Kadin: Ramadhan-Idul Fitri jadi penggerak pertumbuhan ekonomi

·Bacaan 2 menit

​​​​​Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid menyatakan, bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri bisa menjadi salah satu faktor pemicu pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal II 2021.

“Momen Ramadhan dan Idul Fitri selalu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2021, masyarakat menyambut Idul Fitri lebih antusias, dibandingkan tahun 2020. Saya yakin pertumbuhan ekonomi yang positif pada kuartal II tahun ini akan terwujud,” kata Arsjad dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Ia mengungkapkan, selain meningkatkan konsumsi masyarakat, Ramadhan dan Idul Fitri juga mendorong pertumbuhan penggunaan sarana informasi, telekomunikasi, kesehatan dan pertanian.

Baca juga: Asperindo optimis Harbolnas Ramadhan bisa pulihkan ekonomi nasional

Selama Ramadhan, masyarakat cukup patuh menjalankan protokol kesehatan yang diterapkan pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19. Ditambah lagi, pemerintah juga menerapkan kebijakan yang memicu peningkatan konsumsi dan produktivitas, di antaranya peningkatan penyaluran likuiditas bagi sektor riil, penurunan suku bunga pinjaman korporasi, dan meningkatkan kinerja ekspor.

“Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri juga memicu kenaikan omzet penjualan. Permintaan konsumen yang terus bertambah mendorong peningkatan produksi dan omzet penjualan. Ini berarti terjadi perputaran uang yang cukup besar sehingga menimbulkan efek domino. Ditambah lagi banyaknya program diskon yang ditawarkan pelaku usaha. Ini menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi kita,” ujarnya.

Arsjad yang merupakan Calon Ketua Umum Kadin Indonesia periode 2021-2026 ini juga sependapat dengan pernyataan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang menyebutkan bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut dan menunjukkan tren kenaikan pada kuartal II 2021.

Baca juga: Industri makanan-minuman harap pemulihan pada Ramadhan-Lebaran 2021

Pemulihan tersebut tercermin pada sejumlah indikator, di antaranya PMI Manufaktur yang mencapai 54,6 dan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mendekati angka normal yaitu antara 90-100.

“Saya sependapat dengan Menko Perekonomian Pak Airlangga Hartarto bahwa perekonomian nasional akan tumbuh berdasarkan V-curve. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan memasuki jalur positif dan diperkirakan bisa mencapai 7 persen,” ujarnya.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera telah mendekati arah positif, yaitu minus 0,86 persen, Pulau Jawa minus 0,83 persen, dan Pulau Kalimantan minus 2,23 persen. Sementara itu, sebagian wilayah Kawasan Tengah dan Timur Indonesia telah bertumbuh positif. Pertumbuhan ekonomi di Pulau Sulawesi positif 1,2 persen, Maluku dan Papua 8,97 persen.