Kain songket Lombok Tengah di antara budaya dan agama

Indonesia memang terkenal dengan kekayaan budaya, suku dan toleransi beragama yang tinggi. Keberadaan suku bangsa tersebut juga mempengaruhi keragaman budaya yang mengakibatkan budaya di setiap daerah berbeda.

Tidak heran setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri khas yang menjadi daya tarik tersendiri, seperti halnya Desa Sukarara yang memiliki daya tarik dengan wisata budaya tenun kain songket.

Songket merupakan kain yang ditenun dari benang emas atau perak menggunakan alat tenun tradisional dari kayu.

Kain tenun ini sudah ada sejak Tahun 1832 di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Para wanita menjadikan kegiatan menenun sebagai warisan budaya nenek moyang yang dilestarikan turun temurun sampai saat ini.

Tradisi ini dimanfaatkan sebagai salah satu identitas atau potensi yang dimiliki Desa Sukarara. Dengan adanya potensi ini dapat membantu meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada di desa tersebut.

Pada awalnya menenun dilakukan sebagai kegiatan sampingan untuk mengisi waktu luang. Namun, saat ini kegiatan menenun bisa menjadi sarana mata pencaharian, terutama pada kaum hawa, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, peminat kain songket Desa Sukarara bertambah, sehingga pemerintah daerah setempat telah membuat sebuah kegiatan tahunan khusus untuk kegiatan menenun ini.

Kegiatan tahunan tersebut bernama "Begawe Jelo Nyensek" (Acara perayaan tenun), dimana hari itu para penenun yang ada di Desa Sukarara melakukan kegiatan menenun bersama di sepanjang jalan Desa Sukarara. Hal ini membuktikan bahwa kain songket memiliki nilai komersial yang cukup tinggi.

Umumnya, para penenun mulai melatih anak-anak melakukan kegiatan itu dari umur 10 tahun dengan mengajarkan dasar-dasar menenun, sehingga saat tumbuh dewasa, perempuan-perempuan Desa Sukarara sudah bisa menenun.

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan tetap terjaganya kearifan lokal menenun dari leluhur mereka.

Menurut tradisi, seorang wanita yang belum bisa menenun belum bisa melangsungkan pernikahan karena syarat menikah wanita harus membawa tiga kain tenun songket buatannya sendiri, kain songket tersebut diberikan kepada mertua, suami dan dirinya sendiri.

Kegiatan menenun juga dilakukan untuk menghasilkan motif-motif yang indah. Motif-motif kain songket saat ini sangat bervariasi, ada banyak jenis motif kain songket yang dikembangkan.

Ada beberapa motif yang sangat dikenal masyarakat Desa Sukarara, di antaranya adalah motif wayang, subahnale (subhanallah), keker atau merak, bintang empat dan alang atau lumbung.

Penerapan motif-motif tersebut tidak hanya sekadar diaplikasikan sebagai penghias kain melainkan juga memiliki makna tertentu. Motif Wayang memiliki makna atau mencerminkan sikap saling menghormati dan menghargai. Motif Subahnale memiliki makna yang Maha Esa atau Maha Kuasa.

Motif Keker atau Merak merupakan motif yang melambangkan cinta suci yang abadi. Motif Bintang Empat memiliki makna sebagai simbol arah mata angin untuk menentukan penanggalan. Motif Alang atau Lumbung memiliki makna tertentu, yakni dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran.

Makna-makna yang terdapat dalam motif kain songket Sukarara akan dideskripsikan berdasarkan pada bentuk dan pandangan hidup masyarakat Suku Sasak, khususnya masyarakat Desa Sukarara.

Kain songket dapat digunakan dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari upacara keagamaan hingga upacara perkawinan. Dengan kata lain, kain songket Desa Sukarara bisa digunakan di setiap kegiatan adat Suku Sasak.

Dari segi agama, masyarakat Suku Sasak mayoritas beragama Islam. Karena itu nilai-nilai Islam banyak mempengaruhi sebagian besar kehidupan sehari-hari masyarakat. Misalnya, masyarakat Suku Sasak membentuk kelompok-kelompok tertentu untuk melakukan kegiatan ibadah, seperti ngaji bersama, membaca wirid (zikir), selawat, dan lain sebagainya.

Kegiatan tersebut merupakan salah satu contoh pengaruh Islam dalam masyarakat yang merupakan tradisi masyarakat Suku Sasak.

Salah satu motif songket yang kaitannya sangat erat dengan keagamaan adalah motif Subahnale karena selama proses pembuatannya, penenun selalu mengingat tentang keberadaan Tuhan yang Maha Kuasa.

Motif Subahnale memiliki tingkat kerumitan tertinggi, sehingga para penenun harus bersabar dan selalu berserah diri kepada Tuhan agar proses pembuatan songket Subahnale ini berjalan lancar. Setelah kain tenun songket motif Subahnale selesai, penenun akan menyebut kata Subhanallah atau dalam dialek Sasak di sebut Subahnale.

Kain songket pertama kali digunakan oleh Raja Panji Sukerara dan Dinde Terong Kuning. Kain songket yang digunakan adalah kain songket dengan motif Subahnale. Pada saat itu, kain songket tersebut digunakan untuk menambah kewibawaan sang raja. Sejak saat itulah kain songket ini digunakan sebagai pakaian adat.

Selain itu, keguyuban dan toleransi beragama di Desa Sukarara sangat tinggi. Setiap ada warga sekitar yang meninggal dunia, maka selama sembilan hari penuh penenun tidak melakukan kegiatan menenun. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menghargai keluarga duka yang ditinggalkan.

Wisata tenun Desa Sukarara sudah eksis sejak dahulu, apalagi saat ini Indonesia, khususnya Lombok, menjadi tuan rumah dalam ajang World Superbike (WSBK) di Sirkuit Mandalika pada 11-13 November 2022 sehingga dapat meningkatkan potensi wisatawan yang berkunjung ke Desa Sukarara.

Wisatawan yang berkunjung akan disuguhi pengalaman belajar untuk menenun dan dapat melihat proses dibuatnya kain songket. Wisatawan juga berkesempatan untuk memakai pakaian adat yang dilengkapi dengan kain tenun Sukarara sambil mengabadikan momen dengan berfoto di rumah adat yang sudah disediakan

Kain tenun Sukarara memang tidak dijual di tempat lain. Hal tersebut menjadi upaya dalam menarik wisatawan untuk berkunjung ke desa tersebut.

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sendiri menggelar kegiatan peragaan busana untuk mempromosikan produksi kerajinan kain tenun lokal jelang ajang World Superbike (WSBK) di Sirkuit Pertamina Mandalika Lombok, The Mandalika pada 2021.

Ketua panitia fashion show Dekranasda Lombok Tengah Baiq Rahmayati Firman, menyebutkan tema yang diangkat pada acara ini adalah "sehelai benang sejuta cerita merajut asa menuju Lombok Tengah Bersatu Jaya".

"Pesan yang disampaikan yakni selembar kain yang indah dilihat adalah hasil karya tangan-tangan terampil masyarakat," katanya.

Dalam proses pembuatan kain tenun itu membutuhkan ketekunan dan kesabaran, karena helai demi helai benang di tenun menjadi selembar kain yang berwarna warni dengan motif yang indah dan didalamnya menyimpan banyak cerita atau filosofi.

"Itulah upaya yang dilakukan Lombok Tengah untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di masa pandemi COVID-19," katanya.

Dikatakan, tujuan lain dari kegiatan ini adalah untuk menyampaikan kepada pemerintah dan masyarakat serta wisatawan, bahwa tenun songket tidak hanya bisa dipakai sebagai baju adat. Namun, kain tenun songket juga bisa dijadikan pakaian kerja maupun acara resmi lainnya.

"Nilai jual kain tenun akan lebih meningkat dan pertumbuhan ekonomi masyarakat lebih maju," katanya.