatkan kadar CO2, kata NOAA, seperti dilansir laman Aljazeera, Jumat (4/6).

CO2 adalah efek rumah kaca yang memerangkap panas bumi di dalam atmosfer hingga secara bertahap menimbulkan pemanasan global. Karbondioksida itu hingga kini masih berada di atmosfer dan lautan selama ribuan tahun.

Dampak pemanasan global, kata NOAA, termasuk munculnya gelombang panas, kekeringan, kebakaran atau banjir.

"Karbondioksida berada pada level yang belum pernah kita alamai sebelumnya--ini memang bukan hal baru," kata Pieter Tans, ilmuwan Laboratorium Pemantauan Global di NOAA.

"Selama separuh abad kita sudah tahu ini akan terjadi dan gagal melakukan tindakan berarti. Apa lagi yang bisa membuat kita tergerak?"

Pengukuran kadar CO2 ini dilakukan di Observatorium Mauna Loa di Hawaii yang terletak di pegunungan.

Sebelum era Revolusi Industri, kadar CO2 bertahan di angka sekitar 280 ppm, angka itu mampu dipertahankan selama 6.000 tahun peradaban manusia sebelum masa industrialiasi, kata NOAA.

Kandungan CO2 saat ini setara dengan apa yang terjadi antara 4,1 -4,5 juta tahun lalu ketika kadar CO2 mencapai hampir atau di atas 400 ppm, ujar NOAA.

Pada masa itu tinggi permukaan laut mencapai lima hingga 25 meter dibanding sekarang, cukup tinggi untuk menenggelamkan banyak kota besar. Hutan belantara juga masih luas di Artik, kata penelitian.

"Sains itu tidak terbantahkan: manusia mengubah iklim sehingga membuat ekonomi dan infrastruktur kita harus beradaptasi," kata Direktur NOAA Rick Spinrad dalam situs resmi. [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel