Kadin: Pengembang Dituding Penyebab Banjir Persepsi Keliru

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    Merdeka.com
    Akhir 2014 Wika mulai garap proyek keluarga pendiri Al-Qaidah

    MERDEKA.COM. PT. Wijaya Karya (Wika) Tbk tengah bersiap mengerjakan proyek pembangunan hotel berbintang di kawasan Masjidil Haram, Arab Saudi.Wika menjadi sub kontraktor dari kontraktor besar Timur Tengah, Bin Ladin Group yang merupakan keluarga pendiri Al-Qaidah. …

Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menolak pendapat sejumlah pihak yang menyatakan bahwa penyebab banjir di berbagai daerah termasuk DKI Jakarta adalah disebabkan proses pembangunan yang dilakukan oleh pengembang.

"Kami masih menghadapi beberapa masalah yang sesungguhnya bukan hal baru lagi, antara lain adanya persepsi atau citra yang keliru selama ini seolah-olah pengembang menjadi penyebab bencana-bencana antara lain banjir," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti dan Kawasan Industri, Trihatma K Haliman di Jakarta, Selasa.

Menurut Trihatma, hal tersebut harus diluruskan dan juga menyatakan bahwa kalangan pebisnis pengembang juga siap untuk menghadapi audit lingkungan terhadap proyek yang mereka kerjakan.

Ia mencontohkan, perusahaannya juga sudah bekerja sama dengan Pusat Studi Lingkungan Hidup Institut Teknologi Bandung (PSLH ITB) dan sedang melaksanakan audit lingkungan terhadap berbagai proyek yang sudah, sedang, dan akan dikerjakan.

Sebelumnya, Kadin telah mengusulkan kepada pemerintah sejumlah langkah antisipatif di sektor kelautan dan perikanan dalam menghadapi dampak banjir.

"Bencana banjir yang kerap mengganggu kinerja dan produktivitas nelayan. Kadin mengusulkan beberapa langkah antisipasi yang dapat dilakukan pemerintah bersama dengan kalangan dunia usaha," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto, Jumat.

Yugi memaparkan, langkah antisipatif tersebut antara lain adalah memastikan seluruh program infrastruktur pemerintah yang terkait dengan sektor perikanan dan kelautan segera diwujudkan seperti penyediaan akses dari dan ke pelabuhan ikan di seluruh Indonesia secara memadai.


Hal itu, lanjutnya, mengingat akses tersebut akan dilalui oleh truk-truk dan kontainer bermuatan besar, bagi keperluan pengiriman ikan.

"Dengan tersedianya infrastruktur memadai, maka dampak banjir dapat diminimalisasi terhadap kinerja perikanan nasional," katanya.

Sementara itu, pakar hidrologi dari Universitas Indonesia Firdaus Ali mengatakan kerugian akibat banjir di wilayah DKI Jakarta akan semakin besar jika tidak segera diatasi.

"Jika tidak diatasi, kerugian akibat banjir akan semakin besar di atas Rp10 triliun setiap tahunnya," ujar Firdaus dalam acara pemaparan mengenai terowongan multifungsi di Jakarta, Jumat (15/2).

Ia memaparkan, kerugian akibat banjir sepanjang banjir besar pada tahun 2002, 2007, dan 2013 mencapai Rp38,7 triliun. Dengan perincian kerugian akibat banjir di Jakarta pada tahun 2002 mencapai Rp9,9 triliun, kemudian banjir 2007 mencapai Rp8,8 triliun dan banjir 2013 mencapai Rp20 triliun.(tp)


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...

Artikel Bisnis Terpopuler

POLL

Apakah kandidat nama cawapres Jokowi yang beredar sekarang sudah sesuai dengan harapan Anda?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat