Kadin Ungkap Peluang Besar Tren Produk Halal bagi Indonesia

Fikri Halim, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengungkap peluang besar produk halal yang mulai menjadi tren di berbagai penjuru dunia.

Wakil Ketua Umum Kadin, Benny Soetrisno mengatakan, produk-produk halal ini memiliki daya tarik yang berbeda. Terutama produk kesehatan yang dinilai mampu menarik minat konsumen global.

Bahkan, lanjut dia, tidak hanya untuk konsumen produk halal di negara-negara muslim. Melainkan, juga dari konsumen di negara-negara nonmuslim yang menjadi pangsa pasarnya.

"Karena kalau kita lihat, di negara yang nonmuslim saja, mereka sudah sangat fokus dan menjual barang halal sebagai suatu produk yang mempunyai perbedaan dibandingkan dengan yang nonhalal jika dilihat dari sisi kesehatan," kata Benny dalam telekonferensi, Rabu 4 November 2020.

Baca juga: Subsidi Termin II Cair Akhir Pekan Ini

Karena itu, Benny berharap bahwa Indonesia sebagai negara yang populasi muslimnya besar jangan sampai melewatkan peluang berharga di tataran global ini. Apalagi, Indonesia juga sudah memiliki undang-undang soal produk halal.

Sebab, produk-produk halal yang sedang tren dan booming di mancanegara itu, nyatanya memang menawarkan sejumlah keuntungan tersendiri bagi daya saing produk halal yang ditawarkan dibanding produk nonhalal yang menjadi kompetitornya.

"Sehingga kita kalau berjualan di tempat atau negara yang nonmuslim pun, (produk halal) itu merupakan diferensiasi produk, sehingga tentu akan ada juga diferensiasi harga," ujarnya.

Karenanya, Benny berpendapat bahwa pemanfaatan potensi pasar bagi produk halal di tingkat global itu, harus dikembangkan tidak hanya bagi segmen tertentu. Melainkan harus ke semua segmen, termasuk ritel.

"Maka marilah kita membuat suatu ritel yang halal. Karena sektor ritel itu kalau ibarat sebuah pohon, maka akarnya itu sampai akar serabut," kata Benny.

"Mereka ada mulai dari ibu kota, kabupaten/kota, provinsi, kotamadya, bahkan sampai ke desa-desa, semuanya adalah peritel. Jadi budaya kita adalah budaya ritel sebenarnya," tuturnya. (art)