Kadin Jatim tawarkan investasi agrobisnis kepada Jepang

Kelik Dewanto

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Jawa Timur menawarkan kerja sama investasi agrobisnis kepada Jepang di tengah normal baru, sebagai upaya membangkitkan kembali ekonomi daerah yang terpuruk akibat COVID-19.

"Kami menawarkan kepada mereka berinvestasi di sektor agrobisnis. Sebelumnya Jepang kebanyakan berinvestasi di manufaktur, maka dengan adanya COVID-19 kami ajak mereka untuk merambah ke sektor agrobisnis karena lebih potensial," kata Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto di Surabaya, Jatim, Sabtu.

Baca juga: Kadin Jatim dorong pengusaha perkuat protokol COVID-19

Ia mengatakan untuk saat ini salah satu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Jatim adalah sektor agrobisnis dan Jepang memiliki teknologi yang bisa diterapkan dalam pengembangan sektor agrobisnis tersebut.

Adik mengakui COVID-19 bukanlah halangan untuk terus berusaha menarik investor, karena masih banyak investor melirik dan berkeinginan untuk menanamkan investasinya di Jatim, terlebih dengan besarnya pasar dalam negeri.

Hanya saja, Adik berharap, ada komitmen dari pemerintah untuk mempermudah masuknya investasi, mulai dari kemudahan dan kecepatan perizinan hingga kemudahan yang lain.

"Misalnya perizinan IMB masih lama, amdal masih lama dan berbelit. Tambang juga masih lama. Karena harapan saya setelah pandemi ini Perpres 80/2019 bisa langsung jalan. Karena dalam perpres ini ada infrastruktur dan agrobisnis. Target 2021 awal bisa langsung jalan. Sekarang kita mulai menarik investor dan buktinya masih ada investor yang berminat untuk berinvestasi di Jatim," katanya.

Sementara Konsul Jenderal Jepang di Surabaya, Tani Masaki mengakui pihaknya sangat tertarik dan akan mempelajari serta mempertimbangkan investasi agrobisnis di Jatim.

Ia akan terus berkoordinasi dengan para investor Jepang dan juga Kadin Jatim agar keinginan kedua belah pihak bisa terealisasi dengan mudah dan lancar.

"Sebenarnya sejumlah investor Jepang sangat berminat di Indonesia dan Jatim, tetapi ada beberapa kendala sehingga ini harus diatasi bersama. Indonesia akan menjadi tempat yang sangat menarik bagi investor luar negeri karena penduduknya sangat besar, tanah luas dan sumber alam juga beragam," ujar Masaki.

Ia mengatakan sejumlah perusahaan Jepang di Jatim kini tetap bisa bertahan dan tidak ada yang tutup, walaupun produksi mengalami penurunan akibat merebaknya pandemi COVID-19 di seluruh dunia.

"Mereka kini masih bertahan dan menginginkan untuk tetap berada di Jatim. Ada sekitar 150 perusahaan dari Jepang yang ada dan masih tetap berproduksi," kata Masaki menjelaskan.

Baca juga: Kadin lakukan pemetaan persoalan yang membelit investasi di Jatim