Kafalah adalah Jaminan dalam Hukum Islam, Kenali Syarat dan Jenisnya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Kafalah adalah salah satu hukum yang berlaku dalam Islam. Kafalah adalah aktivitas yang melibatkan akad atau perjanjian dari satu pihak ke pihak lain yang disepakati bersama. Melalui kafalah, seseorang bisa memberi jaminan pada orang lain.

Kafalah adalah hukum yang berkaitan dengan penjaminan. Dalam praktiknya, kafalah adalah hukum yang dijalankan dengan rukun dan syarat tertentu. Kafalah adalah hukum yang telah ditentukan dalam syariat Islam.

Kafalah adalah syariat yang didukung oleh Al Qur'an dan hadis. Hukum kafalah adalah hukum yang perlu diketahui setiap umat islam. Berikut pengertian tentang kafalah, syarat, rukun, dan jenisnya, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu(03/11/2021).

Arti kafalah

Ilustrasi Muslimah Credit: freepik.com
Ilustrasi Muslimah Credit: freepik.com

Kafalah atau Al-kafalah menurut bahasa berarti al-Dhaman (jaminan), hamalah (beban), dan za‟mah (tanggungan). Menurut istilah, kafalah adalah upaya menyatukan tanggung jawab penjamin kepada orang yang dijamin dalam suatu perjanjian untuk menunaikan hak wajib, baik di waktu itu atau yang akan datang.

Menurut etimologinya, kafalah berarti al dhamma yang artinya menggabungkan tanggung jawab dalam suatu hal. Kafalah berarti beban apabila dikaitkan dengan diyat atau denda. Kafalah adalah tanggungan jika berkaitan dengan harta. Kafalah juga berarti penjaminan jika dikaitkan dengan jiwa.

Pengertian kafalah

Ilustrasi Muslimah Credit: freepik
Ilustrasi Muslimah Credit: freepik

Kafalah adalah jaminan pinjaman dan semua pinjaman harus dilunasi pada waktunya menurut hukum Islam. Kafalah berarti mengalihkan tanggung jawab seseorang yang dijamin dengan berpegang pada tanggung jawab orang lain sebagai penjamin.

Menurut syariah, kafalah adalah suatu tindak penggabungan tanggungan orang yang menanggung dengan tanggungan penanggung utama terkait tuntutan yang berhubungan dengan jiwa, hutang, barang, atau pekerjaan.

Ketentuan umum kafalah

Ilustrasi Muslimah Credit: freepik.com
Ilustrasi Muslimah Credit: freepik.com

Mengutip Fatwa MUI tentan kafalah, ketentuan umum kafalah meliputi:

1. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).

2. Dalam akad kafalah, penjamin dapat menerima imbalan (fee) sepanjang tidak memberatkan.

3. Kafalah dengan imbalan bersifat mengikat dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak.

4. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Rukun dan syarat Kafalah

Ilustrasi Hukuman (Sumber Foto: Pexels)
Ilustrasi Hukuman (Sumber Foto: Pexels)

Pihak penjamin

Pihak penjamin atau Kafiil harus memenuhi syarat untuk bisa melakukan kafalah. Syarat ini seperti harus balig dan berakal sehat. Penjamin juga berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.

Pihak yang berutang

Orang yang berutang atau Ashiil, Makfuul ‘anhu harus sanggup menyerahkan tanggungannya (piutang) kepada penjamin. Pihak ini juga harus dikenal oleh penjamin.

Pihak yang berpiutang

Orang yang berpiutang atau Makfuul Lahu harus diketahui identitasnya. Ia harus bisa hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa. Makfuul Lahu juga harus berakal sehat.

Objek penjaminan

Objek penjaminan atau Makful Bihi merupakan tanggungan pihak/orang yang berutang, baik berupa uang, benda, maupun pekerjaan. Objek penjaminan bisa dilaksanakan oleh penjamin. Objek ini juga harus merupakan piutang mengikat (lazim), yang tidak mungkin hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan. Objek harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya serta tidak bertentangan dengan syari’ah (diharamkan).

Macam kafalah

Ilustrasi Muslim - Image by İbrahim Mücahit Yıldız from Pixabay
Ilustrasi Muslim - Image by İbrahim Mücahit Yıldız from Pixabay

Kafalah bi al-maal

Kafalah bi al-maal adalah jaminan pembayaran barang atau pelunasan utang. Bentuk kafalah ini merupakan sarana yang paling luas bagi bank untuk memberikan jaminan kepada para nasabahnya dengan imbalan/fee tertentu.

Kafalah bin al-nafs

Kafalah bin al-nafs adalah jaminan diri dari si penjamin. Dalam hal ini, bank dapat bertindak sebagai Juridical Personality yang dapat memberikan jaminan untuk tujuan tertentu.

Kafalah bit al-taslim

Kafalah bit al-taslim adalah jaminan yang diberikan untuk menjamin pengembalian barang sewaan pada saat masa sewanya berakhir. Jenis pemberian jaminan ini dapat dilaksanakan oleh bank untuk keperluan nasabahnya dalam bentuk kerjasama dengan perusahaan. Jaminan pembayaran bagi bank dapat berupa deposito/tabungan, dan pihak bank diperbolehkan memungut uang jasa/fee kepada nasabah tersebut.

Kafalah al-munjazah

Kafalah al-munjazah adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh waktu tertentu dan untuk tujuan/kepentingan tertentu. Dalam dunia perbankan, kafalah model ini dikenal dengan bentuk performance bond (jaminan prestasi).

Dasar hukum kafalah

Ilustrasi Muslim - Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay
Ilustrasi Muslim - Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay

Mengutip Fatwa MUI tentan kafalah, berikut dasar hukum kafalah berdasarkan Al Quran dan hadis:

Firman Allah dalam QS. Yusuf [12]: 72

Penyeru-penyeru itu berseru: ‘Kami kehilangan piala Raja; dan barang siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya.

Firman Allah QS. al-Ma’idah [5]: 2

Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran.

Hadis Nabi riwayat Bukhari

“Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Rasulullah saw bertanya, ‘Apakah ia mempunyai utang?’ Sahabat menjawab, ‘Tidak’. Maka, beliau mensalatkannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, ‘Apakah ia mempunyai utang?’ Sahabat menjawab, ‘Ya’. Rasulullah berkata, ‘Salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu Abu Qatadah berkata, ‘Saya menjamin utangnya, ya Rasulullah’. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari dari Salamah bin Akwa’).

Sabda Rasulullah SAW

Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya.

Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari ‘Amr bin ‘Auf

Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

Kaidah fiqh

“Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”

“Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.”

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel